AcehBerita

Aksi Cepat dan Tulus: Ketua Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi Buka Dapur Umum untuk Korban Banjir Aceh Utara

517
×

Aksi Cepat dan Tulus: Ketua Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi Buka Dapur Umum untuk Korban Banjir Aceh Utara

Sebarkan artikel ini

Gerak Cepat Menyambut Darurat Banjir

ACEH UTARA | DETIKREPORTASE.COM – Di tengah kondisi darurat banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi menunjukkan kepedulian nyata melalui aksi cepat membuka dapur umum selama tiga hari tiga malam bagi warga terdampak. Banjir yang terjadi pada Rabu siang, 26 November, akibat curah hujan tinggi dan luapan sungai, membuat ribuan warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.Aksi kemanusiaan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi, Cut Nurlaila, didampingi Sekretaris Faisal ST serta jajaran pengurus dan relawan yayasan. Sejak Kamis, dapur umum mulai beroperasi dan terus berjalan hingga Sabtu, sebagai bentuk respons cepat terhadap kebutuhan mendesak masyarakat pengungsi, khususnya pangan siap saji.

Kehadiran dapur umum ini menjadi titik harapan di tengah keterbatasan akses bantuan akibat terputusnya sejumlah jalur distribusi. Masyarakat yang terdampak banjir, terutama lansia, anak-anak, dan perempuan, menerima makanan hangat secara langsung dari relawan di lokasi.

Kolaborasi Sosial Berbasis Kemanusiaan

Pembukaan dapur umum terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak. Salah satu kontribusi penting datang dari suplayer SPPG Dapur Paya Berandang. Melalui Tngk. Hafiz Almasury, dukungan berupa paket sembako disalurkan secara sukarela untuk digunakan sebagai bahan utama dapur umum.Bantuan tersebut dimasak dan didistribusikan langsung kepada warga terdampak banjir di sejumlah titik pengungsian. Yayasan memastikan bahwa makanan yang disajikan memenuhi kebutuhan dasar gizi serta disiapkan secara higienis meskipun dalam kondisi darurat.

Ketua Yayasan Cut Nurlaila bersama Sekretaris Faisal ST tak hanya hadir secara simbolis. Mereka turut terjun langsung membantu aktivitas dapur, mulai dari persiapan bahan, memasak, hingga pengemasan makanan. Tim dapur umum juga diperkuat oleh Chef Muhammed Gade selaku juru masak dari yayasan, yang memastikan makanan siap santap tersedia tepat waktu dan sesuai kebutuhan lapangan.

Selain itu, sejumlah relawan dari SPPG Paya Berandang, di antaranya Tngk. Mahyatul Nufus, A.K., dan A.G., ikut membantu pendistribusian makanan ke warga pengungsi. Kebersamaan ini memperlihatkan kuatnya solidaritas masyarakat sipil dalam merespons bencana alam.

Gerakan Tulus Tanpa Pamrih

Dalam keterangannya kepada media, Ketua Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi, Cut Nurlaila, menegaskan bahwa aksi dapur umum ini murni didorong oleh rasa kemanusiaan. Tidak ada motif lain selain keinginan membantu sesama yang tengah dilanda musibah.“Kami tergerak oleh nurani melihat penderitaan saudara-saudara kita di Aceh Utara. Ini bukan tentang pamrih atau publikasi, tetapi panggilan kemanusiaan,” ujar Cut Nurlaila.

Ia berharap kehadiran dapur umum selama tiga hari tiga malam tersebut dapat sedikit meringankan beban warga pengungsi yang kehilangan akses terhadap makanan dan kebutuhan pokok akibat banjir. Menurutnya, di saat bencana, kecepatan dan ketulusan merupakan dua hal terpenting yang harus dimiliki setiap pihak yang ingin membantu.

Yayasan juga membuka ruang bagi siapa pun yang ingin bergabung dan berkontribusi, baik dalam bentuk logistik, tenaga relawan, maupun dukungan moral bagi warga terdampak.

Dampak Banjir dan Harapan Solidaritas

Banjir besar yang melanda Aceh Utara berdampak luas pada berbagai wilayah. Berdasarkan data sementara, ribuan warga terpaksa mengungsi dan tersebar di sekitar 35 titik pengungsian yang tersebar di beberapa kecamatan. Kondisi ini diperparah dengan kerusakan infrastruktur, mulai dari rumah warga yang rusak berat, sedang, hingga ringan, hingga ribuan hektar sawah dan tambak yang terendam air.Sejumlah jembatan dan tanggul sungai dilaporkan runtuh, menyebabkan akses distribusi bantuan dan logistik menjadi terhambat. Situasi tersebut menuntut peran aktif berbagai elemen masyarakat untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi.

Hadirnya dapur umum dari Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi, yang didukung SPPG Dapur Paya Berandang serta para relawan, menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi masyarakat sipil mampu menjawab kebutuhan mendesak di tengah bencana. Aksi ini tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga menghadirkan harapan, empati, dan semangat gotong royong bagi warga Aceh Utara yang tengah berjuang bangkit dari musibah.

Yayasan berharap gerakan ini dapat menginspirasi pelaku usaha, komunitas sosial, dan masyarakat luas untuk ikut ambil bagian membantu para korban banjir. Di tengah keterbatasan, solidaritas dan kepedulian menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana bersama.

✍️ Tim | detikreportase.com | Aceh Utara – Aceh
DETIKREPORTASE.COM : Solidaritas Kemanusiaan untuk Negeri Tangguh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250