Alih-alih fokus perbaikan layanan dasar di tengah krisis listrik, Dinkes Jeneponto dituding jadikan peringatan Harkesnas sekadar ajang seremoni.
JENEPONTO — DETIKREPORTASE.COM | Di balik kemeriahan peringatan Hari Kesehatan Nasional (Harkesnas), tersimpan ironi mendalam dalam tata kelola pelayanan kesehatan di Kabupaten Jeneponto. Fasilitas kesehatan tingkat pertama yang semestinya menjadi garda terdepan penanganan darurat masyarakat justru disorot tajam akibat buruknya kondisi sarana dan prasarana penunjang medis.
Ketua Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Jeneponto, Zainal, melontarkan kritik keras terhadap kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto. Ia menyoroti sedikitnya 20 UPT Puskesmas yang belum memiliki dukungan fasilitas genset memadai, serta laporan mengejutkan di mana 17 Puskesmas yang telah memiliki genset justru mengalami disfungsi total alias mangkrak.
Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar kerusakan teknis biasa, melainkan cerminan buruknya manajemen aset, pemeliharaan fasilitas, hingga efektivitas perencanaan anggaran di tubuh Dinas Kesehatan Jeneponto.
Kritik Tajam: Harkesnas Jangan Hanya Jadi Panggung Seremoni
Zainal menilai, pelayanan publik yang menyangkut keselamatan nyawa manusia tidak boleh dipertaruhkan akibat kelalaian manajerial. Ketiadaan listrik cadangan di tengah situasi kelistrikan daerah yang buruk berpotensi melumpuhkan fungsi darurat puskesmas.
“Ini bukan persoalan sepele. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan publik yang berhubungan langsung dengan keselamatan manusia. Bagaimana mungkin UPT Puskesmas dapat menuntun pelayanan maksimal, jika perangkat dasar penunjangnya justru tidak berfungsi. Kan aneh, masyarakat datang mencari pertolongan ke fasilitas layanan pemerintah, sementara pemerintah gagap memastikan kesiapan fasilitasnya,” tegas Zainal.
Ia juga menyayangkan jika peringatan Hari Kesehatan Nasional hanya dijadikan agenda seremonial untuk mempertontonkan aktivitas birokrasi, sementara persoalan dasar di lapangan diabaikan begitu saja.
“Jangan sampai Harkesnas dirayakan dengan penuh kemeriahan, tetapi kondisi Puskesmas justru memprihatinkan. Apa arti slogan peningkatan kualitas kesehatan jika genset tidak berfungsi dan peralatan medis dibiarkan rusak? Masyarakat tidak membutuhkan seremoni, masyarakat membutuhkan pelayanan yang benar-benar siap dan berkualitas,” kecamnya.
Desak Kadis Kesehatan Mundur dan Tuntut Audit Menyeluruh
Akibat carut-marut fasilitas kesehatan tersebut, Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Jeneponto secara terbuka mendesak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto untuk menunjukkan sikap kesatria dengan mundur dari jabatannya apabila sudah tidak sanggup melakukan pembenahan.
“Jabatan kepala dinas bukan tempat berlindung dari kritik dan tanggung jawab publik. Ada amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Jika persoalan mendasar seperti genset dan kelayakan peralatan medis saja tidak mampu diselesaikan, maka publik berhak mempertanyakan efektivitas kepemimpinannya,” tandas Zainal.
Organisasi kepemudaan ini turut mendesak Bupati Jeneponto agar segera turun tangan melakukan langkah konkret, yang meliputi:
- Melakukan audit dan inventarisasi total seluruh genset serta peralatan medis di setiap UPT Puskesmas.
- Mengevaluasi realisasi anggaran pengadaan dan pemeliharaan sarana kesehatan secara transparan.
- Menyusun langkah taktis percepatan perbaikan fasilitas demi menjamin keselamatan pasien.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi oleh awak media.
✍ Reportase : Mab | Editor : Redaksi | Jeneponto – Sulawesi Selatan.
DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Pelayanan Publik, Menuntut Akuntabilitas dan Transparansi Anggaran Kesehatan.





