Gus Ipul Ungkap Ribuan Pegawai Kemensos Terindikasi Judi Online dengan Transaksi Fantastis
JAKARTA — DETIKREPORTASE.COM | Temuan kasus judi online di lingkungan Kementerian Sosial (Kemensos) kini memasuki babak yang lebih serius setelah terungkapnya sekitar 1.900 pegawai yang terindikasi melakukan transaksi terlarang tersebut.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan bahwa data tersebut bersumber dari penelusuran informasi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dari total pegawai yang telah menjalani proses klarifikasi, lebih dari 70 persen mengakui pernah terlibat judi online dengan tingkat keterlibatan yang beragam, meski angka tersebut masih berstatus indikasi awal yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Alasan keterlibatan para pegawai pun bermacam-macam, mulai dari faktor kecanduan, rasa penasaran, hingga pengakuan hanya mencoba-coba atau iseng. Bahkan, dalam sejumlah kasus, aktivitas judi online tersebut disebut dilakukan menggunakan perangkat milik pegawai oleh anggota keluarga mereka sendiri. Guna menuntaskan persoalan ini, Inspektorat Jenderal Kemensos ditugaskan untuk melakukan verifikasi sekaligus mendalami aliran transaksi satu per satu.
Nilai Transaksi Tembus Rp2 Miliar dan Libatkan Tiga Pegawai Inspektorat
Besarnya perputaran uang dalam aktivitas ilegal ini menjadi sorotan tersendiri bagi pementerian. Gus Ipul menyebutkan bahwa terdapat temuan transaksi yang nilainya menembus angka lebih dari Rp2 miliar, sementara rata-rata transaksi yang ditemukan berada di kisaran Rp4 juta.
Persoalan ini kian pelik karena Kemensos sedang mendalami adanya dugaan pegawai yang nekat menggunakan uang kantor untuk bermain judi online. Jika dugaan penyelewengan dana kedinasan tersebut terbukti, pelanggaran ini tidak lagi dipandang sebagai urusan pribadi semata, melainkan pelanggaran berat berkonsekuensi sanksi tegas.
Ironisnya lagi, penelusuran awal turut menyeret tiga pegawai di lingkungan Inspektorat Jenderal Kemensos yang mengakui keterlibatan mereka. Gus Ipul menegaskan tidak ada toleransi bagi pegawai yang melanggar, terlebih mereka yang berada di unit pengawasan internal dinilai tidak layak menjalankan fungsi tersebut. Kemensos sendiri menargetkan proses verifikasi dan audit terhadap ribuan pegawai ini dapat tuntas pada akhir September 2026.
Menanti Dampak dan Transparansi demi Menjaga Kepercayaan Publik
Temuan ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat karena Kemensos bukan sekadar instansi administratif biasa. Kementerian ini bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak melalui berbagai program perlindungan dan bantuan sosial.
Publik tentu menghendaki agar masalah pribadi aparatur ini tidak berimbas pada terganggunya pelayanan, pengelolaan anggaran, maupun tingkat kepercayaan terhadap pemerintah. Oleh karena itu, masyarakat kini menanti transparansi hasil audit secara menyeluruh: mulai dari kebenaran penggunaan uang kantor, sanksi bagi pelanggar, hingga langkah nyata Kemensos dalam memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal tanpa terganggu persoalan internal.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Jakarta.
DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Integritas Birokrasi dan Kepercayaan Publik.





