Kalimantan Barat

Ketika Nilai Tes Kemampuan Akademik Menjadi Cermin, Bukan Sekedar Pajangan

×

Ketika Nilai Tes Kemampuan Akademik Menjadi Cermin, Bukan Sekedar Pajangan

Sebarkan artikel ini

Ketika Nilai Tes Kemampuan Akademik Menjadi Cermin, Bukan Sekedar Pajangan

Pontianak,Detik Reportase.com kalbar – Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh unggahan sekolah yang menampilkan murid dengan capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tertinggi. Foto-foto murid berprestasi dipublikasikan dengan penuh kebanggaan, disertai capaian angka yang mengesankan.

Fenomena ini tentu dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras murid, guru, dan sekolah dalam mencapai hasil terbaik.

Namun di balik kebanggaan tersebut terdapat ruang refleksi yang perlu dihadirkan bersama. Apakah tingginya nilai TKA benar-benar mencerminkan kualitas pembelajaran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun atau justru hanya menjadi indikator keberhasilan sesaat yang belum tentu menggambarkan kedalaman pemahaman murid?

Pertanyaan ini menjadi penting karena sejarah pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa ketika hasil tes dijadikan ukuran utama keberhasilan sekolah, maka perlahan fokus pendidikan dapat bergeser.

Sekolah tidak lagi berorientasi pada bagaimana murid belajar secara bermakna, melainkan pada bagaimana murid memperoleh nilai setinggi mungkin. Akibatnya, proses pembelajaran yang seharusnya membangun pemahaman mendalam berisiko berubah menjadi sekadar latihan menghadapi tes.

Tentu tidak ada yang salah dengan nilai yang tinggi. Bahkan, capaian akademik terstandar seperti TKA yang baik merupakan sesuatu yang patut disyukuri.

Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika publikasi nilai tinggi kemudian dimaknai secara sempit sebagai satu-satunya indikator keberhasilan sekolah.

Jangan sampai muncul anggapan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang berhasil menghasilkan skor TKA tinggi, sementara kualitas proses pembelajaran yang sesungguhnya justru luput dari perhatian.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Ketika angka menjadi target utama, selalu ada godaan untuk menempuh jalan yang paling cepat. Program pembelajaran berpotensi dipenuhi latihan soal, pengulangan pola pertanyaan, hingga berbagai strategi yang berorientasi pada peningkatan skor jangka pendek.

Murid mungkin mampu menjawab soal dengan baik pada saat asesmen berlangsung namun belum tentu memiliki pemahaman yang mendalam terhadap konsep yang dipelajari.

Lebih jauh lagi, jangan sampai publikasi nilai TKA yang marak saat ini terjadi secara tidak sadar mendorong sekolah untuk berlomba-lomba menghalalkan berbagai cara demi memperoleh skor yang tinggi.

Bukan dalam arti melakukan pelanggaran, melainkan mengorbankan esensi pembelajaran itu sendiri. Waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk berdiskusi, bereksplorasi, mengembangkan kreativitas, dan melatih kemampuan bernalar dapat tergeser oleh aktivitas yang semata-mata bertujuan meningkatkan performa saat tes.

Seperti ketika proses pembelajaran semester 1 dan 2 yang hanya berfokus pada bedah kisi-kisi dan latihan soal TKA saja, yang pada akhirnya mengabaikan Capaian Pembelajaran serta Tujuan Pembelajaran yang menjadi kewajiban utama. Jika kondisi ini terjadi, maka pendidikan sedang bergerak menjauh dari tujuan utamanya.

Padahal hakikat pendidikan tidak pernah berhenti pada angka. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Tugas guru bukan sekadar mengajarkan materi atau memastikan murid mampu menjawab soal dengan benar. Bersambung

Reporter Slamet
Detik Reportase com kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250