JAKARTA |DETIKREPORTASE.COM–
Langkah Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto, untuk menghentikan impor jagung mulai tahun 2026 mendapat dukungan penuh dari Pimpinan Pusat Serikat Tani Nelayan (PP STN). Organisasi petani tersebut menyebut kebijakan ini sebagai momentum emas menuju kedaulatan pangan dan kebangkitan pertanian nasional.
Dalam keterangan pers yang diterima DetikReportase.com pada Senin (9/6/2025), Ketua Umum PP STN, Ahmad Rifai, menyebut kebijakan ini sebagai strategi berani yang mengembalikan martabat petani Indonesia sebagai tulang punggung bangsa. “Presiden Prabowo memperlihatkan komitmen nyata untuk mengakhiri ketergantungan pangan luar negeri,” tegasnya.
Petani Jadi Pilar, Jagung Jadi Simbol Kemandirian
Menurut Rifai, Indonesia sebagai negara agraris tak seharusnya terus bergantung pada impor jagung, terutama karena komoditas ini vital untuk ketahanan pangan dan pakan ternak. “Dengan produksi lokal yang ditingkatkan, kita tidak hanya menstabilkan harga pangan, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan memastikan pasar petani tetap hidup,” ungkapnya.
PP STN juga menilai penghentian impor ini akan memacu inovasi di bidang pertanian, mulai dari penggunaan varietas unggul hingga efisiensi distribusi dan penyimpanan. “Kita ingin melihat petani tersenyum, bukan tercekik oleh harga pasar dan dominasi impor,” lanjut Rifai.
Dukungan Nyata, Bukan Janji
Rifai menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini butuh dukungan nyata dari pemerintah: subsidi benih unggul, pupuk murah, pelatihan teknologi pertanian, dan akses pasar harus jadi prioritas. Selain itu, PP STN juga mendorong sinergi lintas kementerian serta pelibatan organisasi petani secara aktif dalam perencanaan.
“Tanpa dukungan struktural, target setop impor hanya jadi wacana. Perlu kebijakan yang menyentuh akar persoalan: tanah, modal, dan teknologi,” tegasnya.
Empat Langkah Kunci Menuju Kedaulatan Pangan
STN mengusulkan empat langkah konkret yang harus segera dijalankan pemerintah demi kesuksesan kebijakan ini:
1. Peta jalan jelas dan anggaran yang memadai untuk mendukung petani.
2. Investasi riset varietas unggul yang tahan iklim dan hama.
3. Perlindungan harga agar petani tak rugi akibat permainan pasar.
4. Pelibatan koperasi dan organisasi petani dalam setiap tahap kebijakan.
“Langkah strategis ini bukan hanya soal jagung. Ini tentang arah masa depan bangsa, tentang apakah kita ingin berdiri di atas kaki sendiri atau terus jadi pasar bagi produk luar negeri,” ujarnya.
Saatnya Konsolidasi Kekuatan Rakyat Tani
Ahmad Rifai menutup pernyataannya dengan ajakan terbuka kepada seluruh komponen masyarakat. “Kami mengajak petani, pelaku usaha, dan pemda bersatu dalam semangat kolektif: tanah, modal, dan teknologi untuk pertanian rakyat,” pungkasnya.
✍️ Yuven Fernandez | DetikReportase.com |





