BeritaEkonomiJakarta

Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh: Menkeu Tegaskan Surplus Perdagangan dan Daya Beli Menguat.

542
×

Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh: Menkeu Tegaskan Surplus Perdagangan dan Daya Beli Menguat.

Sebarkan artikel ini

APBN KiTa Jadi Penopang Stabilitas dan Akselerasi Pertumbuhan Nasional

JAKARTA | DETIKREPORTASE.COM – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir 2025 tetap terjaga kuat dan berkesinambungan. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa yang digelar di Jakarta, Kamis, 18 Desember 2025.
Dalam paparannya, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa berbagai indikator makroekonomi menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan. Salah satu indikator utama adalah neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus secara konsisten.

Surplus Perdagangan Menguat di Tengah Dinamika Global

Menkeu menjelaskan bahwa surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut meskipun laju ekspor dan impor mengalami perlambatan seiring meredanya efek front loading perdagangan global. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari hingga November 2025 mencapai USD38,7 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD29,2 miliar.
“Neraca perdagangan kumulatif itu naik sebesar 32,3 persen. Dampak bersih dari perkembangan global justru membaik bagi Indonesia. Artinya, kondisi global masih menopang pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Menkeu.
Ia menilai capaian tersebut mencerminkan daya tahan sektor eksternal Indonesia sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Ekspor Bernilai Tambah dan Impor Barang Modal Tetap Sehat

Dari sisi perdagangan internasional, kinerja ekspor kumulatif Januari hingga November 2025 tercatat tumbuh 5,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh komoditas bernilai tambah dan industri manufaktur, seperti logam dasar, crude palm oil (CPO), kimia dasar, serta semikonduktor.
Sementara itu, impor juga tumbuh secara sehat, terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan barang modal berupa peralatan komunikasi dan komputer.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas investasi masih berjalan dengan baik dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan tetap terjaga,” jelas Menkeu.

Inflasi Terkendali dan Daya Beli Masyarakat Menguat

Menkeu juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi nasional hingga November 2025 tercatat sebesar 2,72 persen, masih berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi inti bergerak stabil dan menguat, mencerminkan permintaan domestik yang terus tumbuh.
Sementara itu, inflasi administered price tetap rendah berkat kebijakan energi nasional yang akomodatif. Pemerintah terus mewaspadai potensi inflasi volatile food, terutama yang berkaitan dengan musim hujan dan risiko bencana, melalui penguatan peran Bulog serta sinergi kebijakan pusat dan daerah.
Di sisi lain, indikator konsumsi dan mobilitas masyarakat menunjukkan tren positif. Penjualan ritel dan kendaraan bermotor tetap tumbuh, penjualan BBM konsisten ekspansif, serta konsumsi listrik relatif stabil dengan peningkatan pada sektor bisnis.
“Masyarakat sudah mulai pulih daya belinya dan belanja meningkat dibandingkan sebelumnya. Ini menjadi sinyal bahwa ekonomi domestik mulai memasuki fase ekspansi yang lebih cepat,” ungkap Menkeu.

PMI Manufaktur Kuat dan APBN Jadi Instrumen Utama 2026

Menkeu menambahkan bahwa sektor riil global menunjukkan ketahanan, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global yang hingga November 2025 masih berada di zona ekspansi. Indonesia bahkan mencatatkan kinerja manufaktur yang solid dengan PMI manufaktur mencapai level 53,3.
Peningkatan ini didorong oleh permintaan domestik menjelang Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Ramadan dan Idulfitri pada kuartal I 2026.
“PMI berada pada level yang tinggi. Artinya produsen melihat permintaan meningkat sehingga mereka menaikkan rencana produksinya,” kata Menkeu.
Ke depan, pemerintah akan terus mendorong percepatan belanja negara dan optimalisasi penerimaan untuk menjaga ruang fiskal yang sehat dan responsif. APBN akan dikelola sebagai instrumen utama stabilisasi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi, sekaligus memastikan program prioritas berjalan efektif dan perlindungan masyarakat tetap kuat.
✍️ Tim | detikreportase.com | Jakarta – DKI Jakarta
DETIKREPORTASE.COM : APBN Kuat, Ekonomi Tangguh, Indonesia Optimistis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250