Kalimantan Barat

Di Tengah Efisiensi Anggaran, Semangat “Bececat” dan Gotong Royong Gerakkan Pembangunan Jalan Pelang– Kepuluk (Sungai Kulan)

×

Di Tengah Efisiensi Anggaran, Semangat “Bececat” dan Gotong Royong Gerakkan Pembangunan Jalan Pelang– Kepuluk (Sungai Kulan)

Sebarkan artikel ini

Di Tengah Efisiensi Anggaran, Semangat “Bececat” dan Gotong Royong Gerakkan Pembangunan Jalan Pelang– Kepuluk (Sungai Kulan)

KETAPANG, Detik Reportase.com kalbar – Di tengah dinamika fiskal nasional yang menuntut ketelitian lebih tinggi, Kabupaten Ketapang membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan untuk berhenti bergerak. Meskipun terjadi efisiensi anggaran dari pusat yang mencapai Rp500 miliar, semangat untuk membangun daerah justru semakin membara dengan menghidupkan kembali kearifan lokal: gotong royong.

Visi “Pembangunan Berkeadilan untuk Kabupaten Ketapang Maju dan Mandiri” kini diterjemahkan melalui kolaborasi nyata antara Pemerintah Daerah dan dunia usaha. Pola ini menjadi bukti bahwa ketika negara dan swasta bergandengan tangan, keterbatasan dana dapat disiasati dengan kekuatan kebersamaan dan inovasi.

Fakta Lapangan: Meninjau Langsung Ruas Vital

Komitmen ini bukan sekadar wacana di atas kertas. Bukti nyatanya terlihat saat Bupati Ketapang turun langsung ke lapangan meninjau kondisi jalan Pelang–Kepuluk. Kunjungan ini menegaskan prioritas penanganan infrastruktur di wilayah yang menjadi urat nadi perekonomian warga.

Hasil tinjauan lapangan tersebut melahirkan rencana aksi yang konkret dan terukur untuk tahun 2026:

# Ruas Pelang–Kepuluk (Konstruksi Tiang Pancang):
Menghadapi tantangan tanah gambut dalam, pembangunan tidak bisa dilakukan sembarangan. Tahun 2026, konstruksi akan dilanjutkan menggunakan metode tiang pancang bersumber dari Dana APBD. Titik start pengerjaan ditetapkan mulai dari ujung beton Kafe Merah, sebuah lokasi kritis yang merupakan area gambut dalam. Saat ini, proses tender untuk proyek strategis ini sedang berjalan.

## Ruas Kepuluk–Batu Tajam (Pengaspalan & Penanganan Kerusakan):
Untuk ruas ini, fokusnya adalah peningkatan kualitas jalan berupa pengaspalan yang dimulai dari Jembatan Kepuluk arah Sungai Kulan. Langkah ini diambil merespons kondisi jalan yang sudah banyak berlubang dalam. Selain pengaspalan, penanganan intensif juga akan dilakukan pada beberapa titik kerusakan parah di sekitar wilayah Pengatapan dan Batu Tajam.

Filosofi “Bececat”: Bergerak Bertahap, Pasti Menuju Tujuan

Dalam eksekusi pembangunan ini, masyarakat dan pemerintah memegang teguh filosofi “Bececat”. Dalam konteks ini, bececat mencerminkan sikap bertahap-tahap namun konsisten. Pembangunan tidak dipaksakan selesai dalam semalam, melainkan dikerjakan jengkal demi jengkal—mulai dari tender, penancapan tiang pancang di Kafe Merah, hingga pengaspalan di Pengatapan—dengan kualitas terbaik. Setiap langkah adalah upaya pasti memastikan infrastruktur yang dibangun awet menjadi warisan bagi anak cucu.

Sinergi Mengatasi Efisiensi Anggaran
Efisiensi anggaran sebesar Rp500 miliar dari pusat ternyata tidak menyurutkan nyali. Sebaliknya, hal ini memicu kreativitas baru dalam bentuk gotong royong modern. Pemerintah Daerah membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi dunia usaha untuk turut serta dalam percepatan infrastruktur, melengkapi alokasi APBD yang ada.

Dampak dari sinergi dan kerja keras bertahap ini sangat terasa:

* Ekonomi Warga Terdongkrak: Distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah pedalaman menjadi lebih lancar, memangkas biaya logistik yang selama ini membebani petani.

** Akses Layanan Dasar Terbuka: Anak-anak sekolah dan warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat dapat melintas dengan lebih aman, terlepas dari kondisi cuaca atau musim hujan.

*** Rasa Keadilan Tumbuh: Warga di pelosok seperti di sekitar Sungai Kulan dan Batu Tajam merasakan kehadiran pemerintah. Mereka yakin bahwa visi “Pembangunan Berkeadilan” benar-benar menyentuh kehidupan mereka.

Harapan Lewat Kolaborasi Menuju Ketapang Maju dan Mandiri

Pembangunan di Ketapang saat ini bukan lagi sekadar urusan proyek fisik, melainkan sebuah gerakan moral. Ia mengajarkan bahwa di tengah efisiensi global, nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan ketekunan (bececat) adalah modal terbesar yang tak ternilai harganya.

“Kami mungkin bekerja dengan anggaran yang lebih ketat, tetapi semangat kami tidak pernah surut. Bersama dunia usaha dan masyarakat, kita menenun keadilan dari pinggiran, satu tahap demi satu tahap,” demikian semangat yang terus digaungkan.

Melalui pola kolaboratif ini, Kabupaten Ketapang terus melangkah maju—menuju kemandirian sejati dan kehidupan masyarakat yang semakin layak.

Reporter Slamet
Detik Reportase com kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250