Pelatihan manajemen konflik sebagai wajah baru pembinaan warga binaan
KEFAMENANU | DETIKREPORTASE.COM — Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kefamenanu, Kamis (29/1/2026), sebuah proses penting sedang berlangsung. Bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan upaya serius membangun kembali sisi kemanusiaan warga binaan melalui pendidikan informal manajemen konflik—sebuah program yang menjadi bagian dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Program ini digelar di Aula Rutan Kefamenanu dan dibuka langsung oleh Kepala Rutan, Muhamad Nurseha, disaksikan jajaran petugas, peserta magang, dan puluhan warga binaan. Di ruang itu, para penghuni rutan tidak hanya duduk mendengar, tetapi juga diajak berdiskusi, menganalisis studi kasus, hingga terlibat dalam permainan edukatif yang dirancang untuk melatih empati dan pengendalian emosi.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik tentang kekerasan dan konflik di lembaga pemasyarakatan, langkah Rutan Kefamenanu ini menimbulkan satu pertanyaan besar: mampukah pendekatan pendidikan seperti ini benar-benar mengubah pola pikir dan perilaku warga binaan?
Pelantikan nilai baru di balik tembok rutan
Kegiatan ini bukan hanya kelas biasa. Ia merupakan bentuk konkret dari tekad Kemenimipas untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan resolusi damai dalam kehidupan warga binaan. Kepala Rutan, Muhamad Nurseha, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai “pelantikan nilai baru” bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.
“Program ini adalah implementasi langsung dari 15 Program Aksi Kemenimipas. Kami ingin membekali warga binaan dengan kecerdasan emosional agar mereka mampu menyelesaikan perselisihan secara positif, baik selama di dalam rutan maupun ketika kembali ke masyarakat nanti,” tegas Nurseha kepada DetikReportase.com.
Ia menambahkan, konflik di dalam rutan seringkali muncul bukan karena niat jahat, melainkan karena ketidakmampuan mengelola emosi, tekanan psikologis, dan latar belakang sosial yang keras. Karena itu, pendidikan semacam ini menjadi fondasi penting bagi pembinaan yang berkelanjutan.
Lebih jauh, Nurseha memastikan kegiatan ini bukan bersifat seremonial. “Kami sudah menetapkan program ini sebagai agenda rutin bulanan. Pembinaan karakter tidak boleh terputus, harus konsisten dan terukur,” ujarnya.
Pendidikan konflik sebagai alat pencegah kekerasan
Manajemen konflik bukan sekadar teori. Dalam konteks rutan, ia menjadi alat strategis untuk menekan potensi kekerasan dan gangguan keamanan. Melalui diskusi kelompok dan simulasi kasus, warga binaan diajak melihat konflik dari sudut pandang yang lebih luas: bukan sebagai ajang pembuktian ego, melainkan masalah yang harus diselesaikan secara rasional.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat hukum nasional yang kini menekankan tanggung jawab personal dan pengendalian diri. Publik juga dapat melihat bagaimana prinsip ini ditegaskan dalam kerangka KUHP Baru yang mulai berlaku secara nasional.
👉 Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/
Dengan KUHP baru, setiap individu, termasuk warga binaan dan petugas negara, dituntut memiliki kesadaran hukum dan pengendalian diri yang lebih tinggi. Di titik inilah pendidikan manajemen konflik menjadi relevan: ia menjembatani aturan hukum dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Dari konflik ke kesadaran: pengalaman langsung warga binaan
Antusiasme peserta terlihat jelas. Salah satu warga binaan, Renda, mengaku baru kali ini ia benar-benar memahami cara mengelola emosi secara sehat.
“Materi ini sangat membantu kami. Biasanya kalau ada masalah, emosi langsung meledak. Tapi lewat diskusi tadi, kami belajar bagaimana menahan diri dan mencari solusi tanpa kekerasan,” ungkapnya.
Diskusi kelompok membuka ruang kejujuran di antara para warga binaan—sesuatu yang jarang terjadi dalam kehidupan rutan yang penuh tekanan. Dalam sesi itu, mereka saling berbagi pengalaman konflik, dari hal sepele hingga pertikaian serius, lalu bersama-sama mencari jalan keluarnya.
Jika pendekatan ini konsisten dijalankan, ia berpotensi memutus siklus kekerasan yang kerap menghantui lembaga pemasyarakatan di berbagai daerah. Publik bisa melihat betapa pentingnya transparansi dan tata kelola yang sehat melalui pemetaan nasional berikut:
👉 Untuk melihat bagaimana pola penyalahgunaan wewenang terjadi secara nasional, publik bisa menelusurinya melalui laporan berikut:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/
Ketika tata kelola buruk melahirkan konflik sosial
Di luar rutan, konflik seringkali dipicu oleh ketidakadilan struktural—mulai dari korupsi hingga distribusi sumber daya yang timpang. Warga binaan pada dasarnya adalah potret dari masalah-masalah sosial itu. Karena itu, pembinaan di dalam rutan tidak bisa dilepaskan dari konteks nasional yang lebih luas.
Dampak buruk tata kelola yang rapuh terhadap rakyat kecil dapat dilihat dari laporan investigatif berikut:
👉 Dampak nyata buruknya tata kelola terhadap rakyat kecil dapat dilihat dari laporan investigatif berikut:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/
Jika negara gagal mengelola keadilan di luar, rutan akan terus dipenuhi oleh korban-korban konflik sosial. Di sinilah pentingnya program seperti yang dilakukan Rutan Kefamenanu: ia tidak hanya membina individu, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memulihkan ketertiban sosial.
Harapan yang tumbuh dan pandangan kedepan
Pendidikan informal manajemen konflik di Rutan Kefamenanu mungkin berlangsung di ruang yang terbatas, tetapi maknanya jauh melampaui dinding rutan. Ia adalah percobaan sunyi negara untuk mengubah kemarahan menjadi kesadaran, dan kekerasan menjadi dialog.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah program ini bagus di atas kertas, tetapi apakah ia akan terus dijaga dengan konsistensi dan integritas. Di tangan para petugas dan komitmen Kemenimipas, nasib ratusan warga binaan dipertaruhkan: apakah mereka akan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih dewasa, atau kembali terjebak dalam lingkaran konflik yang sama.
✍️ Yohanes Tafaib | detikreportase.com | Kefamenanu – Nusa Tenggara Timur
DETIKREPORTASE.COM : Pembinaan, hukum, dan martabat manusia





