Imam Masjid An-Nur Nangahale Ajak Umat Maksimalkan Ramadhan untuk Muhasabah Diri
MAUMERE, SIKKA, DETIKREPORTASE.COM — Imam Masjid An-Nur Nangahale, H. Muhammad Badri, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal kehidupan akhirat.
Pesan tersebut disampaikan dalam kultum (kuliah tujuh menit) yang disampaikannya dari mimbar Masjid An-Nur Nangahale pada malam salat tarawih di Nangahale, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengawali dengan ungkapan rasa syukur karena umat Islam masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan, yang disebutnya sebagai bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya.
“Kita patut bersyukur karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Maka syukur itu harus dibuktikan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menegaskan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan, karena tidak ada jaminan seseorang akan kembali bertemu dengan Ramadhan di masa mendatang.
Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Persiapan Kehidupan Akhirat
Menurut H. Muhammad Badri, setiap manusia pada akhirnya akan meninggalkan kehidupan dunia, tanpa memandang status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi momentum penting untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan.
“Orang kaya mati, orang miskin mati, pejabat mati, rakyat biasa pun mati. Yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa ketakwaan tercermin dari sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat Allah, baik berupa waktu, kesehatan, maupun harta. Orang yang bertakwa akan memanfaatkan seluruh nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan agama dan menjauhi perbuatan yang tidak bermanfaat.
Ramadhan, lanjutnya, adalah kesempatan emas untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan masa lalu. Allah memberikan pahala berlipat ganda bagi setiap amalan kebaikan yang dilakukan selama bulan suci ini, termasuk membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak ibadah.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas yang diajarkan dalam ajaran agama juga sejalan dengan prinsip hukum nasional yang menekankan pentingnya akuntabilitas dan tanggung jawab moral setiap individu.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/
Tiga Amalan yang Tidak Terputus Meski Seseorang Telah Wafat
Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri juga mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga amalan yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sedekah jariyah mencakup amalan yang manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan, seperti pembangunan masjid, fasilitas pendidikan, atau sarana umum lainnya. Sementara ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala selama ilmu tersebut diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.
Adapun doa anak saleh, menurutnya, menjadi salah satu bentuk amal yang sangat berharga bagi orang tua setelah meninggal dunia.
“Rugi sekali jika sebelum meninggal kita tidak meninggalkan salah satu dari tiga amalan tersebut,” katanya.
Nilai-nilai ini juga menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berintegritas dan bertanggung jawab, yang pada akhirnya berkontribusi pada terciptanya tata kelola publik yang bersih dan transparan. Dalam berbagai kasus nasional, integritas individu menjadi faktor penting dalam mencegah penyimpangan kekuasaan dan menjaga kepercayaan publik.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/
Ajakan Memanfaatkan Ramadhan untuk Meningkatkan Amal dan Kepedulian Sosial
H. Muhammad Badri juga mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, sementara kesempatan beribadah justru diabaikan. Ia menegaskan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan amal ibadah akan menjadi bekal yang kekal.
“Jangan hanya sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara akhirat kita abaikan. Dunia akan kita tinggalkan, tetapi amal akan menjadi bekal selamanya,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa bahkan para ulama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin kemuliaannya tetap menunjukkan ketundukan dan rasa takut kepada Allah. Hal tersebut menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa bermuhasabah dan memperbaiki diri.
Selain itu, Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, termasuk melalui sedekah dan membantu sesama. Nilai solidaritas ini sangat penting dalam mendukung ketahanan sosial masyarakat, termasuk dalam sektor-sektor strategis seperti pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/
Menutup tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya, memperbanyak amal saleh, serta menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri secara spiritual dan moral.
“Semoga yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan segala kekurangan berasal dari saya sebagai manusia biasa,” tutupnya.
Momentum Ramadhan, menurutnya, bukan hanya tentang menjalankan ibadah rutin, tetapi juga tentang membangun kesadaran spiritual yang berdampak pada kehidupan pribadi dan sosial, sehingga tercipta masyarakat yang lebih berakhlak, bertanggung jawab, dan berintegritas.
✍️ Yuven Fernandez | detikreportase.com | Sikka – Nusa Tenggara Timur
DETIKREPORTASE.COM : Ramadhan sebagai Momentum Perbaikan Diri dan Integritas





