Karhutla Meluas di Kawasan TNBTS, BPBD Lumajang Catat 3.072 Hektare Lahan Terdampak
LUMAJANG — DETIKREPORTASE.COM | Gunung Semeru kembali menjadi perhatian menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, yang masih terus ditangani hingga Jumat, 4 September 2026.
Kobaran api melanda sejumlah kawasan dengan kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau. Petugas gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari darat, sementara helikopter khusus dioperasikan guna membantu penanganan melalui udara. Berdasarkan data sementara dari BPBD Kabupaten Lumajang per 1 September 2026, total luasan kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran telah mencapai 3.072 hektare, dengan wilayah Ranu Kumbolo dan sekitarnya menjadi salah satu titik terluas yang mencapai 1.887,07 hektare.
Rincian Wilayah Terdampak dan Penjelasan Yudhi Cahyono
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengungkapkan bahwa kebakaran telah merembet ke sejumlah blok penting di kawasan konservasi TNBTS.
Beberapa wilayah yang tercatat terdampak meliputi:
Blok Dingklik, Pacis Bincil, dan Kedaluh
Kawasan Penanjakan dan Argowulan
Area Jembatan Kaca, Bantengan, dan Watangan
Blok Jantur, B29, serta Ledok Tirem Ranupani
Wilayah sekitar Ranu Kumbolo dan sekitarnya
Yudhi menyebutkan bahwa kawasan Ranu Kumbolo memegang proporsi luasan terdampak paling besar, yakni sekitar 1.887,07 hektare. Kondisi topografi yang curam dan berbukit menjadi tantangan tersendiri, sehingga strategi pemadaman harus disesuaikan di setiap titik lokasi.
Muncul Titik Api Baru Dekat Permukiman Menurut Isnugroho
Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengungkapkan adanya kemunculan titik api baru yang terdeteksi sekitar 400 meter dari Pos 1 jalur pendakian Gunung Semeru. Lokasi tersebut diperkirakan hanya berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga di Desa Ranupane.
“Petugas kami menemukan titik api baru 400 meter dari Pos 1. Perkiraan sekitar satu kilometer dari permukiman warga,” ujar Isnugroho.
Ia menjelaskan bahwa saat laporan tersebut dirilis, kepulan asap belum berdampak langsung ke area permukiman warga karena arah angin cenderung bergerak menuju kawasan Kumbolo. Kendati demikian, pihak BPBD mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat arah angin di pegunungan dapat berubah sewaktu-waktu.
Pengerahan 35.000 Liter Air Lewat Water Bombing dan Penanganan Darat
Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu melalui jalur darat dan udara. Pada Kamis, 3 September 2026, helikopter pemadam melakukan sekitar 35 kali sorti water bombing dengan total menjatuhkan kurang lebih 35.000 liter air ke titik-titik api utama.
Sementara itu, petugas di jalur darat berkejaran dengan waktu menggunakan peralatan manual seperti gepyok, jet shooter, dan mesin blower untuk mengendalikan api di area yang memungkinkan dijangkau. Namun, upaya pemadaman lewat udara kerap menghadapi kendala cuaca berupa kabut tebal dan tiupan angin kencang di kawasan pegunungan.
Penutupan jalur pendakian pun diberlakukan demi mengutamakan keselamatan publik, yang secara langsung berdampak pada sektor pariwisata lokal dan masyarakat yang bergantung pada aktivitas wisata. Pemerintah mengimbau warga agar tetap tenang, mematuhi arahan petugas di lapangan, serta tidak menyebarkan informasi atau berita yang belum terverifikasi agar tidak memicu keresahan.
✍️ Penulis : Tim Redaksi | Editor : Redaksi | Lumajang – Jawa Timur.
DETIKREPORTASE.COM — Ketika Alam Terluka, Fakta Harus Bicara.





