SIKKA |DETIKREPORTASE.COM
– Di balik keindahan alam Flores, kisah pilu Mama Martina Bala (53), seorang janda dari Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, menyentuh nurani siapa pun yang mendengarnya. Enam tahun sudah ia bertahan hidup bersama empat dari enam anaknya dalam rumah kecil berdinding pelupu bambu yang miring dan hampir roboh.
Bangunan berukuran 2,5 x 4 meter itu hanya punya satu kamar, tanpa pintu permanen, dan tanpa kamar mandi. Lantai tanah jadi alas harian, dan kardus-kardus bekas menjadi lemari penyimpanan pakaian. Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 10×20 meter ini dibeli oleh Heriyanto Seno, anak kedua Mama Martina yang kini merantau sebagai buruh sawit di Kalimantan.
Keseharian mereka dijalani dalam keterbatasan: makan hanya sekali sehari, menumpang listrik dari ketua RT, dan menggunakan kamar mandi milik tetangga.
Tenun Lipa dan Harapan dari Moke: Bertahan dari Serpihan Asa
Anak-anaknya—Avila (20), Ronald (24), Oktavia (14), dan Marianus (13)—ikut berjibaku mencari penghidupan. Avila putus sekolah sejak SD, Ronald putus di SMP dan kini membantu tetangga menyadap nira untuk moke, sementara Oktavia berhenti sekolah meski sempat menerima beasiswa PIP.
Mama Martina sendiri menggantungkan harapan pada benang dan pewarna. Dalam sebulan, ia bisa menenun empat lembar kain lipa yang dijual Rp120.000–Rp300.000. Uang dari hasil tenun itu digunakan untuk membeli beras, benang, dan kebutuhan hidup lainnya.
“Kami sehari makan sekali saja. Kalau ada beras, ya nasi. Kalau tidak, makan jagung dan daun ubi. Yang penting bisa makan,” ujarnya lirih.
Kisah kehidupan penuh perjuangan ini semakin menyayat karena bantuan dari Pemerintah Desa Hoder yang dijanjikan sejak Oktober 2023 tak kunjung datang. Padahal petugas sudah datang dan memotret kondisi rumah mereka. “Katanya ada bantuan rumah, tapi sampai sekarang tidak ada apa-apa,” keluh Mama Martina.
Ketua RT 009, Fransiskus Nong Efendi, membenarkan kondisi mengenaskan ini. Ia mengaku sudah berkali-kali melaporkan, namun belum juga ada tindakan nyata dari pemerintah. “Mereka tidur berdesakan. Kami hanya bisa bantu semampunya,” ujarnya.
Gerakan Iman: Pastor dan Umat Bergerak untuk Rumah Layak Huni
Setitik harapan datang dari gereja. Pastor Paroki St. Arnoldus Janssen Wairita melalui Sekretaris DPP Kuasi Paroki, Khlemens Keri, turun tangan. Setelah menerima laporan pasca Misa Pembukaan Bulan Maria, Pastor mengutus tim melihat langsung kondisi rumah Mama Martina.
“Hasil pantauan kami mengkonfirmasi bahwa rumah ini tidak lagi layak huni. Dinding dan atap sudah rapuh. Rumah itu akan roboh jika angin sedikit kencang datang,” ujar Khlemens.
Menyikapi hal ini, Pastor menggerakkan umat untuk bersolidaritas. Umat diajak menyumbangkan bahan bangunan—seperti seng, paku, kayu, batu, dan bambu—atau uang dan tenaga untuk membantu pembangunan rumah layak huni bagi keluarga ini.
“Kami berharap, selain umat paroki, Pemkab Sikka juga mau bergerak. Kasihan, ini bukan soal bantuan biasa, tapi soal keselamatan manusia,” tutup Khlemens penuh harap.
✍️ Yuven Fernandez | DetikReportase.com | Sikka, Nusa Tenggara Timur





