JAKARTA,DETIKREPORTASE.COM – Di tengah sorotan lampu dan tepuk tangan yang bergema di ballroom Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025), nama Ema Suranta dipanggil. Wajahnya penuh haru saat menerima Mata Lokal Award 2025 dalam sub-kategori Local Ace in Organic Waste Transformation. Ia bukan selebriti, bukan politisi. Ia seorang ibu, pejuang lingkungan, dan nasabah gigih dari program PNM Mekaar.
Namun yang membuat Ema istimewa bukan sekadar penghargaan. Melainkan perjuangannya mengubah sampah menjadi sumber kehidupan, dari desanya yang jauh dari ingar bingar ibu kota.
Tragedi yang Membakar Semangat
Perjalanan Ema bermula dari tragedi memilukan di TPA Leuwigajah, Cimahi, dua dekade lalu. Longsoran gunungan sampah pada 21 Februari 2005 merenggut ratusan nyawa dan menyisakan trauma bagi bangsa. Tapi di hati Ema, tragedi itu menjadi bara yang terus menyala.
“Saya pikir, jika sampah bisa membunuh, maka ia juga bisa diselamatkan—kalau kita mengelolanya dengan benar,” tutur Ema saat ditemui usai menerima penghargaan.
Sejak itu, ia mendirikan Bank Sampah Bukit Berlian, bukan hanya sebagai tempat pemilahan, tetapi juga pusat edukasi dan perubahan perilaku.
Maggot, Solusi dari Alam
Dengan dukungan pembiayaan tanpa agunan dari PNM Mekaar, Ema mulai merintis budidaya Black Soldier Fly (BSF)—larva pengurai organik yang dikenal sebagai maggot. Ide sederhananya: ubah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi.
Kini, sistem pengolahan sampah Ema mampu menyerap hingga 2 ton sampah organik per minggu, menghasilkan maggot segar untuk pakan ternak dan kasgot (kompos organik) yang kembali menyuburkan tanah. Tak hanya itu, usahanya juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Dampak Nyata, Bukan Wacana
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, memuji pencapaian Ema sebagai bukti bahwa pemberdayaan ekonomi mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan.
“Ibu Ema adalah agen perubahan. PNM hadir bukan hanya memberikan pembiayaan, tapi juga membuka jalan agar perempuan prasejahtera mampu mandiri dan memberi dampak,” tegas Arief.
Penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa kerja Ema bukan sekadar lokal, tapi berkelas nasional. Ia membuktikan bahwa solusi terhadap krisis sampah bisa datang dari desa—dari perempuan yang memiliki keberanian untuk memulai.
Kurasi Ketat, Prestasi Bermakna
Mata Lokal Award 2025 bukan penghargaan sembarangan. Penerimanya dipilih melalui proses ketat oleh juri profesional lintas bidang: Dian Gemiano (CMO KG Media), Rika Anggraini (Yayasan KEHATI), Lembu Wiworo Jati (Future Creative Network), dan Defri Dwipaputra (Dentsu Creative). Kriteria utama: keberlanjutan, dampak sosial, dan inovasi.
Ema memenuhi semuanya. Perempuan, Sampah, dan Harapan
Bagi Ema, penghargaan ini bukan akhir. Justru sebaliknya, menjadi tanggung jawab baru untuk terus berkarya dan menginspirasi.
“Ini bukan milik saya seorang. Ini milik semua perempuan desa yang percaya bahwa dari tempat terpencil pun, kita bisa memberi cahaya,” ucapnya dengan mata berkaca.
Kisah Ema Suranta adalah tentang keberanian menghadapi sampah, tentang melihat potensi dalam hal-hal yang dianggap tak berguna. Ia bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga memulihkan harga diri warganya—satu kilo sampah, satu langkah perubahan.
✍️ Yuven Fernandez – DetikReportase.com





