Kualitas Udara Singapura Berada di Angka PSI 92, Ancaman Kabut Asap Lintas Batas dari Sumatra dan Kalimantan Belum Berakhir
SINGAPURA — DETIKREPORTASE.COM | Kabut asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Sumatra dan Kalimantan hingga kini masih menjadi perhatian serius bagi otoritas di Singapura. Meskipun kondisi kualitas udara terpantau mulai berangsur membaik, ancaman kabut asap lintas batas dipastikan belum sepenuhnya hilang.
Berdasarkan data pemantauan terbaru pada Senin (7/9/2026), angka Pollutant Standards Index (PSI) di wilayah Central Singapura tercatat berada di level 92. Sebagai informasi, PSI merupakan indeks resmi yang digunakan pemerintah Singapura untuk mengukur tingkat kualitas udara harian. Angka kisaran 51 hingga 100 dikategorikan dalam tingkat sedang, sementara rentang 101 hingga 200 sudah masuk dalam kategori tidak sehat.
Sempat Menembus Ambang Batas Tidak Sehat pada Akhir Pekan
Sebelum angka PSI melandai ke angka 92, kondisi udara di negeri merlion tersebut sempat mengalami penurunan drastis dalam beberapa hari terakhir akibat terjangan asap tebal.
Pada Sabtu (5/9/2026), indeks PSI di kawasan Central sempat menyentuh angka 100, berada tepat di ambang batas kategori tidak sehat. Kepulan asap pekat yang terseret angin dari wilayah Sumatra bagian tengah, Sumatra selatan, serta Kalimantan Barat terpantau bergerak masif mengarah ke wilayah Singapura.
Kondisi tersebut langsung memicu kewaspadaan tinggi, terutama bagi kelompok masyarakat rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan atau asma.
Peringatan Dini Pakar Singapura dan Catatan SIIA
Potensi ancaman kabut asap musiman ini sejatinya telah jauh-jauh hari diingatkan oleh Singapore Institute of International Affairs (SIIA).
Lembaga kajian tersebut menilai bahwa risiko kabut asap lintas batas sepanjang musim kemarau tahun 2026 tergolong cukup tinggi. Periode krusial antara bulan Agustus hingga September bahkan dipandang sebagai fase kritis yang menuntut penanganan ekstra ketat.
Ketua SIIA, Simon Tay, secara tegas mengingatkan negara-negara di kawasan regional agar tidak hanya bersikap pasif menunggu bencana memburuk.
“Prakiraan menunjukkan musim kemarau yang cukup parah, tetapi kita tidak boleh hanya pasrah menghadapinya. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak terburuk, sekaligus memperkuat ketahanan iklim, energi, pangan, dan kerja sama antarnegara di kawasan,” ujar Simon.
Posisi PSI 92 Bukan Berarti Situasi Aman Sepenuhnya
Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah selatan ASEAN saat ini masih diliputi kondisi cuaca yang relatif kering. Sejumlah titik panas (hotspots) terpantau masih aktif di beberapa titik di Sumatra dan Kalimantan, dengan arah angin yang berpotensi terus mendorong asap melintasi selat.
NEA mengingatkan bahwa angka PSI 92 tidak boleh dibaca sebagai sinyal bahwa situasi telah sepenuhnya aman. Walaupun masih berada dalam batas kategori sedang, fluktuasi cuaca dan dinamika arah angin dari tenggara hingga barat daya dapat dengan cepat kembali memperburuk kualitas udara dalam hitungan jam jika titik-titik api tidak segera dipadamkan.
Kini, perhatian tertuju pada efektivitas penanggulangan karhutla di daratan Sumatra dan Kalimantan. Selama titik panas masih bertahan dan tiupan angin mendukung pergerakan partikel polusi, bayang-bayang kabut asap lintas batas akan terus mengintai kawasan regional.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Singapura – Internasional.
DETIKREPORTASE.COM — Kabut Asap Indonesia Masih Mengintai Singapura, Ancaman Belum Berakhir.





