KARHUTLARIAU

Bupati Siak Jawab 3 Pertanyaan Presiden soal Karhutla, Usulkan 167 Titik Pantau Gambut

×

Bupati Siak Jawab 3 Pertanyaan Presiden soal Karhutla, Usulkan 167 Titik Pantau Gambut

Sebarkan artikel ini
Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli saat memaparkan konsep penanganan karhutla berbasis tinggi muka air tanah di Siak.
Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si., mengusulkan pemasangan 167 titik pantau TMA dan penempatan ahli tata air gambut untuk menjawab solusi karhutla nasional.

Dr. Afni Zulkifli usulkan 167 titik pantau TMA demi atasi bencana asap.

​SIAK — DETIKREPORTASE.COM | Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan ekosistem gambut menuntut langkah taktis yang berorientasi pada mitigasi hulu, bukan sekadar berjibaku memadamkan api di saat bencana telah membesar. Pandangan tegas ini disampaikan langsung oleh Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, M.Si., saat mengupas tuntas tiga pertanyaan strategis Presiden Prabowo Subianto terkait solusi penanganan karhutla.

​Berbekal pengalaman panjang sebagai peneliti, aktivis lingkungan, serta mantan Tenaga Ahli Menteri LHK, Afni membedah persoalan ini dari realitas lapangan. Sebagai kepala daerah yang wilayahnya kerap menjadi langganan bencana asap—bahkan berdampak langsung pada kesehatan putrinya yang menderita asma akut—ia menilai bahwa karhutla adalah persoalan tata kelola yang mutlak bisa dicegah sejak dini.

​Strategi Hulu Kawasan Hutan dan Penjagaan Gambut Tetap Basah

​Dalam pemaparannya, Afni menguraikan jawaban mendasar atas pertanyaan pertama presiden mengenai kemungkinan membebaskan kawasan hutan dari ancaman karhutla. Menurutnya, hal tersebut sangat mungkin diwujudkan dengan catatan persoalan di hulu diselesaikan secara tuntas, termasuk mengatasi tumpang tindih kawasan hutan produksi dengan lahan garapan masyarakat melalui program TORA atau Perhutanan Sosial.

​Sementara untuk menjawab pertanyaan kedua terkait perlindungan lahan gambut, bupati perempuan pertama di Siak ini menekankan pentingnya menjaga tingkat kebasahan gambut secara kontinu berdasarkan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

​“Kalau pemadaman, mau berapa pun pasukannya dan apa pun alatnya, kalau gambut sudah terbakar, sudah berat. Lebih murah mencegah dengan cara memastikan gambut tetap basah,” ungkap Afni, Sabtu (3/10/2026).

​Guna memastikan kondisi gambut terpantau dengan akurat, Afni mengusulkan pemasangan alat pemantau Tinggi Muka Air (TMA) secara masif. Mengingat luas kawasan hutan Siak mencapai sekitar 400 ribu hektare dengan radius efektif satu alat TMA sejauh 25 kilometer, ia memperkirakan wilayahnya membutuhkan 167 hingga 169 titik pemantauan. Bahkan, alternatif alat sederhana berbahan paralon dan botol bekas seharga ratusan ribu rupiah dapat dioptimalkan di tingkat kampung.

​Usulan Ahli Pengelolaan Tata Air dan Efektivitas Anggaran

​Menanggapi rencana kebijakan nasional terkait pembangunan sumur permanen di titik rawan, Afni mengingatkan perlunya kajian mendalam agar anggaran terserap secara tepat sasaran. Mengingat karakteristik air di bawah lahan gambut relatif mudah diakses, pembangunan sumur permanen di setiap titik dinilai belum tentu menjadi solusi paling efisien.

​Sebagai gantinya, ia mendorong agar setiap kecamatan rawan karhutla memiliki setidaknya satu tenaga ahli water management (pengelolaan tata air) yang bertugas memberikan rekomendasi teknis bagi masyarakat sebelum membuka lahan.

​Melalui sinergi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, korporasi, hingga penguatan peran penghulu di tingkat desa, gagasan cemerlang dari Kabupaten Siak ini diharapkan mampu disimak oleh Istana demi mewujudkan target jangka panjang: langit biru yang bersih dari kepulan asap selamanya.

​✍ Reportase : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Siak – Riau.

​DETIKREPORTASE.COM — Mengawal Informasi, Menyuarakan Kepentingan Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250