BeritaSumatra Selatan

Aksi Warga di Musi Rawas Jadi Sorotan: Ratusan Ibu-Ibu Geruduk Kantor Bupati, Apa Tuntutan Sebenarnya?

516
×

Aksi Warga di Musi Rawas Jadi Sorotan: Ratusan Ibu-Ibu Geruduk Kantor Bupati, Apa Tuntutan Sebenarnya?

Sebarkan artikel ini
aksi damai warga pasar muara beliti di kantor bupati musi rawas sumatera selatan
Keterangan Gambar : Ratusan warga, mayoritas ibu-ibu dari Kelurahan Pasar Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, menggelar aksi damai menuju Kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah.

Ratusan warga Pasar Muara Beliti turun ke jalan secara damai

MUSI RAWAS | DETIKREPORTASE.COM — Gelombang aspirasi warga kembali menggema dari daerah ke pusat perhatian nasional. Pada Kamis (29/01/2025), ratusan warga Kelurahan Pasar Muara Beliti, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, bersiap menggelar aksi damai menuju Kantor Bupati Musi Rawas.

Sejak pagi hari, massa mulai berkumpul di Kantor Lurah Pasar Muara Beliti. Mereka datang dari 13 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah diperkirakan mencapai sekitar 500 orang. Yang menarik, sebagian besar peserta aksi adalah ibu-ibu, menandakan bahwa persoalan yang mereka suarakan menyentuh langsung kehidupan keluarga dan kebutuhan dasar masyarakat.

Warga menyatakan tekad untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka, tertib, dan konstitusional kepada pemerintah daerah. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan bentuk partisipasi publik yang sah dalam sistem demokrasi lokal.

Dalam konteks hukum nasional, penyampaian aspirasi warga dilindungi oleh undang-undang. Namun, sejak berlakunya KUHP Baru 2 Januari 2026, baik warga maupun pejabat publik kini memiliki batasan dan tanggung jawab hukum yang lebih jelas dalam setiap interaksi negara dan rakyat.

👉 Baca selengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/kuhp-baru-berlaku-2-januari-2026-di-indonesia-apa-dampaknya-bagi-kehidupan-warga-ini-aturan-kunci-yang-wajib-dipahami-publik/

 

Pengamanan ketat, aparat siaga di titik strategis

Untuk memastikan aksi berjalan aman dan tidak mengganggu ketertiban umum, aparat gabungan diterjunkan sejak pagi. Terlihat personel dari:

Polsek Muara Beliti

Satlantas Polres Musi Rawas

Satpol PP

Intel Polsek dan Polres

Intel Kodim 0406 Lubuklinggau

seluruhnya siaga di sejumlah titik strategis sepanjang jalur pergerakan massa.

Pos-pos pengamanan dan rehat juga telah disiapkan guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan menjaga kelancaran arus lalu lintas. Kehadiran aparat ini tidak hanya berfungsi sebagai pengamanan, tetapi juga sebagai jaminan bahwa aksi dapat berlangsung dalam suasana kondusif.

Dalam sejarah Indonesia, banyak aksi rakyat bermula dari keresahan lokal yang kemudian membuka persoalan tata kelola dan akuntabilitas pejabat publik. Pola tersebut juga terekam dalam berbagai penindakan yang dipetakan dalam Peta Besar OTT KPK di Indonesia.

👉 Telusuri peta lengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/peta-besar-ott-kpk-di-indonesia-dari-pajak-hingga-kepala-daerah-begini-wajah-korupsi-yang-terbongkar/

 

Koordinator aksi: damai, tertib, dan tidak terpancing provokasi

Sebelum massa bergerak menuju Kantor Bupati Musi Rawas, koordinator lapangan memberikan pengarahan tegas kepada seluruh peserta aksi. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama adalah menyampaikan aspirasi, bukan menciptakan keributan.

“Kami mengimbau seluruh massa untuk tetap tenang, tertib, dan tidak terpancing provokasi. Aksi ini adalah aksi damai. Jangan sampai ada kericuhan atau kekacauan,” tegasnya di hadapan ratusan warga.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa warga sadar akan posisi mereka sebagai subjek demokrasi, bukan objek kekacauan. Mereka ingin didengar, bukan ditakuti.

Dalam banyak kasus di Indonesia, ketika suara rakyat tidak direspons dengan baik, persoalan sosial dan ekonomi bisa membesar dan berujung pada konflik yang lebih luas. Hal ini tampak jelas dalam berbagai krisis tata kelola sektor publik.

 

Ketika suara rakyat menyentuh urusan dapur dan kehidupan sehari-hari

Aksi ratusan ibu-ibu di Musi Rawas tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa banyak persoalan publik langsung berdampak pada kebutuhan dasar keluarga: pangan, bantuan sosial, layanan publik, dan ekonomi rumah tangga.

Ketika tata kelola dana publik dan dana bersama rusak, yang paling menderita adalah rakyat kecil. Hal itu tampak nyata dalam Skandal Pupuk Subsidi di Pelalawan – Riau, ketika kebocoran sistem justru menghantam petani dan keluarga mereka.

👉 Baca laporan lengkapnya di sini:
https://detikreportase.com/skandal-pupuk-subsidi-di-pelalawan-riau-cermin-rapuhnya-tata-kelola-subsidi-dan-ujian-ketahanan-pangan-nasional/

Karena itulah, aksi damai di Musi Rawas ini tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Ia adalah bagian dari gelombang kesadaran warga Indonesia untuk ikut mengawasi, mengoreksi, dan menuntut pemerintahan yang bersih dan berpihak pada rakyat.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi persiapan aksi terpantau aman dan kondusif, dengan pengawalan ketat aparat serta komitmen kuat massa untuk menjaga kedamaian selama berlangsungnya aksi.

✍️ Heri | detikreportase.com | Musi Rawas – Sumatera Selatan

DETIKREPORTASE.COM : Suara Rakyat dan Demokrasi Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250