Pedagang Keluhkan Sewa Lapak Tembus Rp1,5 Juta
TAKALAR — DETIKREPORTASE.COM | Aktivitas hiburan rakyat berupa pasar malam yang baru saja merampungkan operasionalnya di Kelurahan Mangadu, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, pada 18 Agustus 2026 lalu, kini menyisakan polemik panjang. Alih-alih mereda, gelombang protes warga justru bergeser ke Kecamatan Galesong Selatan menyusul rencana pembukaan pasar malam serupa di Desa Bontokassi pada 26 Agustus 2026.
Bukan sekadar mempermasalahkan hiburan semata, sorotan tajam warga dan pedagang tertuju pada karut-marut perizinan, dugaan mangkirnya kewajiban pajak daerah, hingga beban tarif sewa lapak yang dinilai mencekik ekonomi pedagang kecil.
Dari Mangadu ke Bontokassi: Bayang-Bayang Tunggakan PAD
Sebelumnya, pasar malam di Kecamatan Mangarabombang sempat beroperasi selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ditutup secara resmi tanggal 18 Agustus lalu. Namun, berdasarkan konfirmasi awak media kepada Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Takalar, terungkap adanya dugaan kewajiban pajak atau retribusi karcis wahana yang belum diselesaikan oleh pihak pengelola selama kegiatan berlangsung.
Persoalan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kejelasan legalitas operasional inilah yang kemudian memicu kekhawatiran warga Desa Bontokassi. Mereka mendesak agar pemerintah daerah tidak menutup mata dan bersikap tegas memastikan seluruh aspek legalitas, administrasi, dan perpajakan telah beres sebelum izin diterbitkan.
Beban Pedagang Kecil: Tarif Lapak Capai Rp1,5 Juta
Selain persoalan administrasi pemerintahan, jeritan juga datang dari kalangan pedagang. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pengelola mematok tarif sewa lapak yang dinilai cukup memberatkan kantong pelaku usaha kecil:
Pedagang dengan tenda mandiri: Dikenakan biaya sewa hingga Rp1.000.000.
Pedagang dengan fasilitas tenda pengelola: Dikenakan biaya sewa hingga Rp1.500.000 selama kegiatan berlangsung.
Bagi pedagang kecil, angka tersebut tergolong tinggi mengingat mereka masih harus menanggung modal harian barang dagangan, biaya transportasi, pasokan listrik, serta risiko kerugian operasional. Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis di tengah masyarakat: apakah pasar malam benar-benar menjadi ruang perputaran ekonomi rakyat kecil, atau justru hanya memperkaya pihak penyelenggara di atas penderitaan pedagang?
Warga Desak Aparat dan Pemda Batalkan Izin Tanpa Restu Lingkungan
Aspek kenyamanan dan keamanan lingkungan turut menjadi pemicu utama gejolak di Galesong Selatan. Keramaian hingga larut malam, kebisingan wahana permainan, kemacetan arus lalu lintas, hingga potensi gangguan ketertiban umum membuat warga setempat resah.
Seorang warga Desa Bontokassi yang meminta identitasnya dirahasiakan dengan tegas meminta pihak kepolisian dan dinas terkait untuk tidak mengeluarkan izin operasional apabila belum ada kesepakatan tertulis dari masyarakat sekitar.
“Masyarakat Desa Bontokassi meminta kepada dinas terkait, pemerintah setempat, serta jajaran Polres Takalar untuk tidak mengeluarkan izin jika belum ada persetujuan resmi dari warga sekitar lapangan, khususnya terkait jaminan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan,” tegasnya kepada medi.
Pengelola Belum Berikan Tanggapan
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola penyelenggaraan pasar malam di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan yang diketahui bernama Hendra, belum memberikan keterangan atau tanggapan resmi terkait berbagai sorotan yang diarahkan kepadanya.
Ruang konfirmasi dan hak jawab tetap terbuka lebar bagi pihak manajemen pengelola guna menjelaskan status perizinan resmi, penyelesaian kewajiban pajak/retribusi daerah, mekanisme penentuan tarif lapak, serta langkah mitigasi keamanan bagi warga sekitar.
Pada akhirnya, penolakan ini bukanlah bentuk antipati terhadap hiburan rakyat, melainkan bentuk tuntutan warga akan penegakan aturan yang transparan, perlindungan terhadap pedagang kecil, serta jaminan ketertiban sosial agar keuntungan sepihak tidak mengorbankan ketenangan masyarakat luas.
✍️ Tim Redaksi | Editor: Redaksi | detikreportase.com | Takalar – Sulawesi Selatan
DETIKREPORTASE.COM : “Suarakan Fakta, Tegakkan Keadilan.”





