Kalimantan Barat

Bupati Ketapang, Alexander Wilyo secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) XII Dewan Adat Dayak (DAD) di Kecamatan Simpang dua

×

Bupati Ketapang, Alexander Wilyo secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) XII Dewan Adat Dayak (DAD) di Kecamatan Simpang dua

Sebarkan artikel ini

Bupati Ketapang, Alexander Wilyo secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) XII Dewan Adat Dayak (DAD) di Kecamatan Simpang dua

Ketapang, Detik Reportase.com kalbar – Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, S.STP., M.Si., yang juga Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik bergelar Adat Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua, secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) XII Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Ketapang di Kecamatan Simpang Dua, Selasa (16/6/2026).

Pembukaan PGD XII berlangsung meriah dengan diawali penyambutan adat kepada Bupati beserta rombongan melalui pertunjukan pencak silat IPSI Simpang Dua, ritual tinjak telur, pancung buluh muda, tarian bedondoi’, prosesi ngalu, parade kontingen DAD kecamatan, pertunjukan barongsai, hingga ritual adat Ngise’ Sansayau dan Nganuata sebagai bentuk doa adat.

Dalam sambutannya, Bupati Ketapang menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, Dewan Adat Dayak, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat Simpang Dua yang telah sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Gawai Dayak XII.

Bupati menegaskan bahwa Pekan Gawai Dayak bukan sekadar perayaan budaya, tetapi merupakan momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat adat sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri. Karena itu, adat, budaya, dan tradisi harus terus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan kepada generasi muda,” tegas Bupati.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Gawai sebagai sarana memperkuat identitas budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai positif yang menjadi pedoman kehidupan bermasyarakat.

Ia mengingatkan agar pelaksanaan Gawai terbebas dari aktivitas yang dapat merusak citra budaya, seperti penyalahgunaan narkoba maupun perjudian, karena hal tersebut bukan bagian dari adat dan tradisi Dayak.

Detik Reportase com kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250