Ketika Nilai Tes Kemampuan Akademik Menjadi Cermin, Bukan Sekedar Pajangan
Detik Reportase com kalbar
Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih mulia, yakni membantu murid menajamkan pikirannya dan memperhalus perilakunya.
Di ruang kelas, guru membimbing murid untuk berpikir logis, bersikap bijaksana, memiliki rasa ingin tahu, serta mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pembelajaran Mendalam yang diperkuat melalui BSKAP Nomor 46 Tahun 2025. Pembelajaran mendalam menempatkan pemahaman sebagai tujuan utama.
Murid tidak hanya dituntut mengetahui suatu konsep, tetapi juga memahami maknanya, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, serta mampu menggunakannya untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi.
Dalam pembelajaran mendalam, keberhasilan tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia lahir dari proses yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan.
Guru merancang pengalaman belajar yang menantang kemampuan berpikir kritis. Murid diberi ruang untuk bertanya, menyelidiki, mengemukakan pendapat, berdiskusi, merefleksi, dan membangun pengetahuan secara aktif. Dengan cara seperti inilah pemahaman yang bertahan lama dapat terbentuk.
Karena itu, hasil TKA semestinya dipandang sebagai salah satu cermin untuk melakukan evaluasi, bukan sebagai tujuan akhir pendidikan. Angka yang diperoleh murid perlu dibaca sebagai informasi untuk memperbaiki proses pembelajaran yang masih lemah.
Jika capaian rerata TKA Matematika jenjang SD di Indonesia misalnya, masih berada di bawah Bahasa Indonesia, maka fokus perbaikannya bukan sekadar menambah latihan soal menjelang asesmen berikutnya.
Hal yang lebih penting adalah membenahi kualitas pembelajaran matematika sejak awal, memperkuat pemahaman konsep dan membangun budaya bernalar di dalam kelas.
Sesungguhnya sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya mampu menghasilkan nilai tinggi pada satu momentum asesmen.
Sekolah yang hebat adalah sekolah yang memiliki sistem pembelajaran yang sehat, konsisten, dan berkualitas sehingga mampu menumbuhkan pemahaman jangka panjang pada diri murid.
Nilai yang baik kemudian hadir sebagai konsekuensi logis dari proses yang baik, bukan sebagai tujuan yang dikejar dengan segala cara.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu terus kita ajukan bukanlah berapa banyak murid yang memperoleh skor tertinggi, melainkan seperti apa kualitas manusia yang sedang kita bentuk melalui pendidikan.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menjawab soal, tetapi generasi yang mampu berpikir kritis, bernalar mendalam, berkarakter kuat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang terus berubah.
Jika pendidikan hanya berfokus pada angka mungkin kita akan menghasilkan banyak murid yang sukses menghadapi tes. Namun jika pendidikan berfokus pada kualitas pembelajaran, kita akan menghasilkan generasi pembelajar yang mampu menghadapi kehidupan.
Dan di antara keduanya, pilihan itulah yang seharusnya menjadi arah perjalanan pendidikan kita. Oleh karena itu, momentum hasil TKA semestinya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan bahwa kualitas pendidikan tidak dibangun dari hasil yang instan. Ia tumbuh dari proses yang dirancang dengan baik, dilaksanakan secara konsisten, dan berpusat pada upaya memanusiakan manusia.
Sebab pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan murid yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu berpikir jernih, bersikap arif, dan terus belajar sepanjang hayat.
Reporter Slamet
Detik Reportase com kalbar





