AgrariaRIAU

Suara Warga di Tengah Ribuan Massa: “Kami Ingin Ada Kejelasan

×

Suara Warga di Tengah Ribuan Massa: “Kami Ingin Ada Kejelasan

Sebarkan artikel ini
Perwakilan warga menyampaikan aspirasi di tengah ribuan massa aksi penuntutan kemitraan di Pelalawan.
Warga dari berbagai desa di Pelalawan menyuarakan harapan agar tuntutan kemitraan 20 persen segera mendapatkan kejelasan penyelesaian, Senin (5/10/2026).

​Jeritan hati warga  ditengah  lautan massa: tagih kejelasan hak kemitraan dan desak dialog terbuka.

​PELALAWAN — DETIKREPORTASE.COM | Di tengah riuhnya lautan ribuan massa yang memadati barisan aksi unjuk rasa di Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Senin (5/10/2026), suara-suara jujur dari akar rumput terus bergema. Aksi penuntutan kemitraan 20 persen dari Hak Guna Usaha (HGU) PT Serikat Putra ini bukan sekadar pengerahan massa di tiga titik strategis—Jalan Sialang Tombonsu Desa Angkasa, Jalan Simpang Maliki Desa Sialang Godang, hingga Jalan Simpang Tahu Desa Sialang Bungkuk—melainkan manifestasi dari kerinduan panjang akan keadilan.

​Di antara ribuan warga lintas kecamatan dari Bandar Petalangan, Bunut, dan Kerumutan tersebut, Syamsul (warga Sialang Kayu Batu) dan Zulkifli (warga Tambun) menyuarakan harapan senada: ketegasan, transparansi, dan ujung penyelesaian yang nyata.

​Suara Warga Menagih Tindak Lanjut Konkret

​Syamsul mengungkapkan bahwa kehadirannya bersama ribuan warga lainnya di lokasi aksi merupakan bentuk akumulasi dari berbagai persoalan agraria dan kemitraan yang telah bertahun-tahun menggantung tanpa kepastian hukum yang memadai.

​“Kami datang sebagai bagian dari masyarakat yang ingin menyampaikan apa yang selama ini menjadi harapan. Persoalan kemitraan 20 persen ini sudah cukup lama dibicarakan. Kami berharap ada tindak lanjut yang jelas setelah masyarakat menyampaikan aspirasi di lapangan,” ujar Syamsul di sela-sela aksi.

​Baginya, esensi perjuangan warga tidak bertujuan untuk memperkeruh suasana, melainkan mendorong adanya ruang dialog yang setara. Ia berharap pihak-pihak terkait, termasuk korporasi dan pemerintah, bersedia duduk bersama mendengarkan aspirasi masyarakat secara jernih.

​Senada dengan hal tersebut, Zulkifli menegaskan bahwa kehadiran ribuan massa di jalanan membawa satu nafas perjuangan yang sama, yakni menuntut kepastian atas hak-hak ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah terdampak.

​“Yang kami sampaikan ini hanya bagian dari suara masyarakat yang hadir hari ini. Ribuan masyarakat datang dengan harapan yang sama, yaitu ingin persoalan ini mendapatkan kejelasan dan penyelesaian,” tegas Zulkifli.

​Menanti Meja Perundingan Pemerintah dan Parlemen

​Gelombang aspirasi yang disuarakan oleh Syamsul, Zulkifli, serta ribuan warga Pelalawan kini telah beralih ke fase penentuan. Selepas aksi damai hari ini, seluruh mata dan telinga masyarakat tertuju pada langkah-langkah taktis berikutnya yang akan diambil oleh para pemangku kebijakan.

​Pemerintah Kabupaten Pelalawan dijadwalkan secara resmi untuk memfasilitasi agenda mediasi di Kantor Bupati Pelalawan pada Selasa, 6 Oktober 2026, yang akan mempertemukan perwakilan warga dengan pihak-pihak terkait. Di sisi lain, desakan agar persoalan ini turut dibawa ke ruang dengar pendapat DPRD Pelalawan juga menguat.

​Bagi warga yang hadir di garis depan perjuangan, harapannya sangat sederhana: jeritan hati ribuan rakyat tidak berhenti sekadar menjadi angin lalu di jalanan, melainkan bermuara pada solusi konkrit dan kejelasan hak yang telah lama dinantikan.

​✍ Reportase : Redaksi | Editor : Redaksi | Pelalawan – Riau.

​DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Informasi, Menyuarakan Kepentingan Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250