Bima Zulkarnain Ditemukan Nelayan di Sialang Pasung Setelah Dua Hari Pencarian
MERANTI — DETIKREPORTASE.COM | Pencarian korban kecelakaan laut di Perairan Selat Air Hitam, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, berakhir duka.
Bima Zulkarnain (28), kru SB Four Brother 03 yang sebelumnya dinyatakan hilang setelah kecelakaan dengan SB Eagle 11, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu, 5 September 2026.
Korban ditemukan oleh nelayan di kawasan Sialang Pasung. Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, membenarkan penemuan tersebut.
“Alhamdulillah sudah ditemukan oleh nelayan di Sialang Pasung, dan kondisi korban meninggal dunia,” kata Prima Harrie Saputra.
Informasi tersebut sekaligus mengakhiri operasi pencarian terhadap Bima yang dilakukan oleh tim SAR gabungan sejak insiden kecelakaan terjadi pada Kamis, 3 September 2026.
Dua Hari Pencarian Intensif dengan Empat Metode
Sebelum ditemukan, Bima menjadi satu-satunya korban yang masih dalam pencarian setelah insiden tabrakan yang menyebabkan SB Four Brother 03 terbalik dan tenggelam di perairan Selat Air Hitam.
Pada hari kedua pencarian, Jumat (4/9/2026), operasi SAR dilangsungkan secara intensif mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WIB. Tim SAR gabungan mengerahkan empat metode taktis guna memperluas area penyisiran:
Penyisiran permukaan perairan (surface sweeping).
Pencarian bawah air menggunakan perangkat teknologi AQUAE.
Penyisiran dasar perairan menggunakan metode trawl jangkar.
Penyebaran informasi darurat kepada kelompok nelayan yang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian.
Hingga pencarian hari kedua ditutup sementara, korban belum berhasil ditemukan, sebelum akhirnya laporan dari nelayan di Sialang Pasung mengonfirmasi penemuan jasad korban pada keesokan harinya.
Kronologi Tabrakan: Terjadi 10 Menit Setelah Kapal Berlayar
Insiden nahas ini bermula ketika SB Eagle 11 bertolak dari Pelabuhan Mengkapan, Tanjung Buton, Kabupaten Siak, dengan tujuan akhir Selatpanjang.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kapal tersebut sempat singgah di Bengkel Akian untuk melakukan perbaikan busi. Setelah proses perbaikan rampung sekitar pukul 15.00 WIB, SB Eagle 11 kembali berlayar menuju salah satu Agen Penyalur Minyak Solar (APMS) untuk mengisi bahan bakar.
Namun, hanya berselang sekitar 10 menit dari pelayaran tersebut, kapal bertabrakan dengan SB Four Brother 03 di Perairan Selat Air Hitam pada pukul 15.10 WIB. Benturan keras membuat SB Four Brother 03 langsung terbalik dan karam ke dasar perairan. Sementara itu, lima orang kru yang berada di atas SB Eagle 11 dilaporkan selamat.
Penyelidikan Kepolisian dan Imbauan Keselamatan Pelayaran
Sesaat setelah menerima laporan musibah tersebut, personel Satpolairud Polres Kepulauan Meranti bersama tim SAR langsung bergerak menuju titik koordinat kejadian.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita, mengungkapkan bahwa petugas mendapati bangkai SB Four Brother 03 sudah dalam posisi terbalik di dalam air. Sejumlah serpihan dan barang milik korban seperti kursi kapal, busa tempat duduk, lifebuoy, jaket pelampung, kayu palet, hingga sandal ditemukan mengapung di sekitar lokasi.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti tabrakan tersebut. Aparat menegaskan bahwa kesimpulan resmi terkait unsur kelalaian maupun pihak yang harus bertanggung jawab baru akan diumumkan setelah proses penyidikan menyeluruh selesai.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat krusial akan pentingnya standar keselamatan transportasi air. Di wilayah kepulauan seperti Riau, speedboat merupakan tumpuan mobilitas harian masyarakat, sehingga kelayakan armada, kepatuhan prosedur pelayaran, serta kelengkapan alat keselamatan mutlak diperlukan untuk mencegah terulangnya mus serupa.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Kepulauan Meranti – Riau.
DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Fakta di Laut, Menghormati Korban, dan Menjaga Keselamatan Publik.





