BeritaSulawesi Selatan

Nasional | Sulawesi Selatan | Gotong Royong di Tengah Retaknya Persatuan: Refleksi 1 Juni dari Bumi Turatea, Masihkah Pancasila Hidup di Ruang Digital?

×

Nasional | Sulawesi Selatan | Gotong Royong di Tengah Retaknya Persatuan: Refleksi 1 Juni dari Bumi Turatea, Masihkah Pancasila Hidup di Ruang Digital?

Sebarkan artikel ini
Gotong royong masyarakat Jeneponto dalam pembangunan infrastruktur mencerminkan nilai Pancasila dan persatuan Indonesia
Ilustrasi memperingati hari lahir Pancasila dan pentingnya nilai gotong royong sebagai pencerminan nilai Pancasila dan persatuan indonesia

Pancasila di Tengah Ingatan Bangsa dan Tantangan Zaman Digital

JENEPONTO|DETIKREPORTASE.COM – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali menoleh pada satu titik sejarah yang penting: Hari Lahir Pancasila. Namun di tengah derasnya arus informasi digital, pertanyaan mendasar mulai muncul ke permukaan: apakah Pancasila masih hidup sebagai nilai yang membimbing, atau perlahan hanya menjadi simbol seremonial dan teks hafalan semata?

Para pendiri bangsa pada 1945 merumuskan dasar negara melalui perdebatan panjang yang melibatkan perbedaan latar belakang, keyakinan, dan pandangan politik. Namun dari perbedaan itu, lahirlah satu kesepakatan besar: Indonesia harus berdiri sebagai rumah bersama.

Bung Karno kemudian merangkum Pancasila dalam satu inti yang sangat kuat: gotong royong. Sebuah nilai yang menempatkan kebersamaan di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

 

Retaknya Ruang Sosial dan Tantangan Persatuan di Era Algoritma

Hari ini, tantangan itu hadir dalam bentuk yang berbeda. Polarisasi sosial, perdebatan tanpa ruang dialog, hingga arus informasi yang dipengaruhi algoritma media sosial membuat masyarakat mudah terbelah.

Perbedaan pandangan politik, identitas, hingga opini publik kerap berubah menjadi jarak sosial yang sulit dijembatani. Padahal, di balik semua perbedaan itu, terdapat satu kesamaan yang tidak bisa dipungkiri: keinginan untuk hidup damai dalam satu bangsa.

Di sinilah relevansi Pancasila diuji. Ia bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi praktik sosial yang hidup dalam keseharian.

👉 Dalam konteks perubahan hukum dan kehidupan bernegara yang ikut membentuk arah masyarakat,

dapat dibaca lebih lanjut di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/

A’bulosibatang Jeneponto: Gotong Royong yang Masih Bernapas

Namun, jika kita menengok ke daerah, nilai-nilai Pancasila tidak sepenuhnya pudar. Di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, semangat gotong royong masih hidup melalui kearifan lokal A’bulosibatang—falsafah yang bermakna bersatu seperti seikat bambu yang saling menguatkan.

Semangat ini tercermin dalam berbagai proses pembangunan daerah yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pembangunan tidak lagi berdiri sendiri sebagai kebijakan birokrasi, tetapi menjadi gerakan bersama yang menyentuh kebutuhan warga.

Dalam perspektif yang lebih luas, nilai keadilan sosial mulai terlihat melalui capaian pembangunan. Pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 6,59 persen, penurunan angka kemiskinan hingga 11,42 persen, serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ke angka 70,25 menjadi indikator bahwa kerja kolektif membawa dampak nyata.

Lebih jauh, pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan kesehatan, dan akses jalan desa menunjukkan bahwa gotong royong modern bukan hanya slogan, melainkan praktik yang terus berjalan.

👉 Dalam membaca pola tata kelola pemerintahan dan potensi penyimpangan di berbagai daerah,

publik dapat merujuk pada pola nasional berikut:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/

 

Pancasila sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Simbol

Pancasila pada akhirnya tidak akan hidup hanya melalui upacara atau slogan. Ia hidup ketika masyarakat memilih untuk saling mendengarkan, mengurangi prasangka, dan membangun ruang dialog yang sehat.

Di Jeneponto, semangat itu tampak dalam kolaborasi lintas elemen: petani, pemuda, pekerja, jurnalis, hingga pemerintah daerah yang bergerak bersama dalam satu tujuan pembangunan.

Gotong royong menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan menjadi kekuatan, bukan perpecahan. Nilai ini menjadi pengingat bahwa persatuan bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang harus terus dirawat setiap hari.

Momentum 1 Juni seharusnya menjadi refleksi bersama: apakah kita masih berada dalam satu rumah bernama Indonesia, atau mulai membangun tembok-tembok kecil yang memisahkan satu sama lain?

👉 Dalam konteks ketahanan ekonomi dan isu pangan nasional yang berdampak pada stabilitas sosial,

dapat ditinjau melalui pembahasan ini:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/

✍️ Mustaufiq | detikreportase.com | Jeneponto – Sulawesi Selatan

DETIKREPORTASE.COM : Mengawal Nilai Persatuan dan Keadilan Sosial Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250