JakartaPeristiwa

Peringati Hari Tani dan Semanggi II, 73 Aksi Digelar di Jakarta, 26.386 Personel Dikerahkan dan BEM UI Kenakan Hitam

×

Peringati Hari Tani dan Semanggi II, 73 Aksi Digelar di Jakarta, 26.386 Personel Dikerahkan dan BEM UI Kenakan Hitam

Sebarkan artikel ini
Situasi pengamanan aparat gabungan saat aksi unjuk rasa buruh dan mahasiswa di Jakarta.
Aksi di jakarta, Sebanyak 26.386 personel gabungan dikerahkan untuk mengawal 73 aksi penyampaian pendapat yang digelar serentak di Jakarta pada Kamis, 24 September 2026.

Peringati Hari Tani dan Semanggi II, puluhan ribu buruh serta mahasiswa turun ke jalan di Jakarta

​JAKARTA — DETIKREPORTASE.COM | Ibu kota negara, Jakarta, disesaki oleh berbagai gelombang kegiatan penyampaian pendapat di muka umum bertepatan dengan momentum peringatan Hari Tani Nasional serta Tragedi Semanggi II pada Kamis, 24 September 2026. Dalam konteks aksi mahasiswa, tanggal krusial ini sekaligus digunakan untuk mengenang kembali almarhum Yap Yun Hap, seorang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang gugur dalam peristiwa bersejarah Semanggi II pada tahun 1999 silam.

​Polda Metro Jaya mencatat adanya lonjakan aktivitas masyarakat di wilayah hukumnya dan kawasan penyangga pada hari yang sama. Dari total 99 kegiatan masyarakat yang terpantau, sebanyak 73 kegiatan murni berupa unjuk rasa dan penyampaian pendapat di muka umum, sementara 26 kegiatan lainnya merupakan agenda kemasyarakatan biasa. Guna mengamankan jalannya seluruh rangkaian kegiatan agar tetap kondusif, sebanyak 26.386 personel gabungan yang terdiri dari unsur Kepolisian, TNI, Pemprov DKI Jakarta, hingga Pamdal DPR-MPR dikerahkan secara masif.

​Puluhan Ribu Buruh Kawal Isu Ketenagakerjaan di Jantung Ibu Kota

​Salah satu titik konsentrasi massa terbesar dalam aksi hari ini dimotori oleh Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI). Ribuan massa buruh bergerak long march dari kawasan Semanggi menuju Jalan MH Thamrin dan memusatkan aksi unjuk rasanya di depan gedung UOB Plaza. Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, sempat menyampaikan target pengerahan massa mencapai sekitar 50.000 buruh yang datang dari berbagai kawasan industri penyangga Jakarta.

​Dalam aksinya, elemen buruh membawa sejumlah tuntutan mendesak terkait proses pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan. Beberapa poin krusial yang disoroti mencakup persoalan sistem pengupahan yang adil, penolakan praktik outsourcing yang merugikan, regulasi pekerja kontrak, aturan pemagangan, perlindungan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga perlindungan bagi pekerja berbasis platform digital. Setelah menyampaikan aspirasinya secara bergantian melalui mobil komando, massa buruh akhirnya membubarkan diri secara tertib tanpa ada insiden berarti, menyusul komitmen pimpinan aksi yang memilih menjaga ketertiban umum dan tidak menerobos kawasan Bundaran HI.

​BEM UI Kenakan Busana Hitam Kenang Tragedi Semanggi II dan Yap Yun Hap

​Sementara itu, di lingkungan akademis, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memilih menggelar aksi refleksi simbolik di area Fakultas Teknik UI dengan menyerukan seluruh civitas akademika mengenakan pakaian serba hitam. Aksi ini menjadi bentuk duka cita mendalam sekaligus pengingat atas belum tuntasnya berbagai persoalan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

​Ketua BEM UI, Yathalatof Himawan, menjelaskan bahwa warna hitam sengaja dipilih sebagai simbol duka kolektif. Sosok utama yang dikenang dalam refleksi tersebut adalah Yap Yun Hap, mahasiswa Teknik Elektro FTUI angkatan 1996 yang menjadi korban jiwa dalam Tragedi Semanggi II tanggal 24 September 1999. Berbeda dengan aksi massa di jalan raya, agenda BEM UI difokuskan pada kegiatan orasi internal, mimbar bebas, dan refleksi sejarah di lingkungan kampus.

​Penempatan Personel Gabungan dan Rekayasa Lalu Lintas

​Untuk mengantisipasi potensi kemacetan dan gesekan di lapangan, Polda Metro Jaya memetakan penempatan personel secara strategis di sejumlah titik vital ibu kota. Tercatat sebanyak 4.020 personel disiagakan di kawasan Monas dan Silang Selatan, 4.051 personel mengamankan jalur mulai dari Bundaran HI, Dukuh Atas hingga Jalan MH Thamrin, serta 3.663 personel berjaga ketat di sekitar Kompleks Parlemen Gedung DPR/MPR RI.

​Selain pengamanan fisik, pihak kepolisian juga memberlakukan rekayasa arus lalu lintas secara situasional di sejumlah ruas jalan protokol yang terdampak rute pergerakan massa. Secara keseluruhan, dinamika aksi unjuk rasa pada 24 September 2026 ini mempertemukan berbagai spektrum kepentingan publik dalam satu hari yang sama—mulai dari isu kesejahteraan buruh, perlindungan ketenagakerjaan, hingga refleksi sejarah kelam bangsa oleh kaum intelektual muda.

​✍️ Reportase : Tim Redaksi DKI Jakarta | Editor : Redaksi | Jakarta.

​DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Informasi, Menyuarakan Kepentingan Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250