BeritaNusa Tenggara Timur

Bupati SIKKA Kukuhkan Bunda Literasi 2026–2029, Mampukah Gerakan 30 Menit Baca Bangkitkan Minat Generasi Muda?

513
×

Bupati SIKKA Kukuhkan Bunda Literasi 2026–2029, Mampukah Gerakan 30 Menit Baca Bangkitkan Minat Generasi Muda?

Sebarkan artikel ini
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengukuhkan Bunda Literasi Kabupaten Sikka 2026–2029 di Maumere dorong gerakan 30 menit baca buku
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago bersama Bunda Literasi Kabupaten Sikka Ny. Fista Sambuari Kago usai pengukuhan di Aula Frans Seda Maumere, Jumat (27/2/2026).

Tantangan Minat Baca di Era Gadget dan Strategi Daerah Menjawab Krisis Literasi

MAUMERE, SIKKA – Pemerintah Kabupaten Sikka menegaskan komitmen memperkuat budaya literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Hal itu ditegaskan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, saat mengukuhkan Bunda Literasi Kabupaten Sikka periode 2026–2029, Ny. Fista Sambuari Kago, SH, di Aula Frans Seda Maumere, Jumat (27/2/2026).

Dalam sambutannya, Bupati menyoroti rendahnya tingkat kegemaran membaca di tengah masyarakat, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, penggunaan ponsel pintar dan gadget kini lebih dominan dibandingkan aktivitas membaca buku.

“Tantangan kita saat ini adalah minat baca yang masih rendah. Anak-anak dan bahkan kita sendiri lebih cenderung menggunakan HP Android ketimbang membaca buku,” ujar Bupati.

Ia menegaskan bahwa peran Bunda Literasi sangat strategis sebagai figur inspiratif yang mampu menggerakkan budaya membaca, menulis, dan belajar sepanjang hayat di Kabupaten Sikka.

 

Peran Strategis Bunda Literasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

Bupati menjelaskan bahwa Bunda Literasi memiliki tanggung jawab mendorong kebiasaan membaca di kalangan pelajar dan masyarakat umum, mengajak keluarga menjadikan literasi sebagai budaya harian, serta mempromosikan literasi digital yang cerdas dan bertanggung jawab.

Pemerintah Kabupaten Sikka juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS), Dinas PKO, Dinas PMD, komunitas literasi, pegiat sains, serta pemerhati pendidikan dan budaya.

Kolaborasi ini dinilai penting agar gerakan literasi tidak berhenti di sekolah, tetapi menjangkau desa, komunitas, rumah tahanan, rumah sakit, hingga ruang publik lainnya.

Bupati bahkan meminta Dinas PKO mulai menggencarkan “GONG LITERASI” melalui Gerakan 30 Menit Baca Buku sebelum pelajaran dimulai. Untuk mendukung gerakan tersebut, setiap SD dan SMP di bawah kewenangan kabupaten diharapkan memiliki pojok baca atau perpustakaan sekolah yang aktif.

“Kita ingin mewujudkan masyarakat Sikka yang gemar membaca, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Literasi adalah fondasi lahirnya generasi muda yang cerdas dan kritis,” tegasnya.

 

Literasi dan Tanggung Jawab Publik dalam Perspektif Nasional

Gerakan literasi daerah tidak berdiri sendiri. Dalam konteks nasional, penguatan budaya membaca berkelindan dengan kesadaran hukum dan tanggung jawab warga negara.

Berlakunya regulasi pidana terbaru menuntut masyarakat semakin melek hukum dan informasi. Pemahaman terhadap norma dan konsekuensi hukum menjadi bagian penting dari literasi warga.

Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/

Selain itu, penguatan literasi juga berperan dalam membangun budaya transparansi dan pengawasan publik terhadap tata kelola pemerintahan. Sejumlah kasus korupsi yang terungkap di berbagai daerah menunjukkan pentingnya masyarakat yang kritis dan terinformasi.

Peta kasus korupsi nasional dapat dilihat di sini:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/

Literasi publik juga berkaitan erat dengan isu ketahanan pangan dan pengawasan distribusi subsidi. Kesadaran masyarakat terhadap kebijakan publik, termasuk subsidi sektor pertanian, membutuhkan akses informasi yang benar dan edukatif.

Baca juga:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/

Dengan demikian, gerakan literasi di Sikka tidak hanya berbicara tentang membaca buku, tetapi juga membangun masyarakat yang sadar hukum, kritis terhadap kebijakan, dan aktif mengawasi tata kelola publik.

 

Inovasi DISARPUS dan Semangat Budaya Lokal

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyatakan bahwa penguatan literasi mendapat dukungan penuh dari Bupati dan Bunda Literasi.

Ia menyebut sejumlah inovasi telah dijalankan, seperti Program Wisata Literasi dan layanan Antar Buku bagi lansia, difabel, warga binaan di Rumah Tahanan Maumere, serta pasien rawat inap di rumah sakit Maumere, Kewapante, dan Lela.

Program tersebut dinilai sebagai langkah strategis memperluas akses layanan perpustakaan bergerak hingga menjangkau kelompok rentan.

Suasana pengukuhan semakin semarak ketika Bupati bersama Ny. Fista Sambuari Kago turut larut dalam tarian Hegong Kreasi bersama kelompok tari SDN Detung, Kecamatan Nelle. Momen tersebut menjadi simbol bahwa literasi dan budaya lokal dapat berjalan beriringan dalam membangun karakter generasi muda.

Di akhir sambutannya, Bupati menyampaikan ucapan selamat kepada Bunda Literasi Kabupaten Sikka yang baru dikukuhkan dan berharap amanah tersebut dijalankan dengan dedikasi dan semangat pengabdian.

✍️ Yuven Fernandez | detikreportase.com | Sikka – NTT

DETIKREPORTASE.COM : Membangun Generasi Cerdas dari Daerah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250