BeritaNusa Tenggara Timur

21 Tahun Hidup Bersama dalam Iman. KBG Ratu Pencinta Damai Ajukan Pemekaran Demi Efektivitas Pelayanan

389
×

21 Tahun Hidup Bersama dalam Iman. KBG Ratu Pencinta Damai Ajukan Pemekaran Demi Efektivitas Pelayanan

Sebarkan artikel ini

SIKKA |DETIKREPORTASE.COM

– Hidup bersama dalam suka dan duka, saling menanggung beban, serta menjaga solidaritas di tengah masyarakat telah menjadi napas Komunitas Basis Gerejawi (KBG) Ratu Pencinta Damai, yang telah eksis sejak 2004. Berada di bawah Lingkungan Santo Agustinus, Stasi Santa Theresia Urung Pigang, Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure, KBG ini menjadi contoh nyata keteladanan dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

Kini, setelah 21 tahun berjalan, komunitas yang dihuni sejumlah kepala keluarga ini menyatakan kesiapan untuk melahirkan KBG baru. Usulan ini telah diajukan kepada pengurus lingkungan oleh Ketua KBG, Ibu Rasdiana Arce, didampingi Sekretaris Ibu Serafika Da Gomes, dan Bendahara Ibu Maria Dolorosa Woa. Pemekaran ini disambut positif oleh seluruh anggota, dengan alasan untuk mengefektifkan koordinasi dan keterlibatan aktif dalam kegiatan gerejani.

Semangat Pemekaran: Dari Persatuan, Lahir Pelayanan yang Lebih Dekat

Rencana KBG Baru Akan Bernama Santo Yohanes Pemandi

Dalam dinamika kehidupan komunitas ini, perbedaan pendapat kerap hadir, namun justru menguatkan semangat pengampunan dan persaudaraan. “Apa pun perbedaan yang terjadi, kami tetap rukun dan damai. Itulah kekuatan kami,” ujar salah satu anggota. Selama ini, mereka rutin mengadakan doa malam bergilir, arisan, kerja bakti, serta aktif dalam tugas liturgi.

Ibu Serafika Da Gomes mengungkapkan bahwa pemekaran akan memudahkan koordinasi kegiatan. “Kelompok kecil itu lebih mudah diatur, dan setiap orang bisa terlibat. Kita tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Ibu Theresia Are, tokoh masyarakat sekaligus umat aktif di gereja. “Pemekaran ini akan memperkuat keterlibatan dan mempercepat respon dalam kegiatan sosial maupun rohani,” tegasnya.

Dari KBG untuk Gereja dan Masyarakat

Misi Pemekaran: Semua Terlibat, Tak Ada yang Tertinggal

Rencana pemekaran ini juga mendapat dukungan dari tokoh gereja Stefanus Keban, yang juga Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure. Ia menegaskan bahwa KBG adalah wadah pewartaan dan pelayanan. “Komunitas ini adalah ruang untuk menghidupi tiga tugas Kristus: imam, nabi, dan raja. Lewat KBG, kita semua punya peran,” tandasnya.

Tanggal 1 Juni 2025 ditetapkan sebagai batas waktu finalisasi struktur KBG baru yang akan bernama KBG Santo Yohanes Pemandi. Doa malam bersama di rumah Bapak Hengki (5 Mei) dan Bapak Stefanus Keban (6 Mei) menjadi titik tolak persiapan pemekaran, yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh pengurus lingkungan.

Di akhir pertemuan, Bendahara II, Ibu Agnes Dalonda (Ibu Londa), menyampaikan laporan keuangan KBG secara transparan. Catatan sederhana namun rapi menunjukkan bahwa komunitas ini bukan hanya kuat dalam iman, tapi juga akuntabel dalam tata kelola.

✍️ Stefanus Keban | DetikReportase.com | Sikka, Nusa Tenggara Timur

DETIKREPORTASE.COM – Mengabarkan Iman, Merawat Persaudaraan Umat Pelosok Negeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250