JAYAPURA |DETIKREPORTASE.COM–
Suasana politik Papua menjelang Pemilihan Gubernur 2025 semakin memanas. Kunjungan silaturahmi Calon Gubernur Matius Derek Fakhiri (MDF) ke rumah Ondofolo Besar Hebeybhulu Kampung Yoka, Ismael Mebri, memicu gelombang reaksi negatif di media sosial dari pendukung rival politik, Benhur Tomi Mano dan Costan Karma (BTM-CK).
Kunjungan yang seharusnya menjadi momentum adat dan persaudaraan justru dibalas dengan ujaran kebencian dan pelecehan. MDF dan Ondofolo Mebri dihina secara rasis di berbagai platform, bahkan disebut sebagai pengkhianat dan dicaci maki secara terbuka oleh pendukung lawan.
Serangan Rasis dan Klaim Arogansi di Media Sosial
Aksi brutal di jagat maya pun menuai kecaman luas. Salah satu narasi yang viral adalah ancaman dari pendukung BTM-CK yang menyebut akan “menghapus jejak kaki MDF yang bau” dari tanah Yoka. Tuduhan itu tidak hanya melecehkan MDF sebagai figur publik, tetapi juga mencoreng martabat adat Ondofolo besar yang menjadi simbol budaya masyarakat Tabi.
Hal ini membuat publik bertanya: sampai di mana batas etika politik dan penghormatan terhadap tokoh adat Papua?
HYU Turun Gunung: Rakyat Tabi Tidak Akan Diam
Ketua Umum Relawan MARI YO MANIA, Hendrik Yance Udam (HYU), langsung angkat bicara menanggapi serangan tersebut. Dalam pernyataannya usai pertemuan tertutup bersama Ondofolo Besar di Yoka, Sabtu (17/5/2025), HYU menyampaikan ultimatum tegas.
“Kami tidak akan tinggal diam. MDF dan Ondofolo Ismael Mebri adalah tokoh besar Papua yang patut dihormati. Kami akan hapus jejak kaki BTM dari Yoka dan seluruh Tanah Tabi,” tegas HYU dengan nada tajam di hadapan wartawan.
Sindiran Tajam HYU untuk BTM
HYU menyoroti bahwa selama dua periode menjabat Wali Kota Jayapura, BTM tidak memberikan ruang strategis kepada anak-anak adat di Yoka dan Waena. “Selama 10 tahun memimpin, tidak ada satu pun anak asli Yoka duduk di eselon I atau II. Seolah-olah mereka tidak layak dipercaya,” sindirnya keras.
Ia menyebut, kunjungan BTM ke Yoka pasca MDF hanyalah bentuk kepanikan politik dan pencitraan murahan. “Ini sandiwara politik yang mudah dibaca. Jangan lagi percaya simbolisasi palsu,” katanya.
Panggilan untuk Perubahan Nyata
Dalam penutup pernyataannya, HYU mengajak rakyat Papua, khususnya di Tanah Tabi, untuk bangkit melawan politik diskriminatif dan memenangkan calon pemimpin yang berpihak pada rakyat adat.
“Perjuangan membangun Papua dimulai dari penghargaan terhadap orang-orang adat. Mari bersatu untuk perubahan nyata. Menangkan MARI YO di PSU Pilgub Papua, 6 Agustus 2025,” pungkasnya.
✍️ Yerry Basri Max | DetikReportase.com | Jayapura, Papua





