Aktivitas Tambang di Dusun Kampak Jebus Disorot, Warga Suarakan Kecemasan Ekonomi dan Minta Solusi Nyata
JEBUS — DETIKREPORTASE.COM | Aktivitas pertambangan di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, tengah menjadi sorotan publik. Perdebatan terkait isu lingkungan, kawasan aliran sungai, hutan mangrove, hingga penertiban hukum terus mengemuka di tengah masyarakat.
Namun, di balik polemik lingkungan tersebut, warga setempat mengingatkan bahwa ada persoalan krusial lain yang tidak boleh diabaikan, yakni nasib keberlangsungan ekonomi masyarakat sekitar. Warga mempertanyakan bagaimana kelanjutan hidup mereka apabila aktivitas tambang tersebut dihentikan secara sepihak tanpa adanya solusi alternatif.
Bagi warga Dusun Kampak, dampak ekonomi dari adanya aktivitas tambang tidak hanya dirasakan oleh para pekerja yang turun langsung ke lapangan. Perputaran roda ekonomi turut dirasakan oleh berbagai lapisan usaha kecil di sekitarnya.
Sejumlah warga menuturkan bahwa keberadaan aktivitas tersebut membuat warung-warung makan dan kopi ramai pembeli, tukang ojek mendapatkan tambahan penumpang, serta para pedagang kecil dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau aktivitas masyarakat ramai, warung juga ikut ramai. Ada yang membeli makanan, kopi dan kebutuhan lainnya. Bagi kami, perputaran ekonomi seperti itu sangat membantu,” ungkap Meli, salah seorang warga Dusun Kampak.
Meskipun demikian, Meli menyatakan bahwa masyarakat pada prinsipnya memahami jika setiap aktivitas harus berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Kalau memang ada aturan yang harus dipatuhi, kami tentu berharap semuanya jelas. Tetapi kalau aktivitas dihentikan, masyarakat juga perlu diberikan solusi agar tetap bisa mendapatkan penghasilan,” imbuhnya.
Tokoh Masyarakat Minta Kejelasan Aturan dan Perhatian untuk Fasilitas Sosial
Senada dengan Meli, Rudi selaku tokoh masyarakat Dusun Kampak menegaskan bahwa dampak ekonomi dari sektor pertambangan ini dirasakan secara luas oleh warga yang tidak bekerja langsung di lokasi tambang.
“Bukan hanya pekerja tambang yang mendapatkan penghasilan. Ada warung, tukang ojek dan usaha kecil lainnya yang ikut merasakan perputaran ekonomi,” ujar Rudi.
Menurutnya, masyarakat tidak berniat untuk mengesampingkan aturan hukum yang berlaku. Warga justru mengharapkan adanya transparansi dan bimbingan dari pihak berwenang apabila terdapat prosedur yang perlu diperbaiki.
“Kalau memang ada yang salah, tunjukkan apa yang salah dan bagaimana solusinya. Kalau ada aturan yang harus dipenuhi, masyarakat juga harus diberi kesempatan untuk mengetahui dan mematuhinya,” tegas Rudi.
Selain persoalan mata pencaharian harian, masalah ekonomi masyarakat di Dusun Kampak juga berkaitan langsung dengan fasilitas sosial keagamaan. Haji Amat, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa kondisi sarana ibadah di wilayah mereka membutuhkan uluran tangan dan perhatian.
“Kami sangat berharap mushola di Kampak bisa dipugar. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan tempat itu digunakan masyarakat untuk beribadah,” kata Haji Amat.
Harapan Warga: Menjaga Lingkungan Sekaligus Mempertahankan Kelangsungan Hidup
Warga Dusun Kampak pada dasarnya berharap agar penegakan hukum dan penertiban tambang tidak serta-merta berujung pada penutupan total tanpa memikirkan sumber penghidupan warga.
Apabila ditemukan adanya pelanggaran, penindakan dinilai sah untuk dilakukan sesuai dengan koridor aturan. Kendati demikian, jika aktivitas terpaksa dihentikan, warga mendesak pemerintah untuk proaktif menghadirkan alternatif lapangan pekerjaan yang nyata.
Bagi masyarakat Dusun Kampak, menjaga kelestarian lingkungan adalah ruang di mana mereka hidup, tetapi menjaga roda ekonomi adalah cara mutlak bagi mereka untuk bertahan hidup. Keduanya dinilai sebagai aspek penting yang tidak seharusnya diabaikan sebelah mata.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Jebus – Bangka Barat.
DETIKREPORTASE.COM — Menjaga Lingkungan, Mengawal Ekonomi Masyarakat Kampak.





