BeritaKalimantan Barat

Harmoni Ramadan di Ketapang: Bupati Alexandre Wilyo Serukan Persatuan, Sekuat Mana Peran Negara Menjaga Toleransi?

517
×

Harmoni Ramadan di Ketapang: Bupati Alexandre Wilyo Serukan Persatuan, Sekuat Mana Peran Negara Menjaga Toleransi?

Sebarkan artikel ini
“Bupati Ketapang Alexandre Wilyo ucapan Ramadhan 1447 H 2026 Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat”
Bupati Ketapang Alexandre Wilyo menyampaikan ucapan selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah kepada umat Muslim di Kabupaten Ketapang sebagai wujud komitmen menjaga toleransi dan keharmonisan sosial.

Pemimpin Daerah Menyapa Umat Menjelang Bulan Suci

KETAPANG | DETIKREPORTASE.COM — Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah / 2026 Masehi, Bupati Ketapang Alexandre Wilyo menyampaikan ucapan selamat dan doa kepada seluruh umat Muslim, khususnya masyarakat di Kabupaten Ketapang. Pesan tersebut menjadi penanda komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keharmonisan dan ketenangan sosial di tengah keberagaman masyarakat.

Dalam pernyataannya, Bupati Ketapang menyampaikan:

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Bupati Ketapang Alexandre Wilyo mengucapkan selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 kepada saudara-saudara saya umat Muslim, khususnya di Kabupaten Ketapang. Marhaban ya Ramadhan.”

Menurutnya, Ramadhan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ruang refleksi sosial untuk memperkuat nilai persatuan, toleransi, dan kepedulian antarsesama.

 

Ramadan sebagai Pilar Stabilitas Sosial Daerah

Bupati Alexandre Wilyo menekankan bahwa nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah Ramadhan harus menjadi energi positif untuk memperkokoh kohesi sosial di Ketapang — daerah yang dikenal memiliki latar belakang etnis dan agama yang beragam.

Ia mengajak seluruh masyarakat menyambut Ramadhan dengan hati bersih, niat tulus, dan semangat memperbanyak amal kebajikan, demi terwujudnya kehidupan yang damai dan sejahtera.

“Melalui momentum Ramadhan ini, mari kita perkuat kebersamaan dalam bingkai persatuan dan toleransi, serta mendukung terwujudnya visi pembangunan Kabupaten Ketapang yang maju dan mandiri,” ujarnya.

Dalam konteks nasional, pesan ini menjadi relevan karena stabilitas sosial dan toleransi merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan dan keamanan daerah.

 

Peran Hukum dalam Menjaga Ketertiban dan Kerukunan

Di tengah meningkatnya dinamika sosial dan politik, bulan Ramadhan juga sering menjadi periode rawan terhadap gesekan, ujaran kebencian, atau konflik horizontal. Karena itu, kehadiran negara — melalui pemerintah dan aparat hukum — menjadi kunci dalam memastikan suasana ibadah berlangsung aman dan damai.

Dalam kerangka hukum nasional, KUHP Baru yang berlaku sejak 2026 memberikan landasan tegas mengenai tanggung jawab negara dan individu dalam menjaga ketertiban umum, melindungi kebebasan beragama, serta mencegah provokasi dan kekerasan.

Untuk memahami bagaimana KUHP Baru mengatur tanggung jawab pidana dan perlindungan terhadap harmoni sosial,

Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/

 

Teknologi, AI, dan Pengelolaan Layanan Publik Saat Ramadan

Selain aspek spiritual, bulan Ramadhan juga menguji kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola layanan publik: distribusi kebutuhan pokok, pengaturan lalu lintas, pengamanan tempat ibadah, hingga penyaluran bantuan sosial.

Di tingkat nasional, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan untuk memetakan kebutuhan warga, mengantisipasi lonjakan permintaan, dan meningkatkan efisiensi layanan selama periode sensitif seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Untuk memahami bagaimana AI mulai membentuk tata kelola pelayanan publik Indonesia,

Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kecerdasan-buatan-ai-di-indonesia-peluang-besar-atau-ancaman-bagi-pekerjaan-dan-masa-depan-anak-bangsa/

Bagi Ketapang, transformasi digital dan tata kelola berbasis data menjadi peluang untuk memastikan Ramadhan berjalan lebih tertib, aman, dan inklusif bagi semua warga.

Ucapan Bupati Ketapang bukan sekadar seremonial, tetapi juga pesan politik dan sosial bahwa negara harus hadir menjaga ruang ibadah, toleransi, dan ketenangan publik. Ramadhan 1447 H menjadi ujian apakah nilai spiritual bisa berjalan seiring dengan tata kelola pemerintahan yang adil, responsif, dan menghormati keberagaman.

Ketika masyarakat menyucikan diri, negara pun dituntut membersihkan tata kelolanya — agar keberkahan Ramadhan tidak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial yang lebih damai dan sejahtera.

✍️ Slamet | detikreportase.com | Ketapang – Kalimantan Barat

DETIKREPORTASE.COM : Mengawal Harmoni dan Demokrasi Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250