BeritaRIAU

Lampu Kayak Disko dan Sering Mati Tokoh Masyarakat Bandar Petalangan Keluhkan Pelayanan PLN Minta Evaluasi

×

Lampu Kayak Disko dan Sering Mati Tokoh Masyarakat Bandar Petalangan Keluhkan Pelayanan PLN Minta Evaluasi

Sebarkan artikel ini
kondisi lampu rumah yang tidak stabil akibat naik turunnya tegangan listrik PLN di Bandar Petalangan, Pelalawan.
Warga Kecamatan Bandar Petalangan mengeluhkan tegangan listrik PLN yang tidak stabil seperti lampu disko, memicu desakan evaluasi keras dari tokoh masyarakat Nazaruddin Arnazh kepada ULP PLN Pangkalan Kerinci.

​Tokoh masyarakat desak ULP PLN Pangkalan Kerinci segera bertindak tegas sebelum memicu aksi turun ke jalan.

​PELALAWAN — DETIKREPORTASE.COM | Kondisi aliran listrik PLN di wilayah Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan, Riau, dan sekitarnya tengah menuai sorotan tajam dan dikeluhkan oleh masyarakat luas. Dalam beberapa hari terakhir, sering mati tanpa kejelasan dan juga tegangan listrik dilaporkan kerap naik turun secara drastis hingga meresahkan warga.

​Gangguan kelistrikan ini mendapat perhatian serius dari tokoh masyarakat Pelalawan yang juga mantan anggota DPRD Pelalawan tiga periode, Nazaruddin Arnazh, S.IP. Ia mendesak pihak PLN, khususnya Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Pangkalan Kerinci, segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil langkah konkret di lapangan.

​Menurut Arnazh, pelayanan PLN selama ini kerap dinilai tidak seimbang lantaran sangat tegas dan cepat dalam menagih kewajiban pembayaran, namun lambat merespons ketika pelanggan mengalami gangguan.

​“Arus turun naik, lampu kayak disko. Ini sangat merugikan pelanggan dan membuat konsumen tidak nyaman. Dampaknya, di samping token atau tagihan melonjak, alat-alat elektronik juga dikhawatirkan mengalami kerusakan,” ujar Arnazh.

​Ingatkan Potensi Kemarahan Warga dan Soroti Kinerja Pimpinan ULP PLN

​Arnazh menegaskan bahwa persoalan kelistrikan menyangkut hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas. Ia pun mengingatkan agar pihak manajemen tidak mengabaikan keluhan ini demi meredam potensi konflik sosial di tengah warga.

​“Kalau kondisi ini terus terjadi dan tidak ada perbaikan, masyarakat bisa semakin marah. Sekarang saja pelanggan sudah mulai kesal. Jangan sampai persoalan ini berujung pada aksi demonstrasi,” tegasnya.

​Lebih lanjut, ia menyinggung pergantian kepemimpinan ULP PLN Pangkalan Kerinci yang semestinya menjadi momentum perbaikan mutu pelayanan, bukan malah membiarkan persoalan teknis berlarut-larut tanpa kejelasan.

​“Harapan kita, dengan bergantinya pimpinan ULP PLN Pangkalan Kerinci, pelayanan dan persoalan listrik ini semakin membaik, bukan justru sebaliknya. Kita ingin pimpinan ULP PLN memiliki rasa empati dan tanggung jawab kepada pelanggan,” tambah Arnazh.

​Suara Pelanggan: Jangan Hanya Cepat Menagih Tanpa Kepastian Solusi

​Keluhan serupa turut disuarakan oleh seorang warga setempat bernama Salman. Ia menyayangkan sikap PLN yang terkesan abai terhadap hak-hak konsumen saat terjadi gangguan jaringan.

​“Jangan hanya ketika pelanggan terlambat membayar PLN cepat memberikan peringatan, tetapi ketika listrik bermasalah masyarakat justru harus menunggu tanpa kepastian. Kami membayar untuk mendapatkan pelayanan listrik yang baik, bukan untuk terus-menerus dirugikan,” cetus Salman.

​Masyarakat mendesak ULP PLN Pangkalan Kerinci segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap infrastruktur jaringan distribusi, memberikan transparansi penyebab gangguan, serta membuka ruang pengaduan yang adil termasuk kepastian mekanisme kompensasi bagi warga yang merugi.

​Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih menunggu keterangan resmi serta langkah klarifikasi dari pihak ULP PLN Pangkalan Kerinci terkait upaya perbaikan sistem kelistrikan ini.

​✍ Reportase : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Pelalawan – Riau.

​DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Aspirasi Publik, Mendorong Pelayanan Publik yang Transparan dan Berkeadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250