Refleksi dan InspirasiSulawesi Selatan

Memperingati Hari Asyura, Mengistimewakan Hari Kesepuluh dan Refleksi Diri

384
×

Memperingati Hari Asyura, Mengistimewakan Hari Kesepuluh dan Refleksi Diri

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rosdiana Hadi S.Sos

Hari Asyura, atau hari kesepuluh di bulan Muharram, adalah salah satu hari yang sangat dimuliakan dalam tradisi Islam. Kata “Asyura” berasal dari bahasa Arab yang berarti “sepuluh”, merujuk pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriyah. Beberapa ahli bahasa juga menyebut bahwa kata ini mungkin berasal dari serapan bahasa Ibrani, “Asyur”, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Arab klasik.

Momen ini menjadi refleksi penting bagi umat Islam dalam menyelami sejarah para nabi, memperdalam nilai pengorbanan dan kesetiaan, serta meneguhkan kembali spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi Asyura di Tengah Umat Sunni dan Syiah

Dalam sejarah Islam, terdapat dua arus besar yang memperingati Hari Asyura, yakni Islam Sunni dan Syiah. Keduanya memiliki pemaknaan yang berbeda namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.

Dalam tradisi Sunni, Asyura dikenang sebagai hari kemenangan para nabi. Riwayat mencatat bahwa pada hari ini Nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim selamat dari api Namrud, dan Nabi Nuh mendarat setelah banjir besar. Hal ini disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin oleh Sayyid Bakri Syatha. Namun, sebagian ulama seperti Imam Ibnu Jauzi juga mengkritisi keotentikan sebagian kisah tersebut, dan menekankan bahwa amalan utama adalah puasa.

Dalam tradisi Syiah, Asyura diperingati sebagai hari duka atas syahidnya cucu Rasulullah, Sayyidina Husein bin Ali, di Padang Karbala. Tragedi ini dipandang sebagai simbol perjuangan melawan tirani dan kezaliman. Umat Syiah biasanya memperingatinya dengan majlis duka, pembacaan puisi ratapan, dan penguatan kecintaan kepada keluarga Nabi.

Di Indonesia, kedua tradisi ini hadir berdampingan. Umat Sunni biasanya berpuasa Asyura dan membagikan Bubur Asyura sebagai simbol kebersamaan. Sementara komunitas Syiah mengadakan peringatan yang lebih bersifat reflektif dengan nuansa perjuangan spiritual.

Makna Ibadah di Hari Asyura dan Penegasan Ulama

Amalan yang paling ditekankan di hari Asyura adalah puasa sunnah. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu.” (HR. Muslim). Bahkan, dianjurkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) agar tidak menyerupai ibadah eksklusif kaum terdahulu.

Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memberikan kelonggaran nafkah kepada keluarga. Hal ini berdasarkan hadits: “Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun.” (HR. Al-Baihaqi). Meskipun sanad hadits ini diperdebatkan, sebagian ulama membolehkannya dalam konteks motivasi kebaikan.

Imam Al-Ajhuri, sebagaimana dikutip Sayyid Bakri Syatha, menegaskan bahwa tidak ada dasar kuat untuk amalan seperti bercelak, mengenakan pakaian baru, atau berhias secara khusus pada hari Asyura. Maka umat Islam diajak kembali pada esensi: menjadikan Asyura sebagai hari puasa, sedekah, dan introspeksi.

Refleksi dan Perlawanan terhadap Kezaliman

Asyura tidak hanya tentang ritual keagamaan, melainkan juga momentum untuk merefleksikan perjuangan melawan kezaliman sepanjang sejarah Islam. Dari Namrud melawan Nabi Ibrahim, Fir’aun melawan Nabi Musa, hingga Yazid melawan Sayyidina Husein — semuanya menyimpan pelajaran abadi bahwa kebenaran seringkali harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Momentum ini mengajak kita untuk jujur menilai diri. Apakah kita berpihak pada nilai kebenaran? Apakah kita diam terhadap ketidakadilan? Apakah kita cukup berani mempertahankan prinsip walau tidak populer?

Dengan cara ini, Hari Asyura menjadi ruang introspeksi kolektif. Bahwa setiap zaman punya tantangan dan setiap hati punya pilihan: tunduk pada kekuasaan yang zalim atau bertahan dalam iman meski harus berkorban.

Dalam konteks hari ini, kita bisa melihat kezaliman dalam bentuk-bentuk baru: korupsi, ketimpangan sosial, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Asyura mengajak kita menjadi bagian dari solusi, tidak hanya dengan demonstrasi fisik, tapi dengan komitmen moral untuk menjunjung nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi dan Doa di Hari Asyura

Di hari sepuluh, bulan pertama,
Langit dan bumi bersatu berdoa.
Asyura, nama yang penuh makna,
Rahmat dan ampunan tercurah di sana.

Dahulu Adam jatuh dari surga,
Bukan karena durhaka, tapi rindu yang membara.
Dalam sujudnya, air mata tertumpah,
Memohon cinta Ilahi tak berpaling arah.

Di Karbala darah tertumpah,
Imam Husain berdiri tegak menantang tirani.
Mewariskan keberanian dan cinta,
Simbol keadilan dalam setiap jiwa.

Kini kita berpuasa, bukan sekadar lapar,
Tapi menahan ego, dengki, dan amarah.
Asyura, pelajaran untuk setiap umat,
Menempa jiwa agar kembali pada fitrah.

Mari kita manfaatkan Hari Asyura sebagai momentum perubahan. Menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peduli. Menguatkan ibadah, memperbaiki hubungan sosial, serta meninggalkan segala bentuk kesombongan dan kedengkian.

Hari Asyura juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak doa: untuk keselamatan keluarga, untuk kebaikan umat Islam, untuk negeri yang damai, dan untuk hati yang lebih bersih. Dzikir, istighfar, dan shalawat menjadi amalan ringan yang bisa dilakukan di sela aktivitas harian.

Selamat memperingati 10 Muharram, Hari Asyura. Semoga Allah SWT menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba yang dekat kepada-Nya.

آمين يا رب العالمين.

DETIKREPORTASE.COM – Mengabarkan Kebaikan, Menyalakan Kesadaran Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250