Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi Menerus Selama 25 Jam, Status Tetap Siaga dan Sektor Penerbangan Nasional Terdampak
JAKARTA — DETIKREPORTASE.COM | Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi sorotan nasional setelah mengalami episode erupsi menerus yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam. Dampak letusan tersebut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan pesisir, tetapi juga merembet luas hingga mengganggu sektor penerbangan komersial.
Sebaran debu dan abu vulkanik di udara memaksa sejumlah pengelola bandara besar harus melakukan penyesuaian operasional darurat. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tercatat sebanyak 764 pergerakan pesawat terdampak akibat erupsi ini, mulai dari pembatalan jadwal, penundaan (delay), hingga pengalihan pendaratan ke bandara alternatif.
Erupsi Menerus Berlangsung Selama 25 Jam
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa episode gempa erupsi menerus pada tubuh Anak Krakatau mulai tercatat secara instrumen sejak akhir pekan lalu.
“Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB,” ujar Siti Sumilah.
Kendati rangkaian episode erupsi menerus tersebut terpantau telah berhenti, pihak PVMBG menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti aktivitas vulkanik gunung api sepenuhnya mereda. PVMBG masih mencatat adanya rangkaian erupsi tipe Strombolian dan hingga kini mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga).
Sebaran Abu Vulkanik Capai DKI Jakarta hingga Ketinggian 50.000 Kaki
Dampak erupsi kian meluas setelah tiupan angin membawa partikel abu vulkanik menempuh jarak jauh ke berbagai wilayah pemukiman.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu terbagi menjadi dua klaster utama:
Klaster Pertama: Bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian besar wilayah DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.
Klaster Kedua: Bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, meliputi wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu.
Bahkan pada lapisan atmosfer tertentu, konsentrasi abu vulkanik terpantau mencapai ketinggian luar biasa hingga sekitar 50.000 kaki. Kondisi berbahaya inilah yang membuat otoritas penerbangan harus mengambil langkah cepat demi menjamin keselamatan navigasi udara.
Ratusan Penerbangan Terdampak dan Imbauan Kewaspadaan
Lonjakan dampak di sektor transportasi udara terlihat sangat signifikan di bandara hub utama nasional. Assistant Deputy Communication & Legal Soekarno-Hatta, Yudistiawan, memaparkan data akumulasi gangguan penerbangan yang terjadi.
“Berdasarkan data penerbangan terbaru, terdapat 764 penerbangan terdampak, akumulasi dari pembatalan penerbangan, keterlambatan penerbangan, pengalihan pendaratan penerbangan ke bandara lain, dan sebagainya,” kata Yudistiawan.
Kasus ini membuktikan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau telah menjelma menjadi isu keselamatan transportasi lintas wilayah yang dirasakan hingga jauh dari pusat erupsi.
Hingga saat ini, PVMBG bersama BMKG, otoritas bandara, dan instansi terkait terus bersinergi melakukan pemantauan intensif selama 24 jam. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mematuhi seluruh informasi resmi pemerintah, serta menjauhi zona bahaya di sekitar perairan Anak Krakatau.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Jakarta.
DETIKREPORTASE.COM — Anak Krakatau Masih Siaga, Abu Vulkanik Ganggu Aktivitas Nasional.





