Transformasi Sistem Pengelolaan Sampah di Pekanbaru
PEKANBARU | DETIKREPORTASE.COM – Pemerintah Kota Pekanbaru mencetak terobosan besar dalam pengelolaan sampah kota melalui penataan **Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar** yang berada di Kecamatan Rumbai Barat. Program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berhasil **menghemat sekitar Rp12 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)** melalui modernisasi sistem pengelolaan sampah menjadi sumber energi listrik yang lebih ramah lingkungan. 1
Wali Kota Pekanbaru H. Agung Nugroho SE MM meninjau langsung progres penataan TPA Muara Fajar pada awal tahun ini. Ia menekankan bahwa visi pemerintah kota bukan sekadar menangani persoalan sampah hari ini, tetapi merancang sistem yang berkelanjutan hingga 10–20 tahun ke depan agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
“Saya ingin setiap kebijakan yang diambil bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini tetapi juga untuk 10 sampai 20 tahun ke depan,” ujar Agung ketika meninjau lokasi bersama jajaran teknis.
Sampah jadi Energi Listrik: Target Ini Fakta Baru di TPA Muara Fajar
Dalam kunjungannya, Wali Kota Agung melihat langsung progress kerja sama Pemko Pekanbaru dengan **PT Indonesia Clean Energy (ICE)** dalam mengubah TPA Muara Fajar dari model pengelolaan sampah tradisional ke sistem **controlling landfill** yang memungkinkan pengambilan gas metana untuk sumber energi. Sistem ini bertujuan untuk memproduksi listrik secara berkelanjutan dari emisi gas metana yang dihasilkan oleh sampah organik di dalam TPA.
Langkah ini sejalan dengan strategi nasional dalam mempercepat pengembangan waste-to-energy sebagai bagian dari solusi penanganan sampah yang ramah lingkungan. Konsep pengelolaan sampah menjadi energi kini juga didorong pemerintah pusat melalui Rencana Aksi Nasional dan target penggunaan teknologi pengolahan sampah modern di beberapa kota besar Indonesia.
Proyek tersebut telah memasuki tahap awal pengelolaan, termasuk penutupan lapisan sampah dengan tanah dan membran agar gas metana dapat diambil secara lebih efisien dan aman bagi lingkungan. Selanjutnya, gas metana akan disalurkan ke pembangkit listrik sehingga sampah tidak hanya menjadi “masalah”, tetapi juga sumber energi baru yang bermanfaat.
Efisiensi Anggaran dan Dampaknya ke Masyarakat
Menurut data internal pemerintah kota, modernisasi sistem pengelolaan sampah di TPA Muara Fajar telah berhasil **menghemat sekitar Rp12 miliar bagi APBD Pekanbaru**. Dana tersebut sebelumnya digunakan untuk biaya operasional pembuangan sampah tradisional, termasuk transportasi, perawatan alat berat, dan penanganan limbah.
Dengan penggunaan teknologi controlling landfill dan pemanfaatan gas metana sebagai energi listrik, biaya operasional bisa ditekan secara signifikan. Wali kota menjelaskan bahwa dana yang sebelumnya tersedot untuk urusan TPA dapat dialihkan untuk kebutuhan masyarakat yang lebih mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan sosial.
Langkah ini juga memperlihatkan bukti nyata bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mampu menyehatkan keuangan daerah. Pemerintah kota Pekanbaru pun berharap bahwa efisiensi ini akan terus meningkat seiring berjalannya waktu dan hingga sistem energi sampah benar-benar stabil.
Peran Lingkungan dan Komunitas dalam Strategi Jangka Panjang
Program modernisasi TPA Muara Fajar juga mendapatkan sorotan dari para ahli lingkungan. Menurut penelitian terbaru, integrasi sistem pengelolaan sampah yang baik dapat meningkatkan kualitas lingkungan secara signifikan, terutama jika ada **pengurangan open dumping**—metode pembuangan sampah tanpa pengolahan yang banyak ditemukan di banyak daerah.
Studi akademis juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang kurang terintegrasi berpotensi mencemari air tanah dan udara, serta berdampak pada kesehatan publik. Di sisi lain, penggunaan teknologi seperti controlling landfill memberi peluang untuk mengurangi gas rumah kaca sekaligus memanfaatkan limbah sebagai sumber energi.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa potensi integrasi sistem pengelolaan sampah di perkampungan dan di area TPA, termasuk melibatkukan para pemulung dalam sistem formal, dapat meningkatkan tingkat daur ulang dan kesejahteraan mereka sendiri.
Pemerintah kota pun merencanakan penyusunan roadmap pengelolaan sampah yang lebih komprehensif, termasuk upaya pemilahan di sumbernya, edukasi masyarakat, dan investasi pada teknologi ramah lingkungan. Ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern dan energi terbarukan di berbagai wilayah Indonesia.
Masa Depan TPA Muara Fajar: Dari Tempat Sampah ke Pusat Kehijauan
Melihat ke depan, Agung berharap bahwa TPA Muara Fajar tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi bisa berkembang menjadi **sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan**. Salah satu gagasan yang tengah dipersiapkan adalah **pengembangan area pembibitan pohon dan ruang terbuka hijau** di sekitar area TPA setelah fase pengolahan sampah berakhir nantinya.
“Kedepannya TPA Muara Fajar akan ditata kembali menjadi lokasi pembibitan pohon, dari yang dulunya tempat sampah menjadi sumber penghijauan untuk Pekanbaru,” ungkap Agung Nugroho.
Visi ini mencerminkan semangat baru dalam pengelolaan lingkungan urban, yakni mengubah tantangan menjadi peluang. Dengan transformasi tersebut, bukan tidak mungkin Pekanbaru akan menjadi contoh kota yang sukses menghubungkan pengelolaan sampah dengan energi terbarukan dan ruang hijau publik—model yang sedang digagas di beberapa negara maju sebagai bagian dari strategi kota berkelanjutan.
✍️ Tim | detikreportase.com | Pekanbaru – Riau
DETIKREPORTASE.COM : Sampah Bersih, Anggaran Efisien, Kota Berkelanjutan





