BeritaPapua

Modernisasi Gempur Tradisi, Gercin Papua & Kapolres Jayapura Bergerak Selamatkan Budaya Tokok Sagu

347
×

Modernisasi Gempur Tradisi, Gercin Papua & Kapolres Jayapura Bergerak Selamatkan Budaya Tokok Sagu

Sebarkan artikel ini

JAYAPURA |DETIKREPORTASE.COM–

Modernisasi datang tanpa ampun, melibas satu per satu warisan leluhur. Tapi tidak di Jayapura. Di tengah derasnya arus zaman, sebuah gerakan kecil tapi bermakna muncul dari Tanah Papua. DPD Gercin Papua dan Kapolres Jayapura berdiri bahu-membahu menjaga jantung budaya: tokok sagu.

Pada Selasa, 27 Mei 2025, Ketua DPD Gercin Papua, Menase Udam, ST, melakukan kunjungan resmi ke Kapolres Jayapura AKBP Umar Nasatekay, SIK. Di ruang kerja sang Kapolres, mereka membicarakan hal serius: bagaimana menjaga tradisi sebelum benar-benar punah?

Tradisi Vs Teknologi: Siapa Menang?

Menase Udam tidak menutupi kekhawatirannya. Tradisi tokok sagu—yang dulunya nyawa dapur masyarakat adat Jayapura—kian dilupakan. Ironisnya, sagu adalah pangan pokok rakyat Papua.

“Kami ingin menggugah kembali semangat generasi muda agar bangga dan cinta terhadap tradisinya sendiri. Tokok sagu bukan sekadar kerja tangan, tapi simbol jati diri,” ujarnya di hadapan wartawan usai pertemuan.

Tak hanya bicara pelestarian budaya, Udam juga menyorot potensi ekonomi dan pariwisata dari sagu jika dikelola serius.

“Sagu punya masa depan. Kita cuma perlu berhenti menganggapnya ‘makanan kampung’. Dengan pendekatan ekonomi kreatif, dia bisa jadi ikon wisata,” tambahnya.

Kapolres Jayapura: Polisi Juga Penjaga Budaya

Respons cepat datang dari Kapolres Jayapura. Dengan antusias, AKBP Umar Nasatekay menyambut gagasan lomba tokok sagu ini sebagai inisiatif luar biasa.

“Kami dari kepolisian mendukung penuh. Budaya adalah pondasi karakter bangsa. Ini bukan sekadar lomba, ini gerakan penyelamatan nilai-nilai lokal,” tegas Umar.

Tokok Sagu, Simbol Perlawanan Sunyi

Lomba tokok sagu yang dirancang akan digelar di Kabupaten Jayapura bukanlah lomba biasa. Ia adalah bentuk perlawanan—sunyi tapi tegas—melawan dominasi alat-alat modern yang perlahan melunturkan budaya setempat.

Bersama Gercin dan institusi Polri, acara ini diharapkan menjadi pemantik semangat baru. Bukan hanya untuk melestarikan, tetapi untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi dan kebanggaan identitas.

Papua tak butuh belas kasihan, Papua butuh pengakuan atas nilai-nilainya sendiri. Dan dari lumpur-lumpur sagu itu, sejarah dan martabat rakyatnya terus hidup.

✍️ Yerry | Detikreportase.com|Papua

DETIKREPORTASE – Dari Timur, Kita Belajar Arti Menjaga Warisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250