Gotong Royong di Tengah Retaknya PersatuanSebuah Refleksi 1 Juni dari Bumi Turatea
Oleh: Mustaufiq
Jeneponto, DETIKREPORTASE.COM – Setiap kali kalender menyentuh tanggal 1 Juni, kita kembali dihadapkan pada sebuah frasa yang akrab di telinga: Hari Lahir Pancasila. Namun, di tengah riuh rendah ketikan jemari di layar gawai masing-masing, di tengah ruang digital yang kerap bising oleh perdebatan,
Ornamen Upacara
masihkah kita merasakan getaran lima sila itu sebagai pengikat jiwa? Atau jangan-jangan, Pancasila kini hanya berakhir menjadi ornamen upacara dan teks hafalan yang dingin?
Pada tahun 1945, para pendiri bangsa berdiri di atas panggung sejarah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang bersarung, ada yang berjas; ada yang datang dari tradisi keagamaan yang kuat, ada pula yang berpandangan lebih sekuler. Mereka berdebat dengan gagasan yang tajam, tetapi memiliki satu kerinduan yang sama: mendirikan sebuah “Rumah Besar” tempat seluruh anak bangsa dapat berteduh dengan rasa aman, tanpa ada yang merasa menjadi warga kelas dua. Rumah itu bernama Indonesia, dan fondasinya adalah Pancasila.
Bung Karno bahkan pernah memeras lima sila tersebut menjadi satu intisari yang utuh, yakni gotong royong. Sebuah nilai yang mengajarkan kita untuk melangkah bersama, saling menopang, dan menanggalkan ego sektoral demi kepentingan bersama.
Bersatu, Gotong Royong Hidup Berdampingan
Hari ini, 1 Juni hadir bukan sekadar untuk merayakan masa lalu, melainkan untuk menegur masa kini. Kita perlu jujur bercermin sebagai bangsa. Polarisasi, prasangka, dan ego kelompok perlahan mulai meretakkan dinding rumah kita. Kita begitu mudah diadu domba oleh algoritma media sosial. Kita sering lupa bahwa di balik warna bendera partai, pilihan politik, maupun latar belakang agama yang berbeda, mengalir darah yang sama: darah Indonesia.
Namun, jika kita menengok ke daerah, denyut nadi Pancasila sesungguhnya tidak pernah benar-benar mati. Nilai-nilai itu tetap tumbuh subur dan menjelma menjadi tindakan nyata melalui kerja keras pembangunan di tingkat lokal. Di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, falsafah gotong royong hidup berdampingan dengan kearifan lokal A’bulosibatang—bersatu bagai seikat bambu.
Melalui semangat kebersamaan tersebut,
visi pembangunan daerah tidak sekadar menjadi slogan di atas kertas, melainkan menjelma sebagai kerja nyata yang mengubah wajah Butta Turatea. Manifestasi keadilan sosial yang termaktub dalam Sila Kelima Pancasila pun mulai tampak pada berbagai capaian pembangunan makro Kabupaten Jeneponto.
Kesetiaan masyarakat untuk berkolaborasi dan bekerja sama berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Jeneponto mencapai 6,59 persen, menempatkannya dalam lima besar daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan. Kesejahteraan masyarakat juga terus meningkat, ditandai dengan penurunan angka kemiskinan hingga 11,42 persen dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang kini mencapai 70,25.
Berbagai pembangunan infrastruktur strategis, mulai dari akses jalan perdesaan melalui program kemitraan berkelanjutan, peningkatan pelayanan publik, hingga penyediaan fasilitas kesehatan yang lebih layak, bukan sekadar deretan angka statistik. Semua itu merupakan bukti nyata dari gotong royong modern, ketika pemerintah dan masyarakat bergerak bersama untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
Persatuan sejatinya tidak pernah lahir dari paksaan atau aturan yang kaku. Ia tumbuh dari ketukan hati. Ia hidup ketika kita memilih untuk meminta maaf, mendengarkan mereka yang berbeda, dan bergotong royong membangun daerah. Pancasila menjadi tindakan nyata ketika petani, pekerja lapangan, pemuda kreatif, pewarta, hingga pemangku kebijakan di Jeneponto saling menyodorkan pundak demi mewujudkan daerah yang inklusif, maju, dan bahagia.
Karena itu, marilah menjadikan 1 Juni sebagai momentum untuk pulang. Pulang kepada jati diri bangsa yang ramah, pemaaf, dan senantiasa saling menopang ketika sesama terjatuh. Mari membawa semangat A’bulosibatang ke ruang digital maupun ruang sosial kita, membersihkannya dari narasi kebencian dan perpecahan.
Sebab merawat persatuan bukanlah tugas negara semata, melainkan janji setia yang harus dijaga setiap hari—di dalam hati, di atas tanah Jeneponto, dan demi keutuhan Indonesia.
Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.
Rusli detikreportase.com
Jeneponto Sulawesi Selatan





