KEFAMENANU |DETIKREPORTASE.COM
P5 Hidup di Sekolah, Bukan Sekadar Teori di Atas KertasProgram P5 dalam Kurikulum Merdeka kerap dianggap abstrak, namun pameran ini mematahkan anggapan itu. Setiap produk yang ditampilkan, dari kerajinan tangan berbasis bahan lokal, makanan tradisional dengan kemasan modern, hingga karya visual digital, merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dirancang untuk membentuk karakter pelajar yang kreatif, kolaboratif, dan berdaya saing.
Karya-karya tersebut bukan hanya dipajang untuk dinilai, tetapi menjadi cermin dari nilai-nilai Pancasila yang hidup dan tumbuh dalam diri siswa. Gotong royong, semangat kebangsaan, hingga rasa cinta pada budaya lokal menjadi benang merah dalam setiap proses yang mereka jalani.
Guru-guru di TTU membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti mencipta. Dengan pendampingan yang sabar dan tekun, mereka membantu siswa menggali ide, mengeksekusi proyek, hingga menyajikannya dengan percaya diri di hadapan publik. Inilah praktik pendidikan yang merdeka — membebaskan potensi, bukan hanya mengisi kepala.
Kolaborasi Nyata: Sekolah, Pemerintah, dan Komunitas Bergerak Bersama
Tak hanya siswa dan guru, seluruh ekosistem pendidikan turut ambil bagian dalam suksesnya acara ini. Kepala sekolah, pengawas, hingga pengurus MKKS hadir meninjau langsung setiap stand. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan moral yang penting bagi para pendidik dan pelajar, terutama dalam menghidupkan semangat Kurikulum Merdeka yang berbasis pada kebutuhan lokal.
Salah satu potret kebersamaan terlihat jelas di stand SMA Negeri Mutis Eban, di mana kepala sekolah dan para pengawas berdiri bersama, menyaksikan karya siswa dengan rasa bangga. Di sinilah esensi pendidikan sejati: ketika semua pihak menyatu dalam semangat yang sama — membangun masa depan dari sekolah.
Pameran ini juga menjadi medium yang efektif untuk memperkenalkan potensi sekolah kepada masyarakat luas. Bagi banyak sekolah, ini adalah momen strategis untuk membangun citra positif, sekaligus menjalin koneksi dengan orang tua, pelaku usaha lokal, dan pemerintah daerah.
Ketekunan dan Kreativitas dari Tanah Perbatasan
Di balik kemeriahan pameran, tersimpan cerita perjuangan siswa dan guru dalam menghadapi berbagai keterbatasan geografis dan infrastruktur. Namun semua itu tidak menghalangi mereka untuk berinovasi. Justru dari keterbatasan itulah lahir semangat juang yang tinggi — semangat untuk membuktikan bahwa pendidikan bermutu bisa tumbuh di mana saja, bahkan di pelosok sekalipun.
Gebyar Pameran Produk SMA dan SMK TTU tahun ini menjadi refleksi bahwa transformasi pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, tetapi tentang manusia-manusia yang menjalankannya dengan sepenuh hati. TTU telah memberi contoh bahwa kolaborasi, kepercayaan, dan kreativitas adalah kunci utama menuju pendidikan yang berkarakter dan membumi.
✍️ Oktaf M. Klau | Detikreportase.com | Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur





