BeritaRIAU

Sekolah Ditutup Mendadak di Pelalawan, Nasib Pendidikan Anak-Anak Desa Lubuk Keranji Timur Terancam

750
×

Sekolah Ditutup Mendadak di Pelalawan, Nasib Pendidikan Anak-Anak Desa Lubuk Keranji Timur Terancam

Sebarkan artikel ini
Gedung SMP kelas jauh Lubuk Keranji Timur di Kecamatan Bandar Petalangan, Pelalawan, yang ditutup menjelang tahun ajaran 2026
Fhoto : Kondisi SMP kelas jauh di Desa Lubuk Keranji Timur, Pelalawan, yang ditutup akibat kekurangan tenaga guru dan memicu kekhawatiran warga akan masa depan pendidikan anak-anak desa.

Penutupan Mendadak Yang Mengejutkan Warga Desa

LUBUK KERANJI TIMUR, PELALAWAN | DETIKREPORTASE.COM – Penutupan mendadak SMP kelas jauh di Desa Lubuk Keranji Timur, Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan, menjelang tahun ajaran 2026, memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Sekolah yang selama lebih dari satu dekade menjadi tumpuan pendidikan anak-anak desa itu kini resmi tidak beroperasi, meninggalkan tanda tanya besar tentang masa depan para siswanya.

Bagi warga setempat, SMP kelas jauh tersebut bukan sekadar tempat belajar, melainkan simbol perjuangan panjang masyarakat desa dalam menghadirkan akses pendidikan yang layak di wilayah terpencil. Keputusan penutupan yang datang tiba-tiba dinilai mencederai harapan banyak keluarga yang selama ini menggantungkan masa depan anak-anak mereka pada sekolah tersebut.

Kekhawatiran semakin terasa karena penutupan dilakukan di saat orang tua dan siswa tengah bersiap menyambut tahun ajaran baru. Tanpa alternatif yang jelas, masyarakat desa dihadapkan pada pilihan sulit antara menyekolahkan anak ke tempat yang jauh atau menghentikan pendidikan mereka.

 

Buah Perjuangan Swadaya Masyarakat Sejak 2010

SMP kelas jauh Lubuk Keranji Timur berdiri pada tahun 2010 melalui swadaya penuh masyarakat. Saat itu, warga secara gotong royong menyediakan material bangunan, mendirikan ruang belajar dari papan, hingga memanfaatkan jendela bekas renovasi Kantor Camat sebagai fasilitas sekolah.

Selama dua tahun awal, sekolah ini dikelola sepenuhnya oleh masyarakat tanpa sokongan anggaran pemerintah. Baru pada tahun 2012, pemerintah daerah mulai memberikan perhatian dengan membangun fasilitas yang lebih permanen dan menunjang kegiatan belajar mengajar.

“Sekolah ini lahir dari kerja keras masyarakat. Bukan semata dari anggaran pemerintah. Kami merasa memiliki dan bertanggung jawab penuh,” ujar salah seorang tokoh masyarakat yang terlibat langsung sejak awal pendirian sekolah.

Keberadaan SMP kelas jauh ini menjadi bukti nyata semangat warga desa dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka, terutama di tengah keterbatasan infrastruktur dan jarak tempuh menuju sekolah induk yang cukup jauh.

 

Dampak Penutupan: Jarak Jauh Dan Ancaman Putus Sekolah

Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, sekolah tersebut ditutup dengan alasan utama tidak tersedianya tenaga pengajar. Dampaknya langsung dirasakan para siswa yang kini harus menempuh perjalanan lebih dari 20 kilometer menuju sekolah induk.

Kondisi ini sangat memberatkan, terutama bagi keluarga kurang mampu. Biaya transportasi, kondisi jalan yang sulit, serta faktor kelelahan fisik menjadi tantangan serius. Bahkan, tercatat sedikitnya dua siswa terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik.

“Anak saya sedih dan bingung. Dulu sekolah dekat rumah, sekarang harus menempuh perjalanan jauh. Kadang tidak kuat,” ungkap salah satu wali murid.

Keluhan serupa juga disampaikan seorang siswa kelas VIII. Ia mengaku harus bangun sangat pagi dan melewati jalan tanah setiap hari. Selain lelah, ia merasa kehilangan kedekatan emosional dengan guru dan teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sekolahnya.

 

Keputusan Sepihak Dan Minimnya Pelibatan Desa

Penutupan SMP kelas jauh Lubuk Keranji Timur diputuskan dalam rapat akhir tahun ajaran 2025 yang hanya melibatkan pihak sekolah dan sebagian orang tua murid. Pemerintah desa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, meski dampaknya dirasakan langsung oleh seluruh warga.

Kepala Desa Lubuk Keranji Timur, Ahmad Afandi SE, menyayangkan langkah tersebut. Menurutnya, pemerintah desa seharusnya dilibatkan sejak awal karena pendidikan merupakan urusan strategis yang menyangkut masa depan generasi muda desa.

“Kami tidak diberi informasi, apalagi dilibatkan. Padahal ini menyangkut pendidikan dan masa depan anak-anak desa. Pemerintah desa seharusnya menjadi bagian dari keputusan,” tegasnya.

Minimnya komunikasi dan koordinasi ini dinilai memperparah situasi, karena solusi alternatif seharusnya bisa dibicarakan bersama sebelum keputusan penutupan diambil.

 

Solusi Realistis Agar Sekolah Tetap Bisa Dibuka

Penutupan SMP kelas jauh Lubuk Keranji Timur sejatinya bukan tanpa solusi. Sejumlah langkah realistis dapat segera ditempuh pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk menyelamatkan akses pendidikan di desa tersebut.

Pertama, penempatan guru secara bertahap melalui skema ASN, PPPK, atau penugasan guru honorer daerah dengan insentif khusus wilayah terpencil.

Kedua, mempertahankan status SMP kelas jauh di bawah manajemen sekolah induk dengan dukungan regulasi yang jelas.

Ketiga, penyediaan fasilitas transportasi siswa, minimal berupa subsidi atau kendaraan antar-jemput, untuk menekan risiko putus sekolah.

Keempat, pelibatan aktif pemerintah desa dan masyarakat, mengingat sekolah ini lahir dari swadaya warga dan memiliki dukungan sosial yang kuat.

Redaksi juga masih melakukan upaya konfirmasi ke Kepala Sekolah tersebut, jika ada tanggapan atau perkembangan terbaru atau hak jawab dari pihak yang berkepentingan, kami akan memuat berita lanjutan demi profesionalisme media.

Penutupan sekolah di wilayah terpencil bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut hak dasar anak atas pendidikan. Jika dibiarkan, kebijakan ini berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan antara desa dan kota.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan, membuka ruang dialog, dan mengambil langkah konkret agar SMP kelas jauh Lubuk Keranji Timur dapat kembali dibuka, sesuai harapan banyak pihak dan  demi masa depan generasi.

✍️ Diky HR | detikreportase.com | Pelalawan – Riau

DETIKREPORTASE.COM : Pendidikan Desa, Hak Anak, Masa Depan Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250