Warga Kabor Bergerak Bersama di Awal Tahun
MAUMERE | DETIKREPORTASE.COM — Pagi yang cerah di awal tahun 2026 menjadi saksi bangkitnya semangat kebersamaan warga RT 02/RW 04, Kelurahan Kabor, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pada Jumat (9/1/2026), puluhan warga turun langsung ke jalan dalam aksi Jumat Bersih yang dipusatkan di area gapura masuk Jalan Heet Wolokoli.
Dengan parang, sapu, dan alat seadanya, warga membersihkan rumput liar yang menjulang, mengangkat sampah plastik, serta membuka saluran air yang tersumbat. Aksi ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bentuk kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan tetap sehat, terlebih memasuki musim penghujan yang rawan memicu berbagai penyakit.
Kondisi lingkungan yang kotor dan tidak terawat dinilai berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Oleh karena itu, warga sepakat bahwa pencegahan harus dimulai dari tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
Gotong Royong Tetap Relevan di Tengah Modernisasi
Salah satu penggerak kegiatan, Yohanes Kia Nunang, warga Kelurahan Kabor sekaligus pendiri Pondok Baca Kampung Kabor, menegaskan bahwa kerja bakti ini bukan hanya soal kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga upaya merawat nilai-nilai sosial yang mulai tergerus zaman.
Menurut Yohanes, gotong royong adalah warisan budaya yang tidak boleh hilang, meskipun masyarakat kini hidup di era modern dengan berbagai kemudahan teknologi.
“Lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab bersama. Meski zaman sudah modern, nilai kebersamaan melalui kerja bakti seperti ini tidak boleh luntur. Ini demi kesehatan dan masa depan kita semua,” ujar Yohanes di sela kegiatan.
Ia menilai bahwa keterlibatan langsung warga adalah kunci utama menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, program kebersihan apa pun akan sulit berjalan maksimal.
Aspirasi Warga untuk Pemerintah Kabupaten Sikka
Meski mengandalkan swadaya, warga Kelurahan Kabor tidak menutup mata terhadap pentingnya peran pemerintah daerah. Yohanes menyampaikan bahwa aksi Jumat Bersih ini juga menjadi sarana menyuarakan aspirasi warga kepada Pemerintah Kabupaten Sikka agar pengelolaan sampah di tingkat kelurahan mendapat perhatian serius.
Beberapa harapan yang disampaikan warga antara lain penambahan armada pengangkut sampah. Warga menilai, idealnya setiap kelurahan memiliki minimal tiga unit motor sampah roda tiga agar pengangkutan dapat dilakukan secara rutin dan merata.
Selain itu, optimalisasi kinerja petugas kebersihan juga menjadi sorotan. Warga berharap petugas dapat bekerja sesuai ketentuan operasional, yakni enam jam kerja efektif setiap hari, sehingga tidak terjadi penumpukan sampah yang berlarut-larut di lingkungan permukiman.
“Kesadaran masyarakat sudah ada, tinggal bagaimana fasilitas dan sistem dari pemerintah diperkuat. Kalau ini berjalan seiring, masalah sampah pasti bisa diatasi,” kata Yohanes.
Misi Bersama Menghapus Stigma “Kabupaten Sampah”
Lebih jauh, Yohanes menegaskan bahwa kegiatan gotong royong ini membawa misi besar, yakni menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada Kabupaten Sikka sebagai daerah dengan pengelolaan sampah yang buruk.
Ia menyebut, label “Kabupaten Sampah” yang pernah disematkan oleh pemerintah pusat menjadi cambuk moral bagi masyarakat untuk berbenah. Namun, perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan komitmen setiap individu untuk tidak membuang sampah sembarangan.
“Tujuannya jelas. Masyarakat Sikka ingin melepas label negatif itu. Dengan sinergi antara kesadaran warga dan dukungan fasilitas dari pemerintah, kami optimistis Sikka bisa kembali menjadi kabupaten yang bersih, asri, dan membanggakan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua RT 02 Kelurahan Kabor, Emil Goleng. Ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sikka untuk terus membudayakan gotong royong dan memperkuat sinergi dengan pemerintah setempat.
Menurut Emil, kebersihan lingkungan adalah fondasi utama kualitas hidup masyarakat. Jika lingkungan bersih, maka kesehatan, kenyamanan, dan citra daerah juga akan terjaga.
“Biar label yang disematkan bahwa Kabupaten Sikka adalah Kabupaten Sampah tidak lagi bergema. Semua harus ambil bagian, mulai dari hal kecil di lingkungan masing-masing,” pungkas Emil.
Aksi Jumat Bersih di Jalan Heet Wolokoli ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah. Dari sapu dan parang di tangan warga, harapan akan Sikka yang bersih dan bermartabat kembali ditumbuhkan.
✍️ Yuven Fernandez | detikreportase.com | Sikka – Nusa Tenggara Timur
DETIKREPORTASE.COM : Gotong Royong Warga, Lingkungan Bersih, Daerah Bermartabat





