detikreportase-Setiap pekerja tentu memiliki waktu-waktu tertentu yang dianggap paling baik untuk memperoleh hasil maksimal dari usaha yang dijalankannya. Para pedagang pakaian misalnya, akan merasakan kebahagiaan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pada masa itulah dagangan mereka biasanya laris terjual, keuntungan meningkat, dan kerja keras selama berbulan-bulan seolah terbayar lunas.
Walaupun kelelahan melayani pembeli yang datang silih berganti tanpa mengenal waktu, rasa letih itu perlahan menghilang ketika melihat hasil yang diperoleh. Senyum para pelanggan dan keberhasilan usaha menjadi penghapus rasa capek yang dirasakan sepanjang hari.
Namun, kebahagiaan yang berbeda dirasakan oleh insan Bhayangkara sejati. Bagi mereka, puncak kebahagiaan justru hadir ketika menjalankan tugas pengamanan Hari Raya Idul Fitri. Di saat masyarakat bersiap menyambut hari kemenangan bersama keluarga, para anggota kepolisian justru bersiap siaga menjaga keamanan dan ketertiban.
Insan Bhayangkara yang memahami hakikat pengabdian akan dengan sukarela berada di barisan terdepan untuk melaksanakan tugas yang berat dan penuh tantangan. Mereka tidak memilih kenyamanan, melainkan justru mengambil tanggung jawab paling sulit.
Di tengah panasnya terik matahari, mereka berdiri di persimpangan jalan untuk mengurai kemacetan panjang. Dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan, keringat bercucuran, tubuh lelah, dan rasa haus pun tak terelakkan. Namun semua itu dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan, karena mereka menyadari bahwa tugas tersebut adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus ladang amal di hadapan Tuhan.
Seorang Bhayangkara sejati bahkan berharap dirinya terpilih menjalankan tugas pada waktu-waktu paling sulit. Berdiri di tengah malam yang gelap, menahan kantuk dan kelelahan saat melakukan pengamanan serta mengatur lalu lintas agar para pemudik dapat berjalan lancar, aman, dan nyaman menuju kampung halaman.
Dalam ajaran Islam, pengorbanan semacam ini memiliki nilai yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda bahwa ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena menyesali dosa-dosanya, dan mata yang berjaga untuk menjaga keamanan negeri.
Mata yang menahan kantuk demi menjaga keselamatan orang lain, mata yang tetap terbuka demi memastikan para pemudik dapat sampai ke tujuan dengan selamat, termasuk dalam keutamaan tersebut. Pengabdian itu bukan sekadar tugas negara, tetapi juga ibadah yang bernilai tinggi.
Kebahagiaan seorang Bhayangkara tidak diukur dari kenyamanan pribadi, melainkan dari keberhasilan menghilangkan kesulitan orang lain. Ketika kemacetan berhasil diurai, ketika para pemudik dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar, dan ketika wajah-wajah lelah berubah menjadi senyuman, di situlah kepuasan batin seorang polisi muncul.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa siapa saja yang menghilangkan kesulitan saudaranya di dunia, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitannya di dunia dan akhirat. Prinsip inilah yang menjadi semangat bagi para Bhayangkara dalam menjalankan tugas pengamanan Lebaran.
Di jalan-jalan yang ramai dipenuhi kendaraan, para polisi melihat tawa dan kegembiraan para pemudik yang hendak bersilaturahmi dengan keluarga. Anak-anak yang tertawa di dalam mobil, keluarga yang penuh harap menuju kampung halaman, semuanya menjadi pemandangan yang menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang bertugas.
Namun di balik semua itu, ada pengorbanan yang tidak kecil. Ketika masyarakat berkumpul dengan keluarga untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, banyak insan Bhayangkara yang justru harus berjauhan dari anak, istri, dan keluarga tercinta.
Kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga tentu ada. Mereka pun sebenarnya memiliki hak yang sama untuk merayakan hari kemenangan bersama orang-orang yang dicintai. Akan tetapi, demi memastikan masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman, hak pribadi itu sering kali harus mereka kesampingkan.
Pengabdian tersebut menunjukkan satu nilai utama yang menjadi nafas seorang Bhayangkara sejati, yakni mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Ketika seorang polisi rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi menjaga keselamatan orang banyak, sesungguhnya ia sedang menjalankan nilai pengorbanan yang sangat luhur. Dalam pandangan agama, sikap mendahulukan orang lain bahkan dalam kondisi sulit merupakan perbuatan yang sangat mulia.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hasyr ayat 9, yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka berada dalam kesusahan.
Nilai itulah yang seharusnya menjadi semangat bagi setiap insan Bhayangkara dalam menjalankan tugas. Bahwa menjadi polisi bukan sekadar profesi, melainkan panggilan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Menjalankan tugas pengamanan Lebaran dengan sepenuh hati dan niat ibadah merupakan sebuah keberuntungan tersendiri bagi seorang Bhayangkara. Di balik kelelahan dan pengorbanan, tersimpan pahala dan kemuliaan yang besar.
Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Kuasa telah menempatkan nikmat yang besar pada diri seorang Bhayangkara. Nikmat itu berupa kesempatan untuk melayani masyarakat, menjaga keamanan negeri, dan menghadirkan rasa aman bagi sesama.
Nikmat tersebut patut disyukuri dengan menjalankan tugas secara jujur, tulus, dan penuh tanggung jawab. Dengan rasa syukur itulah diharapkan nikmat lain akan bertambah, terutama nikmat berupa kepercayaan dan kecintaan masyarakat kepada institusi kepolisian.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang Bhayangkara bukan hanya diukur dari keberhasilan menjaga keamanan, tetapi juga dari seberapa besar ia mampu menghadirkan rasa aman, harapan, dan kepercayaan di tengah masyarakat.
Zulfan Nababan Aktivis Dakwah
(Admin2)





