Apa Itu CFIT dan Mengapa Berbahaya
JAKARTA | DETIKREPORTASE.COM — Insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, kembali menyoroti risiko Controlled Flight Into Terrain (CFIT), salah satu penyebab kecelakaan udara yang kerap terjadi di wilayah pegunungan. CFIT adalah kondisi ketika pesawat masih berada dalam kendali kru, mesin berfungsi normal, tetapi secara tidak sengaja menabrak permukaan tanah akibat faktor lingkungan, keterbatasan visibilitas, atau persepsi navigasi yang keliru.
Wilayah Indonesia yang memiliki banyak jalur penerbangan melalui pegunungan memiliki risiko CFIT lebih tinggi, terutama ketika cuaca memburuk, jarak pandang menurun drastis, atau rute belum sepenuhnya terekam dalam sistem navigasi digital. Insiden ini menegaskan pentingnya pemahaman publik dan evaluasi profesional tentang faktor risiko yang memengaruhi keselamatan penerbangan regional.
CFIT juga menjadi indikator betapa kompleksnya operasional penerbangan di wilayah ekstrem. Kesalahan kecil dalam membaca instrumen atau kurangnya kesadaran situasional dapat berakibat fatal, meskipun prosedur standar dijalankan dengan benar.
Karakteristik Wilayah Pegunungan Indonesia
Indonesia memiliki topografi yang sangat beragam, dengan jalur penerbangan yang melintasi pegunungan tinggi, hutan lebat, serta daerah tropis yang sering mengalami perubahan cuaca drastis. Gunung Bulusaraung sendiri memiliki kontur terjal dan sering diselimuti awan rendah, terutama pada jam tertentu.
Kondisi geografis ini menuntut presisi tinggi dalam navigasi. Perencanaan rute, pemantauan ketinggian, serta koordinasi dengan pengendali lalu lintas udara menjadi faktor utama keselamatan. Pesawat turboprop seperti ATR 42-500 memang dirancang untuk medan sulit, namun tetap memiliki batas operasional, sehingga kesadaran kru terhadap kondisi lingkungan tetap menjadi kunci utama.
Selain itu, perubahan cuaca mendadak, kabut tebal, dan arus angin lokal dapat memengaruhi performa pesawat, khususnya pada fase penurunan ketinggian atau pendekatan ke bandara. Fenomena ini membuat risiko CFIT tetap relevan meskipun pesawat modern dilengkapi teknologi navigasi canggih.
Sistem Pencegahan dan Peran Teknologi
Untuk mengurangi risiko CFIT, dunia penerbangan telah mengembangkan Ground Proximity Warning System (GPWS) dan Terrain Awareness and Warning System (TAWS). Sistem ini memberi peringatan kepada kru pesawat saat jarak dengan permukaan tanah terlalu dekat.
Selain teknologi, pembaruan peta navigasi, akurasi data topografi, dan pelatihan berkelanjutan bagi kru penerbang menjadi elemen penting. Simulasi medan ekstrem dan skenario cuaca buruk merupakan bagian dari standar keselamatan modern. Insiden di Bulusaraung menegaskan bahwa teknologi dan prosedur operasional harus berjalan seiring dengan kewaspadaan manusia sebagai pengendali utama.
Selain itu, komunikasi real-time dengan pengendali lalu lintas udara dan koordinasi antar-instansi SAR menjadi bagian penting mitigasi risiko. Evaluasi berkala terhadap jalur penerbangan domestik yang rawan medan ekstrem menjadi sarana pencegahan yang sangat dibutuhkan.
Catatan Keselamatan untuk Evaluasi Nasional
Insiden ATR 42-500 menjadi momentum penting bagi evaluasi jalur penerbangan domestik di wilayah pegunungan. Peninjauan ulang rute, ketinggian minimum, kesiapan infrastruktur navigasi, dan koordinasi lintas instansi dinilai krusial untuk meminimalkan risiko kecelakaan serupa.
Keselamatan penerbangan melibatkan maskapai, awak pesawat, regulator, serta sistem pengawasan dan teknologi pendukung. Transparansi hasil investigasi diharapkan menjadi dasar perbaikan berkelanjutan. Dengan pembelajaran dari insiden ini, prosedur operasional bisa diperkuat, pelatihan kru diperbarui, dan teknologi mitigasi risiko dioptimalkan.
Artikel ini disusun sebagai analisis keselamatan penerbangan berbasis edukasi publik, mengacu pada prinsip CFIT dan kondisi geografis Indonesia, tanpa mendahului hasil investigasi resmi otoritas terkait. Informasi akan diperbarui seiring keluarnya data resmi berikutnya.
Ikuti Saluran WhatsApp Detikreportase.com
Agar tidak tertinggal berita penting, isu hukum, dan laporan publik pilihan langsung dari redaksi.
Tanpa spam. Ringkas. Terpercaya.
📲 Gabung di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VbBRVcA3mFYAtoCNkg0N
✍️ Tim | detikreportase.com | Jakarta
DETIKREPORTASE.COM : Analisis Keselamatan Penerbangan Nasional





