Kisah Haru Pembangunan Kuasi Paroki St. Petrus Paulus: Menggali Fondasi Iman dengan Tangan Kosong
KUPANG | DETIKREPORTASE.COM – Kupang dikenal sebagai kota karang yang keras dan gersang. Namun, di atas punggung batu karang yang kokoh di kawasan Oesapa, hari ini berdiri megah sebuah rumah Tuhan: Kuasi Paroki Santu Petrus dan Paulus. Di balik megahnya bangunan lopo iman tersebut, tersimpan kisah pilu sekaligus luar biasa tentang tetesan air mata, keringat, dan keteguhan doa umat yang menolak menyerah pada keadaan.
“Untuk membangun di atas batu karang ini, kami tidak menggunakan dinamit. Kami hanya menggunakan air mata, keringat, dan doa,” tutur Bapak Imanuel Tefa, seorang pensiunan Polri yang menjadi salah satu sosok penggerak dan inovator utama pembangunan gereja ini. Bersama rekan sejuangnya, Bapak Hendrik Mones, keduanya menjadi saksi hidup bagaimana batu yang paling keras sekalipun bisa takluk oleh ketekunan.
Bermodal Linggis dan Palu Bekas, Pensiunan Polri Pimpin Barisan Umat Pecahkan Batu
Pada tahun-tahun awal pembangunan, tidak ada mesin-mesin besar raksasa di lokasi proyek. Yang ada hanyalah cangkul, palu, linggis, dan tangan-tangan kapalan para pria Oesapa yang basah kuyup oleh keringat. Begitu kerasnya medan, hingga beberapa orang sempat berbisik putus asa dan menyarankan untuk mencari tanah lain yang lebih lunak.
Namun, dengan jiwa kedisplinan Polri yang masih melekat kuat namun berhati lentur, Bapak Imanuel menolak menyerah. Menggunakan besi-besi bekas untuk dijadikan alat pencacah batu dan menggalang bazar jagung bakar bersama umat saat dana seret, proses pengerjaan terus merayap maju. “Titik-titik air melubangi batu bukan karena kerasnya, namun karena acap kalinya. Dulu saya menjaga negara dengan seragam, sekarang saya menjaga rumah Tuhan dengan keringat,” ungkap mantan polisi tersebut dengan mata menerawang penuh haru.
Baca Juga Pilar Hukum Kami:
Baca selengkapnya di sini: https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/
Ketika Air Mata Menjelma Jadi Lopo Iman: Pelajaran Kesetiaan dari Pinggiran Kota Kupang
Kini, bertahun-tahun masa sulit itu telah berlalu. Batu karang yang dulunya menakutkan kini telah menjelma menjadi fondasi yang mengokohkan tiang-tiang gereja tempat anak-anak Oesapa beribadah dengan damai. Bapak Hendrik Mones mengenang dengan suara bergetar betapa setiap sudut gereja itu menyimpan cerita perjuangan, mulai dari momen dehidrasi hingga jatuh bangun di atas terjalnya karang.
Kisah dari Oesapa ini mengirimkan pesan mendalam bagi siapa saja yang sedang menghadapi “batu karang” dalam hidup mereka: bahwa kedisplinan yang berpadu dengan kelenturan hati, inovasi di tengah keterbatasan, dan kesetiaan pada proses, akan selalu membuahkan hasil yang indah. Uis Neno Nitu (Tuhan) mencatat setiap tetes pengorbanan yang diberikan demi sebuah ketulusan.
Baca Juga Pilar Ekonomi & Tata Kelola Kami:
Baca selengkapnya di sini: https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/
Redaksi DetikReportase.com berkomitmen mengawal kisah-kisah inspiratif dan sosial kemasyarakatan dari seluruh pelosok negeri. Kami membuka ruang koordinasi pers sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
✍️ Yohanes Tafaib | detikreportase.com | Kupang – NTT
DETIKREPORTASE.COM : HUMAN INTEREST & SOSIAL MASYARAKAT – KAMI HADIR UNTUK KEBENARAN DAN KEADILAN.





