PELALAWAN | DETIKREPORTASE.COM
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengalokasikan dana besar untuk merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), khususnya di Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Namun, program ini menghadapi ancaman serius. Pada Jumat, 27 Desember 2023, tanaman rehabilitasi DAS yang telah tumbuh besar dan diserahkan kepada TNTN oleh pihak subkontraktor, mengalami perusakan oleh oknum yang diduga berasal dari Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) setempat.
Warga Kecewa, Program Ekonomi Terancam
Pengurus KTHK di Desa Bagan Limau menyayangkan tindakan merusak yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Menurut laporan warga, tanaman seperti jengkol dan pulai yang sudah tumbuh besar ditebang atau dirusak begitu saja.
“Di lapangan, kami menemukan banyak tanaman rehap DAS yang sudah ditumbangkan dan dibunuh,” ungkap salah satu warga, dengan nada kecewa.
Kasus ini kemudian dilaporkan kepada pihak Balai TNTN dan ditindaklanjuti oleh Kepala Seksi 1, Didin Hartoyo.
Balai TNTN Turun Tangan, Upayakan Mediasi
Kepala Balai TNTN, Heru, melalui Didin Hartoyo, menyatakan bahwa mereka telah meninjau langsung lokasi kerusakan.
“Kami sangat kecewa. Seharusnya kemitraan konservasi ini mampu menjaga dan merawat tanaman yang telah tumbuh besar. Kami akan coba mempertemukan kedua kelompok tani hutan agar masalah ini segera terselesaikan,” ujar Didin, Sabtu (6/1/2024).
AJPLH Soroti Lemahnya Pengawasan
Ketua DPD Pelalawan Aliansi Jurnalis Penyelamat Lingkungan Hidup (AJPLH), Amri, turut menyoroti lemahnya pengawasan oleh pihak Balai TNTN terhadap keberlanjutan tanaman rehabilitasi.
Amri menilai banyak tanaman yang gagal tumbuh karena kurangnya pemahaman serta pengawasan yang lemah. Ia menyarankan agar perjanjian kemitraan diperkuat dan kedua belah pihak solid dalam menjaga kawasan.
“Seharusnya masyarakat boleh menanam tanaman yang bermanfaat secara ekonomi seperti jengkol dan durian, tetapi tetap menjaga tanaman DAS. Kenyataannya, banyak tanaman DAS justru dibunuh dan diganti dengan kelapa sawit,” tegas Amri.
Ia mengingatkan bahwa jika praktik semacam ini terus terjadi, maka rehabilitasi DAS tidak akan pernah berhasil. “Bagaimana mungkin tanaman rehabilitasi tumbuh besar jika kelapa sawit terus dipelihara di area tersebut?” pungkasnya.
✍️ Redaksi | Detikreportase.com | Pelalawan – Riau





