Honor panitia dan seragam batik MTQ Kalbar di Kayong Utara dipertanyakan, panitia dikabarkan masih menunggak tagihan tukang jahit.
KAYONG UTARA — DETIKREPORTASE.COM | Di balik kemeriahan perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang sukses digelar di Kabupaten Kayong Utara pada Agustus 2026 lalu, tersimpan cerita satir yang kini ramai menjadi sorotan publik. Ketika para kafilah berlomba menunjukkan kemampuan terbaiknya di atas panggung, jajaran panitia lokal tampil seragam mengenakan batik resmi. Namun, di balik kerapian seragam tersebut, terselip kisah unik sekaligus memprihatinkan.
Berdasarkan informasi yang mencuat melalui unggahan akun Facebook Ijul KKU, seragam batik yang dikenakan oleh panitia disebut-bukan dibiayai penuh oleh anggaran kegiatan, melainkan harus ditanggung sendiri. Bahkan, hingga acara usai, dikabarkan masih ada panitia yang harus berurusan langsung dengan tagihan pelunasan kepada tukang jahit.
“Jangankan uang honor, untuk baju batik saja kami bayar sendiri tanpa ada penggantian. Bahkan sampai sekarang masih ada panitia yang menunggak di tukang jahit,” demikian petikan narasi yang beredar luas di tengah masyarakat.
Alokasi Honor Rp300 Juta Jadi Sorotan dan Bahan Kelakar
Tak hanya soal seragam batik yang menuai polemik, persoalan alokasi anggaran honorarium panitia turut menjadi sorotan tajam. Dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) awal, anggaran untuk honor panitia disebut-sebut mencapai kisaran angka Rp300 juta. Namun dalam praktiknya, alokasi tersebut dikabarkan mengalami penyesuaian atau pemangkasan karena alasan keterbatasan kas daerah.
Pihak penyelenggara disebut sempat memberikan penjelasan bahwa anggaran diprioritaskan untuk kebutuhan inti musabaqah, perlengkapan teknis, konsumsi, layanan kesehatan, hingga keamanan acara. Kendati demikian, perubahan sepihak ini memicu tanda tanya besar di kalangan panitia lokal yang telah mengerahkan tenaga, waktu, bahkan merogoh kocek pribadi demi suksesnya hajatan besar tersebut.
Situasi kontras ini pun tak luput dari bahan candaan bernada satire di kalangan warga. Senda gurau seperti “Dapat honor berapa?” yang dijawab dengan “Dapat pahala… sama nota utang batik” menjadi potret ironis di balik suksesnya perhelatan akbar tersebut.
Menunggu Transparansi dan Penjelasan Resmi Penyelenggara
Hingga saat ini, polemik mengenai status honor panitia dan kejelasan pemangkasan anggaran tersebut masih membutuhkan klarifikasi transparan dari pihak Pemerintah Kabupaten Kayong Utara maupun panitia pelaksana. Transparansi sangat diperlukan agar kerja keras para panitia yang mengabdi sejak tahap persiapan hingga acara rampung mendapatkan apresiasi yang layak.
Sebab, kesuksesan sebuah event besar tidak hanya diukur dari megahnya panggung dan indahnya piala, melainkan juga dari keadilan dan keterbukaan terhadap orang-orang yang telah bekerja di balik layar. Jangan sampai mereka yang berjasa justru harus pulang membawa kenangan pahit berupa tagihan utang pakaian.
✍️ Reportase : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Kayong Utara – Kalimantan Barat.
DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Informasi, Menyuarakan Kepentingan Publik.





