MEDAN I detikreportase-Nyawa kembali melayang di perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Seorang driver ojek online (ojol), Rajali (38), tewas mengenaskan setelah ditabrak kereta api saat melintas di Jalan Rajawali II, Perumnas Mandala, Kecamatan Medan Tembung, Senin (20/04/2026).
Korban, warga Jalan Pelita II, Gang Tangga Batu, Kelurahan Sidorame Barat II, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan, terpental beberapa meter dari titik tabrakan. Tubuhnya ditemukan di dalam kandang babi milik warga di Jalan Elang, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Berdasarkan informasi di lapangan, Rajali saat itu tengah mengantar seorang penumpang wanita menuju Jalan Padang. Namun nahas, saat melintasi rel kereta api tanpa pengaman, korban diduga tidak memperhatikan situasi sekitar dan langsung melintas tanpa melihat ke kanan maupun kiri.
Di saat bersamaan, kereta api melaju kencang dari arah Medan menuju Bandara Kualanamu. Benturan tak terhindarkan. Dalam hitungan detik, tubuh korban tersambar dan terpental hingga masuk ke dalam kandang babi.
Penumpang wanita yang dibonceng korban selamat, namun mengalami luka ringan dan syok berat akibat kejadian tersebut. Sementara sepeda motor korban terseret hingga ratusan meter dari lokasi tabrakan.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian langsung berhamburan ke lokasi untuk memberikan pertolongan. Namun nahas, korban telah meninggal dunia di tempat dengan kondisi luka parah—kaki kanan robek, tangan kiri patah, serta luka serius di sejumlah bagian tubuh lainnya.
Tak lama berselang, ratusan driver ojol mendatangi lokasi untuk memastikan kabar duka tersebut. Suasana berubah haru dan tegang. Rekan-rekan korban tampak terpukul melihat kondisi jasad yang mengenaskan.
Petugas dari Polsek Medan Area dan Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) turut hadir di lokasi. Namun proses evakuasi sempat terkendala lantaran harus menunggu kedatangan Tim Inafis Polrestabes Medan.
Setelah lebih dari satu jam, tim identifikasi akhirnya tiba dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta identifikasi terhadap jasad korban. Ironisnya, jenazah tidak dapat segera dibawa ke rumah sakit karena ketiadaan ambulans di lokasi.
Akhirnya, jasad korban diangkat secara gotong royong oleh keluarga dan rekan sesama ojol dari dalam kandang babi, lalu dipindahkan ke Jalan Rajawali untuk menunggu ambulans. Sementara itu, ratusan warga masih berkerumun di sekitar lokasi, menyisakan duka dan kemarahan.
Warga setempat menyebut, kecelakaan di perlintasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Selama ini, perlintasan tanpa palang pintu itu hanya dijaga secara swadaya oleh masyarakat. Namun belakangan, penjagaan dihentikan akibat sering terjadi cekcok antara penjaga dan pengendara yang kerap mengabaikan peringatan.
“Sudah sering kejadian di sini. Dulu ada yang jaga, tapi karena sering ribut dengan pengendara yang tidak mau berhenti, akhirnya tidak ada lagi yang berjaga,” ujar seorang warga di lokasi.
Kondisi ini membuat perlintasan tersebut kembali rawan dan tak terkendali. Warga pun mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera memasang palang pintu resmi serta sistem pengamanan yang layak.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa kelalaian dan minimnya fasilitas keselamatan di perlintasan kereta api terus memakan korban. Tanpa tindakan nyata, bukan tidak mungkin nyawa berikutnya kembali melayang di titik yang sama.
(Ilham)





