Mahasiswa KKN-T Stunting Unhas Gelar Pelatihan dan Simulasi Antropometri di Desa Datara, Pastikan Ketepatan Data Tumbuh Kembang Anak
JENEPONTO — DETIKREPORTASE.COM | Kegiatan pengukuran berat serta tinggi badan balita di Posyandu ternyata bukan sekadar rutinitas penimbangan bulanan biasa. Sedikit saja kekeliruan teknis saat menimbang atau mengukur tinggi anak dapat membuat data pertumbuhan menjadi bias, yang pada gilirannya berisiko fatal pada ketepatan penentuan status gizi serta intervensi lanjutan.
Persoalan krusial inilah yang mendasari kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Stunting Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas). Bertempat di Desa Datara, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, para mahasiswa menginisiasi pelatihan intensif pengukuran antropometri khusus bagi para kader Posyandu pada 22 Juli 2026.
Program ini dirancang secara strategis untuk memperkuat kapasitas kader sebagai garda terdepan pemantauan tumbuh kembang balita di tingkat akar rumput. Mengingat data valid dari Posyandu adalah instrumen utama dalam mendeteksi dini masalah gizi buruk serta stunting, akurasi pengukuran menjadi harga mati.
Di bawah arahan langsung Dosen Pendamping Kegiatan (DPK), Dr. Hasan Basri, S.KM., kegiatan edukatif ini turut menggandeng Bidan Desa Datara serta puluhan kader Posyandu perwakilan dari berbagai dusun.
Praktik Langsung Kalibrasi Alat dan Simulasi Pengukuran
Bukan sekadar memaparkan teori di dalam ruangan, para mahasiswa KKN-T Unhas juga membekali peserta melalui sesi simulasi dan praktik lapangan secara langsung.
Para kader diajak berlatih menguasai instrumen pengukuran secara presisi, yang meliputi:
Teknik kalibrasi alat ukur agar terhindar dari margin error.
Prosedur penimbangan berat badan balita menggunakan timbangan digital modern maupun dacin tradisional secara benar.
Pengukuran panjang badan bayi menggunakan infantometer serta tinggi badan anak berdiri menggunakan stadiometer.
Salah satu perwakilan mahasiswa KKN-T Stunting Unhas Gelar 116 Desa Datara, Safira Desmitha Wahyuni, menegaskan bahwa ketelitian absolut sangat dibutuhkan dalam setiap tahapan pengukuran antropometri.
Menurutnya, kesalahan teknik sekecil apa pun akan berbuah pada disinformasi data pertumbuhan anak. Jika basis data yang masuk keliru, maka penentuan status gizi serta langkah tindak lanjut pelayanan medis di puskesmas juga berisiko meleset dari sasaran yang sebenarnya.
Respons Positif Kader: Kini Lebih Percaya Diri Minimalkan Kesalahan
Inisiatif pelatihan partisipatif ini mendapat sambutan hangat serta apresiasi tinggi dari para kader Posyandu setempat. Salah seorang kader peserta mengaku bahwa sesi praktik langsung sangat membantu menjernihkan keraguan yang selama ini kerap mereka rasakan di lapangan.
“Kegiatan ini sangat mencerahkan bagi kami. Dulu kami kadang ragu apakah cara membaca alat ukurnya sudah tepat. Dengan adanya praktik langsung dari adik-adik mahasiswa, kami jadi lebih percaya diri dan paham cara meminimalisir kesalahan ukur agar data Posyandu benar-benar akurat,” ungkapnya penuh antusias.
Pihak Bidan Desa Datara pun turut menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi mahasiswa Unhas. Penguatan keterampilan teknis kader dinilai sangat krusial dalam menopang mutu pelayanan kesehatan primer di tingkat desa.
Lebih jauh dari sekadar aspek teknis pencatatan, validitas data Posyandu menjadi kunci pembuka bagi tenaga medis untuk memetakan kondisi tumbuh kembang anak secara objektif. Langkah kolaboratif ini sekaligus merealisasikan misi Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam memperkuat sistem layanan kesehatan dasar anak.
Sebab pada akhirnya, di ruang-ruang Posyandu tingkat desa, satu angka akurat dari hasil penimbangan bisa menjadi penentu keputusan besar bagi masa depan kesehatan seorang anak. Mencegah data bias berarti mengawal langkah nyata dalam memutus rantai stunting dari hulu.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Jeneponto – Sulawesi Selatan.
DETIKREPORTASE.COM — Dari Posyandu, Mengawal Data Akurat untuk Masa Depan Anak.





