Kenangan Bersahabat dengan Uskup Emeritus
KUPANG | DETIKREPORTASE.COM – Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang Pr meninggalkan jejak mendalam bagi siapa saja yang pernah berjumpa dengannya. Gregor Neonbasu SVD, PhD, antropolog dan mantan pengurus Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (YAPENKAR), mengenang sosok Uskup Emeritus sebagai sahabat sejati yang selalu hadir dengan kasih dan perhatian tulus.
Sepanjang sepuluh tahun aktif di YAPENKAR (2008-2018), Neonbasu sering mengunjungi Mgr. Petrus di Istana Keuskupan Oepoi, Kupang. “Beliau bukan hanya seorang Uskup Agung atau pembina lembaga, tetapi rekan dan teman yang memberi banyak inspirasi dalam mengelola yayasan dan pendidikan,” ungkap Neonbasu.
Uskup Emeritus selalu menekankan pentingnya melihat setiap orang sebagai sahabat, bukan sekadar tenaga kerja. “Jadikanlah semua dosen, pegawai, dan staf sebagai sahabatmu. Dengan begitu, mereka pantas menjadi teman kerja Allah,” pesan Mgr. Petrus, yang terus menjadi pedoman bagi para pengurus YAPENKAR dan UNIKA.
Sosok Peziarah yang Sederhana dan Tegas
Mgr. Petrus dikenal sebagai pribadi sederhana, namun tegas dan bijaksana. Dalam setiap pertemuan, baik formal maupun informal, ia selalu menekankan prinsip hidup seimbang: melayani sesama sambil menjaga kehidupan rohani. Kesederhanaannya membuatnya dekat dengan umat, pengurus, dan semua staf di Keuskupan.
Menurut Neonbasu, meski sering terlihat keras dengan kata-kata, Mgr. Petrus tidak pernah menyimpan kemarahan. “Ia cepat marah, tapi segera berdamai dan tidak menyimpan dendam. Hatinya selalu terbuka untuk membangun persahabatan dan solidaritas,” ujarnya.
Moto episcopalnya, Per transiit benefaciendo – “Ia berkeliling sambil berbuat baik” – menjadi cermin kehidupan pelayanan Mgr. Petrus. Setiap langkah dan keputusan selalu diarahkan untuk kebaikan bersama, sambil menumbuhkan harmoni dan rasa hormat terhadap sesama.
Kebenaran, Integritas, dan Pelayanan Kontekstual
Selama mengemban tugas sebagai Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus selalu menekankan pentingnya kejujuran dan integritas. Ia hadir di tengah umat, mendengar suara mereka, dan memperhatikan kebutuhan masyarakat kecil. Dari desa terpencil hingga pusat pendidikan, setiap orang dipandangnya sebagai bagian dari perahu kehidupan bersama yang harus dilayari dengan kerja sama dan kasih.
Ia menekankan agar kebenaran dan pelayanan dijalankan dalam konteks yang nyata. Menurut Neonbasu, Mgr. Petrus selalu menekankan pembangunan “rumah iman” dalam hati setiap staf dan umat. Dengan rumah iman yang kokoh, kata Mgr. Petrus, ketidakpuasan atau keluhan duniawi tidak akan menimbulkan konflik.
Selain itu, Mgr. Petrus juga mendorong pendidikan yang unggul dan bermartabat, sambil menanamkan solidaritas dan kerja sama lintas iman. Setiap kebijakan atau nasihatnya selalu dipandu oleh prinsip kasih, kebaikan, dan keadilan sosial.
Teladan Damai dan Cinta Kasih
Mgr. Petrus Turang pantas dikenang sebagai peziarah iman yang penuh kasih. Ia mengajarkan bahwa hidup berdamai, membangun persahabatan, dan melayani tanpa pamrih adalah inti dari panggilan rohani. Cintanya tidak hanya kepada para imam dan staf, tetapi juga kepada seluruh umat, termasuk mereka dari berbagai latar belakang.
“Segala teladan dan hidupnya yang suci akan terus berada dalam kenangan kami,” tulis Neonbasu. Sosok Uskup Emeritus ini meninggalkan warisan berupa integritas, kesederhanaan, dan komitmen melayani yang bisa menjadi teladan bagi generasi penerus.
✍️ Gregor Neonbasu SVD, PhD | detikreportase.com | Kupang – NTT
DETIKREPORTASE.COM : Teladan Hidup, Kesederhanaan, dan Cinta Kasih





