Kemarau Panjang Landa Bogor dan Puluhan Ribu Hektare Sawah Nasional; Petani Tegal Salam Jonggol Berharap Solusi Irigasi Perpompaan
BOGOR — DETIKREPORTASE.COM | Dampak kemarau panjang kini mulai memberikan tekanan berat terhadap sektor pertanian di berbagai wilayah. Tatkala curah hujan kian minim, ancaman nyata di depan mata bukan sekadar krisis air bersih bagi masyarakat, melainkan bahaya laten gagal panen yang mengintai lahan-lahan pertanian sebagai penyangga utama ketahanan pangan nasional.
Krisis air ini salah satunya dirasakan langsung oleh para petani di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setidaknya 50 hektare areal persawahan di Kampung Tegal Salam, Desa Sukasirna, Kecamatan Jonggol, dilaporkan mengalami kekeringan parah akibat minimnya pasokan air.
Di tengah situasi pelik tersebut, para petani mendesak agar pemerintah menghadirkan langkah intervensi konkret yang tidak hanya berfokus pada distribusi air darurat, tetapi juga penyediaan infrastruktur pengairan jangka panjang.
94 Ribu Warga Bogor Terdampak Krisis Air Bersih
Permasalahan di Kampung Tegal Salam merupakan cerminan dari luasnya dampak kekeringan yang melanda Kabupaten Bogor. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, tercatat sebanyak 94.002 warga dari 27.225 keluarga di 24 kecamatan terdampak krisis air sepanjang periode 10 Juni hingga 24 Juli 2026.
Sebagai langkah tanggap darurat, BPBD telah mendistribusikan sekitar 752.500 liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak, termasuk Kecamatan Jonggol. Namun, kebutuhan air untuk sektor pertanian yang kian mendesak menuntut adanya solusi teknis yang lebih berkelanjutan.
Petani Tegal Salam Suarakan Kebutuhan Irigasi Perpompaan (Irpom)
Sekretaris Kelompok Tani Mekar Asih, Kusnadi, mengungkapkan bahwa para petani sangat mengharapkan adanya uluran tangan dan kebijakan taktis dari pemerintah untuk menyelamatkan puluhan hektare sawah yang terancam mati kecambah akibat kekeringan.
“Kami berharap kepada pihak pemerintah ada solusi untuk mengatasi areal persawahan sebanyak 50 hektare yang mengalami kekeringan,” ujar Kusnadi.
Sebagai solusi alternatif, petani berharap pemerintah dapat memperluas program irigasi perpompaan (Irpom) atau pompanisasi. Melalui sistem ini, ketersediaan air dari sumber terdekat—seperti aliran sungai, embung, maupun sumur bor—dapat disedot dan dialirkan langsung ke petak-petak sawah tadah hujan yang selama ini sangat bergantung sepenuhnya pada faktor cuaca.
Tantangan Nasional: Puluhan Ribu Hektare Sawah Terdampak
Harapan para petani di Bogor sejalan dengan arah strategi Kementerian Pertanian dalam menghadapi ancaman musim kemarau ekstrem. Kemenenterian Pertanian terus mendorong optimalisasi irigasi perpompaan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, serta pemanfaatan embung guna mengamankan produktivitas pangan nasional.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian hingga 24 Juli 2026, tercatat seluas 44.694 hektare pertanaman padi nasional terdampak kekeringan, di mana 12.304 hektare di antaranya telah mengalami gagal panen (puso).
Angka ini menegaskan bahwa ancaman kekeringan pertanian bukan sekadar persoalan lokal, melainkan tantangan makro yang berpotensi mengguncang stabilitas pangan nasional jika tidak ditangani secara cepat dan terpadu.
Menjaga Sawah Berarti Menjaga Keterjaminan Pangan
Bagi kaum tani, air adalah nyawa bagi keberlangsungan usaha sekaligus sumber penghidupan keluarga. Ketika sawah mengering dan gagal ditanami, rantai dampaknya akan merembet ke lesunya perekonomian perdesaan hingga lonjakan harga komoditas pangan di pasaran.
Di tengah ketidakpastian iklim saat ini, pembangunan dan penguatan infrastruktur pengairan menjadi harga mati. Bagi warga Tegal Salam dan jutaan petani lainnya di Indonesia, harapan kini disandarkan pada kehandalan teknologi irigasi perpompaan—sebuah ikhtiar agar lahan-lahan pertanian tetap hijau, petani tetap berdaya, dan dapur pangan Indonesia tidak pernah padam.
✍️ Irwan | Editor: Redaksi | Bogor – Jawa Barat
DETIKREPORTASE.COM — “Ketika Air Menjadi Harapan, Sawah Harus Tetap Dipertahankan.”





