BeritaRIAU

Polres Pelalawan Jemput Bola di Pangkalan Lesung: Haruskah Warga Lemah Selalu Datang ke Kantor Polisi? Kakek Daim Dijemput Keadilan

541
×

Polres Pelalawan Jemput Bola di Pangkalan Lesung: Haruskah Warga Lemah Selalu Datang ke Kantor Polisi? Kakek Daim Dijemput Keadilan

Sebarkan artikel ini
Penyidik Satreskrim Polres Pelalawan mendatangi rumah Kakek Daim di Desa Rawang Sari, Pangkalan Lesung, untuk pemeriksaan dengan pendekatan humanis
Fhoto : Penyidik Unit I Satreskrim Polres Pelalawan melakukan pemeriksaan langsung di rumah Kakek Daim sebagai bentuk pelayanan hukum yang berkeadilan.

Polisi Hadir Langsung di Rumah Warga

PELALAWAN, RIAU | DETIKREPORTASE.COM – Siang itu, suasana Desa Rawang Sari, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan, tampak tenang. Di sebuah rumah sederhana, seorang lelaki lanjut usia bernama Kakek Daim duduk perlahan, menahan letih yang kerap datang seiring usia dan kondisi kesehatannya yang terus menurun.

Bagi Kakek Daim, proses hukum selama ini terasa begitu jauh. Bukan karena ia tidak ingin kooperatif, melainkan karena jarak menuju Mapolres Pelalawan, keterbatasan ekonomi, serta kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan untuk menempuh perjalanan panjang. Namun hari itu, keadilan tidak lagi harus ia datangi. Aparat kepolisian justru hadir mengetuk pintu rumahnya.

Dua penyidik Unit I Satuan Reserse Kriminal Polres Pelalawan, Jefri Zon dan Syafril Amlyand, datang langsung ke kediaman Kakek Daim di bawah arahan Kanit I Satreskrim Polres Pelalawan, Iptu Dodo Arifin, SH, MH. Dengan pendekatan yang ramah dan penuh empati, mereka melakukan pemeriksaan saksi dan korban tanpa menghadirkan suasana tegang ataupun intimidatif.

 

Jemput Bola sebagai Wujud Keadilan Sosial

Langkah jemput bola yang dilakukan Polres Pelalawan bukan sekadar menjalankan prosedur penyelidikan. Lebih dari itu, kehadiran polisi di rumah warga menjadi pesan kuat bahwa hukum tidak boleh menjadi beban bagi masyarakat kecil.

“Kalau saya harus ke Polres, perjalanan bisa sampai dua jam. Biaya sewa mobil juga tidak sedikit. Badan saya sering tidak kuat,” tutur Kakek Daim dengan suara pelan.

Pengakuan tersebut menggambarkan realitas yang kerap dialami warga di daerah. Akses terhadap layanan hukum tidak selalu mudah, terutama bagi lansia, warga sakit, atau mereka yang hidup dengan keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi seperti inilah, kehadiran aparat secara langsung menjadi sangat berarti.

Proses pemeriksaan berlangsung sederhana namun tertib. Para penyidik mendengarkan keterangan dengan sabar, mencatat setiap informasi penting, serta memastikan hak-hak Kakek Daim tetap dihormati. Tidak ada tekanan, tidak ada kesan kaku. Yang terasa justru pendekatan yang manusiawi.

 

Komitmen Kapolres Pelalawan pada Pelayanan Humanis

Di bawah kepemimpinan Kapolres Pelalawan AKBP Jhon Louis Letedara, S.IK, pendekatan humanis menjadi salah satu prinsip utama pelayanan kepolisian. Ia menegaskan bahwa tidak semua warga memiliki kemampuan yang sama dalam mengakses hukum.

“Ini bagian dari upaya kami memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kami mungkin belum sempurna, tetapi kami selalu berusaha hadir dan membantu warga, terutama mereka yang memiliki keterbatasan,” ujar AKBP Jhon Louis Letedara, S.IK, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, keadilan tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang kuat secara fisik maupun ekonomi. Aparat penegak hukum harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat, agar hukum benar-benar dirasakan sebagai pelindung, bukan sebagai sesuatu yang menakutkan.

Langkah jemput bola ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Polres Pelalawan dalam membangun kepercayaan publik. Dengan turun langsung ke lapangan, jarak antara institusi kepolisian dan masyarakat dapat dipersempit.

 

Ketika Hukum Datang dengan Empati

Bagi Kakek Daim, kunjungan penyidik ke rumahnya bukan hanya soal proses hukum. Ia merasakan perhatian dan kepedulian yang tulus. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Dengan polisi datang ke rumah, saya merasa tidak sendirian. Saya merasa masih diperhatikan dan dibantu untuk mendapatkan keadilan,” ucapnya.

Di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, pendekatan seperti ini menjadi harapan baru. Bahwa hukum bukan hanya milik mereka yang sehat, kuat, dan mampu, tetapi juga hadir untuk mereka yang lemah, sakit, dan terbatas.

Kisah Kakek Daim menjadi potret kecil dari upaya besar membangun wajah kepolisian yang lebih dekat dengan rakyat. Ketika aparat mau melangkah mendekat, keadilan tidak lagi terasa jauh. Di Rawang Sari, hari itu hukum tidak harus ditempuh dengan perjalanan panjang. Ia datang sendiri, menyapa dengan empati, dan menegaskan bahwa negara masih hadir untuk warganya.

✍️ Tim | detikreportase.com | Pelalawan – Riau

DETIKREPORTASE.COM : Polisi Humanis, Keadilan untuk Semua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250