EkonomiJawa Timur

Investasi UEA-China Masuk Bangkalan, KAKI Jatim Pertanyakan Lahan Industri: TPA Saja Sulit?

×

Investasi UEA-China Masuk Bangkalan, KAKI Jatim Pertanyakan Lahan Industri: TPA Saja Sulit?

Sebarkan artikel ini
Suasana Pendopo Bupati Bangkalan lokasi penandatanganan MoU investasi kawasan industri.
KAKI Jatim mempertanyakan kesiapan lahan seluas 80 hektare serta dampak lingkungan dari rencana masuknya investasi asing UEA-China ke Kabupaten Bangkalan.

​Investigasi Kesiapan Lahan Seluas 70–80 Hektare dan Dampak Lingkungan Jadi Sorotan Tajam Komite Anti Korupsi Indonesia

BANGKALAN — DETIKREPORTASE.COM | Rencana ambisius pembangunan kawasan industri skala besar di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang melibatkan konsorsium investor asal Uni Emirat Arab (UEA) dan China langsung memicu reaksi keras dari kalangan masyarakat sipil. Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Jawa Timur secara terbuka melontarkan kritik tajam serta mempertanyakan validitas kesiapan lahan hingga proyeksi dampak lingkungan yang mengikutinya.

​Sorotan dan kritik terbuka ini disampaikan langsung oleh Ketua KAKI Jawa Timur, Moh Hosen, menyusul agenda penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) antara Pemerintah Kabupaten Bangkalan dan para investor asing yang dilangsungkan di Pendopo Bupati Bangkalan pada Kamis, 10 September 2026.

​Proyek investasi raksasa ini melibatkan korporasi asing seperti Odasco LLC asal UEA serta Suzho Engineering Co. Ltd dari China. Berdasarkan rencana awal, kawasan industri tersebut diproyeksikan mencakup beragam sektor manufaktur dan pengolahan, mulai dari industri bioetanol, pengolahan santan kelapa, furnitur, spring bed, tekstil, pengolahan plastik, karton, hingga pabrik komponen panel surya. Di sisi lain, pihak pengembang turut menjanjikan komitmen penyerapan 75 persen kuota tenaga kerja lokal bagi warga Bangkalan.

​KAKI Jatim: “Mencari Lahan TPA Saja Susah, Kok Mau Bangun Lahan Industri 80 Hektare?”

​Kendati menawarkan janji manis penyerapan tenaga kerja, Moh Hosen justru menyoroti aspek fundamental yang dinilainya tidak realistis, yakni ihwal ketersediaan dan proses pengadaan lahan seluas 70 hingga 80 hektare yang saat ini diklaim masih berada dalam tahap pembebasan.

​Secara sarkas, Hosen membandingkan kesulitan birokrasi dan pemerintah daerah dalam mencarikan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang hingga kini kerap menemui jalan buntu, dengan rencana ujug-ujug penyediaan lahan industri skala masif.

​“Selama ini Bupati Bangkalan mencari lahan TPA sampah saja kesusahan, apalagi lahan industri tahap awal 70–80 hektare. Ini sangat membingungkan,” ujar Hosen dalam keterangan resminya.

​Ia mengingatkan kepada seluruh pemangku kebijakan agar tidak silau dan sekadar terbuai oleh angka-angka investasi raksasa di atas kertas. Publik diminta untuk bersikap kritis dalam menimbang seberapa besar nilai tambah ekonomi riil yang benar-benar akan dinikmati oleh kas daerah dan masyarakat setempat dalam jangka panjang.

​Soroti Konektivitas Suramadu serta Ancaman Kerusakan Lingkungan

​Lebih lanjut, KAKI Jatim menduga bahwa ketertarikan para investor asing menanamkan modal di Bangkalan tidak terlepas dari faktor strategis akses Jembatan Suramadu. Infrastruktur penghubung tersebut dinilai menjadi kunci utama kelancaran rantai pasok dan distribusi logistik hasil produksi menuju pasar regional maupun internasional.

​Kendati demikian, di balik gegap gempita proyek mercusuar tersebut, Hosen mendesak Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk memegang kendali penuh dalam pengawasan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Jangan sampai mega proyek ini justru mengabaikan aspek ekologis yang berujung pada pencemaran sumber air bersih warga maupun kerusakan ekosistem sekitar.

​“Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi penonton atau sekadar buruh pekerja, sementara risiko kerusakan lingkungan dan limbah industrinya justru harus ditanggung seumur hidup oleh masyarakat sekitar,” tegasnya mengingatkan.

​Hingga berita ini diturunkan, jajaran Pemerintah Kabupaten Bangkalan maupun pihak perwakilan konsorsium investor UEA-China belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi terkait berbagai poin keraguan yang dilayangkan oleh KAKI Jatim. Redaksi DetikReportase.com tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait demi menjunjung tinggi objektivitas pemberitaan.

​✍️ Penulis : Redho Fitriyadi | Editor : Redaksi | Bangkalan – Jawa Timur.

DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Investasi, Menjaga Kepentingan Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250