Nelayan Sungai Tengar menjerit Minta Pengawasan Laut Diperketat Usai Rumpon Banyak Hilang kapal Tradisional masuk
Ketapang, Detik Reportase com Kalbar —Diduga Nelayan tradisional di Sungai Tengar, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, mengaku semakin tercekik akibat maraknya aktivitas kapal penangkap ikan berukuran besar yang diduga menggunakan pukat harimau di wilayah tangkap mereka.
Sejak awal Mei 2026, sekitar 10 kapal besar dari luar daerah diduga bebas beroperasi di perairan wilayah tangkap tradisional Pulau Sawi. Kapal-kapal tersebut disebut-sebut berasal dari Cirebon, Indramayu, hingga Jakarta.
Akibat aktivitas kapal besar itu, puluhan rumpon milik nelayan tradisional dilaporkan hilang dan rusak. Padahal, rumpon merupakan alat bantu utama bagi nelayan kecil untuk mengumpulkan ikan di laut.
“Rumpon kami banyak yang hilang. Diduga tersapu kapal-kapal besar itu saat beroperasi,” ungkap salah seorang nelayan.
Kerugian yang dialami nelayan disebut tidak kecil. Selain biaya pembuatan rumpon yang mencapai jutaan rupiah, hilangnya rumpon juga membuat nelayan kehilangan titik pencarian ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
Saidul, salah satu nelayan Sungai Tengar, mengaku kondisi tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat pesisir.
“Semalam punya rekan nya (Rano) hilang lima titik rumpon. Kalau punya saya sudah tidak terhitung lagi hilangnya,” ujar Saidul dengan nada kecewa.
Saidul juga mengungkapkan bahwa persoalan tersebut telah ia komunikasikan kepada Hasyim, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Ketapang, dengan harapan ada tindak lanjut dan perhatian serius terhadap keresahan nelayan tradisional di Kendawangan.
Menurut para nelayan, keberadaan kapal-kapal besar tersebut bukan hanya merusak alat tangkap tradisional, tetapi juga dianggap mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat nelayan kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut.
Mereka mempertanyakan lemahnya pengawasan di laut, sebab kapal-kapal besar diduga masih leluasa masuk dan beroperasi di wilayah tangkap nelayan tradisional tanpa adanya tindakan tegas dari pihak terkait.
“Kami nelayan kecil hanya mencari makan di laut. Kalau rumpon terus hilang begini, kami mau hidup bagaimana?” keluh nelayan lainnya.
Masyarakat nelayan Sungai Tengar kini mendesak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ketapang serta aparat terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan pemeriksaan dan penertiban terhadap kapal-kapal yang diduga menggunakan pukat harimau tersebut.
Nelayan juga meminta pemerintah tidak tinggal diam terhadap persoalan yang mereka hadapi, karena kerusakan rumpon dan berkurangnya hasil tangkapan dinilai sudah sangat merugikan masyarakat pesisir.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ketapang belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan para nelayan tersebut.
Reporter Slamet
Detik Reportase com kalbar





