Momentum Tahun Baru Hijriah Diharapkan Menjadi Ruang Pemersatu Masyarakat Sekaligus Penguat Identitas Budaya Daerah
KETAPANG | DETIKREPORTASE.COM – Semangat persaudaraan dan pelestarian budaya mewarnai rapat persiapan kegiatan Pencucian Pusake Tanah Kayong yang digelar pada Rabu malam (3/6/2026) di Balai Peranginan Putra Penyangga Tanjung Pura, Gang Mente Permai, Paya Kumang, Kabupaten Ketapang.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026 atau bertepatan dengan 13 Muharram 1448 Hijriah tersebut diharapkan menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat Melayu dan Bugis sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Sebelum rapat teknis dilaksanakan, panitia kegiatan telah dibentuk melalui pertemuan sebelumnya. Dalam susunan kepanitiaan yang telah disepakati, Rion Sardi dipercaya sebagai Ketua Panitia dan Heri Iskandar sebagai Sekretaris Panitia untuk mengoordinasikan seluruh rangkaian persiapan kegiatan.
Berbagai Organisasi Budaya Bersatu dalam Persiapan Kegiatan
Rapat dihadiri berbagai organisasi dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya, sejarah, dan pusaka tradisional. Di antaranya PLK Kabupaten Ketapang, Barisan Pemuda Melayu, Daulat Iranata, PLK-NMT, Sanggar Putra Kayong, LPM, Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB), POM, HPMB, tokoh masyarakat, serta Ketua MABM Kecamatan Sungai Laur.
Ketua Panitia, Rion Sardi, mengatakan Pencucian Pusake Tanah Kayong lahir dari semangat kebersamaan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.
“Pencucian Pusake Tanah Kayong merupakan inisiatif bersama. Kegiatan ini bukan hanya tentang menjaga dan merawat pusaka, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan antara masyarakat serta seluruh komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian pusaka dan sejarah daerah,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Ketapang.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/
Panitia Dorong Keterlibatan Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya
Sekretaris Panitia, Heri Iskandar, menjelaskan bahwa rapat difokuskan pada pemantapan konsep kegiatan, pembagian tugas, serta koordinasi lintas organisasi agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan baik.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Ke depan, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan semata. Lebih dari itu, Pencucian Pusake Tanah Kayong harus mampu menyatukan semangat kebersamaan dan melahirkan langkah-langkah konkret dalam menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda,” katanya.
Dalam rapat tersebut, peserta juga membahas sejumlah agenda teknis, termasuk pelibatan komunitas budaya, publikasi kegiatan, serta upaya meningkatkan partisipasi generasi muda agar lebih mengenal sejarah dan nilai-nilai budaya daerah.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/
Persaudaraan Melayu-Bugis Dinilai Bagian dari Sejarah Ketapang
Ketua Daulat Iranata, Ira Syahroni, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai budaya merupakan jembatan yang mampu menyatukan berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang organisasi maupun komunitas.
“Kegiatan seperti ini penting untuk terus dijaga karena mampu memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap warisan budaya yang menjadi identitas kita bersama. Budaya adalah perekat yang menyatukan masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, tokoh Melayu-Bugis Ketapang, Pitriadi S. Hut, M.Si., menilai hubungan harmonis antara masyarakat Melayu dan Bugis telah terjalin sejak lama dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah daerah.
“Kebersamaan Melayu dan Bugis bukan sesuatu yang baru. Hubungan itu telah terjalin sejak zaman para leluhur dan terus terjaga hingga sekarang. Karena itu, kami mendukung penuh kegiatan ini sebagai simbol persatuan, kekompakan, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan kepada kita,” ujarnya.
Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/
Pelestarian Budaya Lokal Jadi Bagian dari Penguatan Identitas Bangsa
Dalam rapat tersebut, panitia juga membahas lokasi pelaksanaan kegiatan. Saat ini, Pencucian Pusake Tanah Kayong direncanakan berlangsung di Keraton Matan Tanjungpura Mulia Kerta. Namun, lokasi tersebut masih dalam tahap komunikasi dan koordinasi dengan pihak keraton serta para pemangku adat sehingga keputusan final akan ditetapkan setelah seluruh proses komunikasi mencapai kesepakatan bersama.
Pencucian Pusake Tanah Kayong 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya dalam menyambut Tahun Baru Hijriah, tetapi juga menjadi ruang pemersatu masyarakat, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga warisan budaya.
Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, pelestarian budaya lokal memiliki peran penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat karakter bangsa. Kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti ini dinilai menjadi salah satu upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.
✍️ Tim Detik Reportase Kalbar | detikreportase.com | Ketapang – Kalimantan Barat
DETIKREPORTASE.COM : Menjaga Warisan Budaya dan Memperkuat Persaudaraan Nusantara





