Program I-SEE masuk tahun ketiga, Pemkab Madiun matangkan strategi keberlanjutan layanan kesehatan mata inklusif.
MADIUN — DETIKREPORTASE.COM | Pemerintah Kabupaten Madiun mulai mematangkan langkah strategis guna memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mata inklusif agar tetap berjalan optimal setelah masa pendampingan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) bersama Yayasan Paramitra resmi berakhir. Komitmen tersebut dibahas secara mendalam dalam Pertemuan Lintas Sektor Program I-SEE yang dihadiri oleh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, hingga perwakilan organisasi penyandang disabilitas, Kamis (24/9/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, mengungkapkan bahwa perjalanan program kemitraan bersama Yayasan Paramitra di wilayahnya kini telah menginjak tahun ketiga. Menurutnya, pertemuan lintas sektor ini menjadi momentum krusial untuk merumuskan formulasi keberlanjutan agar seluruh capaian positif yang telah dibangun tidak terhenti begitu masa kerja sama selesai.
“Perjalanan program bersama Yayasan Paramitra di Kabupaten Madiun sudah memasuki tahun ketiga. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk kita pikirkan bersama, bagaimana agar program yang telah dirintis ini tetap berlanjut dan tidak berhenti saat masa pendampingan usai,” ujar dr. Heri.
Capaian 26 Puskesmas dan Pembentukan Desa Sehat Mata
Selama hampir tiga tahun pelaksanaan di lapangan, Program I-SEE terbukti mampu mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara signifikan, yang mencakup tenaga kesehatan, tenaga pendidik, hingga kader posyandu. Pelatihan intensif telah diberikan kepada tenaga kesehatan yang bertugas di 26 Puskesmas se-Kabupaten Madiun, termasuk penguatan pemahaman tata cara pelayanan ramah disabilitas melalui pendekatan Disability Inclusive Development (DID).
Selain penguatan kapasitas nakes, program ini juga sukses merealisasikan berbagai aksi nyata seperti skrining kesehatan mata massal bagi masyarakat, distribusi kacamata gratis, penyediaan instrumen alat bantu pemeriksaan visus, hingga fasilitasi alur rujukan medis yang cepat dan tepat. Di tingkat akar rumput, tercatat telah dibentuk sembilan Desa Sehat Mata (Desmat) sebagai percontohan. Bahkan, empat di antaranya telah menunjukkan kemandirian dengan mengalokasikan anggaran khusus untuk program kesehatan mata melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
Evaluasi Lapangan dan Kunjungan Langsung ke Penerima Manfaat
Sementara itu, Direktur Yayasan Paramitra, Aisiah Sugianti, menjelaskan bahwa sesi evaluasi program tahun ini dikemas secara berbeda dengan mengajak para pemangku kepentingan turun langsung meninjau kondisi riil para penerima manfaat. Para peserta dibagi menjadi empat kelompok kerja untuk mengunjungi langsung sejumlah titik layanan, yakni Puskesmas Sumbersari Saradan, Desa Sehat Mata Pucanganom Kebonsari, SMPN 1 Geger, serta Sekolah Luar Biasa (SLB) setempat.
“Melalui interaksi langsung dengan penerima manfaat di lapangan, para stakeholder dapat mendengarkan cerita, pengalaman, hingga tantangan secara riil. Dengan begitu, kolaborasi ke depan untuk mengoptimalkan program dapat terbangun lebih tepat sasaran,” jelas Aisiah.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Zenita, seorang anak berusia lima tahun penyandang low vision sejak lahir yang kini menempuh pendidikan di SDLB Desa Karangrejo, Kecamatan Wungu. Ibunda Zenita, Sri Wulandari, menceritakan bahwa putrinya sempat mendapatkan penanganan medis lanjutan di Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Surabaya berkat fasilitasi dan pendampingan dari Yayasan Paramitra.
Meskipun jadwal operasi lanjutan Zenita yang semula direncanakan saat usianya menginjak enam tahun harus ditunda sementara waktu karena faktor kondisi kesehatan, pihak keluarga tetap menaruh harapan besar terhadap perhatian dan kesinambungan dukungan pemerintah daerah ke depan.
Integrasi Kebijakan Daerah untuk Jangka Panjang
Menanggapi aspirasi tersebut, Pemkab Madiun kini terus menggalakkan integrasi layanan kesehatan mata inklusif agar dapat masuk secara permanen ke dalam sistem kebijakan perencanaan daerah. Langkah ini diambil demi menjamin hak kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, agar tetap terakomodasi dengan baik pasca-berakhirnya masa bakti Yayasan Paramitra.
✍️ Reportase : Daen | Editor : Redaksi | Madiun – Jawa Timur.
DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Informasi, Menyuarakan Kepentingan Publik.





